Erani : Menulis Berbeda Dengan Mengetik

KANAL24 -2020-07-21, 14:00:00 WIB 268 kali

Erani Yustika memberikan materi proses menulis daring Pusbindiklatren Bappenas (mega kanal24)

KANAL24, Malang - Menulis bukanlah kerja teknis, melainkan proses akumulasi pengetahuan. Disampaikan oleh Prof. Ahmad Erani Yustika saat menjadi narasumber dalam serial seminar daring Pusbindiklatren (Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Perencana) Bappenas dengan tajuk Penulisan Karya Ilmiah dan Sharing Publikasi, selasa (21/7/2020). 

Erani mengatakan, menulis adalah aktifitas hilir yang hasilnya akan bagus kalau di level hulu telah berhasil mengerjakan proses akumulasi pengetahuan. Akumulasi pengetahuan ini dapat diperoleh bukan hanya melalui tulisan (membaca) saja tetapi bisa juga dalam bentuk forum diskusi, seminar, lokakarya, FGD dan lainnya.

“Menulis berbeda dengan mengetik, kalau mengetik tidak perlu mengakumulasi pengetahuan tetapi murni hanya pekerjaan teknis saja. Tapi kalau menulis, jelas ada proses akumulasi pengetahuan dan oleh sebab itu ketika kita menulis jangan lupa bahwa proses terpenting justru membaca. Kebiasaan membaca adalah tradisi yang wajib dijaga ketika kita ingin menjadi seorang penulis, karena sumber terpenting stok pengetahuan itu adalah membaca,” kata Ketua Ikatan Alumni Universitas Brawijaya (IKA UB) itu.

Lanjutnya, tulisan yang bagus juga harus sistematis. Sistematika itu dibantu dengan kerangka-kerangka penulisan/outline. Bagi penulis pemula cukup penting untuk membuat kerangka penulisan setiap topik yang hendak dieksplorasi baik dalam bentuk tulisan, artikel, paper, dst. Dalam membuat kerangka penulisan tidak perlu banyak, misalnya dalam 1 artikel cukup 2-3 kerangka.

Di proses pembuatan kerangka penulisan, usahakan memilih sudut pandang yang tidak lazim. Mencari keunikan yang belum ditulis oleh orang lain (otentik) dapat memancing ketertarikan publik untuk membaca. Berikutnya, masing-masing sub-topik diberi poin-poin yang hendak dieksplorasi dan dalam mengeksplorasi haruslah didukung dengan referensi, data, dan informasi. 

Masuk ke proses menulis, penulis produktif buku dan artikel ilmiah populer itu menyarankan karena judul adalah jendela pertama untuk menggoda orang agar membaca, oleh karena itu penulis harus membuat judul yang menarik dan tidak jadul. Selain itu, untuk memastikan pembaca membaca dari kalimat pertama sampai ujung tulisan, penulisan kalimat pertama (lead) harus dimulai dengan kalimat yang kuat, seperti kalimat yang otoritatif (kata-kata yang puitik, humor, kisah menarik, kutipan orang terkenal, dll). Fokus menulis berdasarkan kerangka penulisan dan usahakan menulis dalam kalimat yang pendek tetapi tetap memenuhi falsafah SPOK, agar orang lain mudah memahami.

Selanjutnya di proses penyuntingan, bagi penulis pemula kegiatan ini sangat penting. Ada 2 jenis penyuntingan, penyuntingan substantif dan penyuntingan teknis. Penyuntingan substantif meliputi cek validitas argumen, referensi, dan data. Dalam hal ini, usahakan untuk memakai rujukan dan data terbaru. Lalu, gunakan hanya satu ide pada tiap paragraf dengan 3-7 kalimat untuk artikel ilmiah populer. 

Sedangkan di proses penyuntingan teknis, pilihlah kalimat yang padat dan bernas, gunakan diksi yang variatif agar pembaca dapat merasakan proses yang asik dari kegiatan membaca. Kemudian, betulkan ejaan dan kesalahan ketik dan tambahkan atau selipkan kata kunci pada masing-masing alinea. Kemudian, buat kalimat penutup yang bertaji agar ketika sebelumnya pembaca telah terpikat dengan kalimat pembuka, maka di kalimat penutup harus mencapai puncaknya. 

“Ada beberapa hal lain yang juga harus diperhatikan yaitu usahakan jangan membuat kalimat yang semua orang sudah tahu. Jangan sampai mengutip tanpa menyebutkan sumber rujukan, menulis tanpa kaidah SPOK, memakai istilah yang rumit atau istilah yang kompleks. Kalau kita menggunakan istilah yang kompleks kemudian pembaca tidak memahami, tujuan kita gagal. Jadi, penulis yang baik adalah penulis yang selalu bisa menyederhanakan persoalan melalui istilah yang sederhana. Terakhir, gunakan diksi dalam bahasa Indonesia, ini penting karena kita harus disiplin menggunakan Bahasa Indonesia agar pembaca lebih mudah memahami apa yang kita tulis,” pungkas Guru Besar termuda Universitas Brawijaya tersebut. (meg)

kanal24.co.id Bappenas Ahmad Erani Yustika Pusbindiklatren Teknik Menulis