UB Kukuhkan Profesor Rekayasa Sistem dan Kecerdasan Buatan

KANAL24 -2020-07-22, 11:00:00 WIB 234 kali

Prof. Hadi Suyono Guru Besar Bidang Rekayasa Sistem dan Kecerdasan Buatan (Mega KANAL24)

KANAL24, Malang - Pentingnya implementasi dan pengembangan injeksi dan integrasi pembangkit energi baru dan terbarukan (EBT) ke dalam sistem tenaga listrik untuk mengurangi penggunaan pembangkit fosil yang memberikan dampak negatif ke lingkungan, membawa laki-laki kelahiran Pamekasan ini meraih gelar Profesor Bidang Ilmu Rekayasa Sistem Daya dan Kecerdasan Buatan Universitas Brawijaya. Ia adalah Prof. Ir. Hadi Suyono, S.T., M.T., Ph.D., IPU yang menjadi profesor aktif ke-15 Fakultas Teknik dan profesor aktif ke-187 di UB. 


Pada prosesi pengukuhannya sebagai Profesor, rabu (22/7/2020), Hadi menyampaikan pidato pengukuhan bertajuk Strategi Percepatan Integrasi Pembangkit Energi Baru dan Terbarukan pada Sistem Tenaga Listrik di Indonesia. 


Menurutnya, kebutuhan akan energi listrik baik di dunia global dan di Indonesia pada setiap tahunnya mengalami peningkatan seiring peningkatan dan perbaikan ekonomi global. Secara global, konsumsi energi listrik dunia pada tahun 2018 meningkat sekitar 3.5 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dengan kenaikan rata-rata per tahun 3.1 persen sejak tahun 2000.


Peningkatan konsumsi energi listrik juga terjadi di Indonesia. Pada akhir tahun 2018 terjadi peningkatan sebesar 5.1 persen dibandingkan dengan tahun 2017, dengan peningkatan rata-rata per tahun sebesar 6.2 persen sejak tahun 2000.


Namun demikian, sumber energi listrik terbesar masih disuplai oleh pembangkit dengan bahan bakar fosil yaitu batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Penggunaan bahan bakar fosil ini telah memberikan dampak lingkungan dengan adanya pencemaran udara, air, dan dihasilkannya berbagai gas emisi yang menyebabkan gas emisi rumah kaca (global warming).


“Untuk mengurangi kelangkaan bahan bakar fosil yang ketersediannya mulai berkurang, dan untuk mengurangi pencemaran lingkungan, maka pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) perlu diimplementasikan dan dikembangkan.


Pembangkit EBT dengan sumber matahari dan angin memberikan emisi CO2 yang paling rendah dibandingkan dengan teknologi pembangkit lainnya. Dengan diimplementasikannya pembangkit listrik berbasis EBT, maka kualitas udara dan lingkungan akan semakin baik,” kata Ketua Jurusan Elektro FT UB itu.


Lebih lanjut, ketersediaan teknologi dan pembangkit EBT juga akan memberikan jaminan peningkatan ketersediaan pekerjaan dan manfaat ekonomi lainnya. Dibandingkan dengan teknologi bahan bakar fosil, yang biasanya mekanis dan padat modal, industri energi terbarukan lebih padat karya. Panel surya membutuhkan tenaga kerja untuk instalasinya, wind farm membutuhkan teknisi untuk pemeliharaan. Ini berarti bahwa secara rata-rata, lebih banyak pekerjaan yang dapat diciptakan untuk setiap unit listrik yang dihasilkan dari sumber terbarukan dibandingkan dari bahan bakar fosil.


Indonesia dengan kondisi geografisnya mempunyai potensi pembangkit EBT yang sangat besar dan masih belum banyak diekploitasi dan dikembangkan. Karena itu masih perlu banyak usaha dan kesempatan untuk implementasi EBT pada sistem kelistrikan di Indonesia, yang mempunyai banyak keuntungan seperti ramah lingkungan dan ketersedian sumber primernya sangat banyak dan tak terbatas. Untuk itu, Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral masih perlu untuk melakukan akselerasi untuk merealisasikan 23 persen bauran energi pada tahun 2025 dan 31 persen pada tahun 2050.


Perlu adanya strategi akselerasi implementasi pembangkit EBT untuk mencapai target yang telah dibuat di antaranya dengan penguatan dan implementasi regulasi yang telah pemerintah buat,  pengembangan sistem pembangkit hibrida pada sistem yang yang telah ada yang biasanya menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), implementasi dan pengembangan injeksi pembangkit EBT pada sistem distribusi (distributed generation) yang secara kapasitas kecil dan dapat secara massif dikembangkan, dan meningkatkan integrasi hybrid pembangkit listrik tenaga surya dan angin.

“Sistem pembangkit EBT lainnya seperti biomassa, energi laut, dan yang lainnya mempunyai karakteristik yang berbeda. Demikian juga dengan implementasi operasi ekonomis dengan unit commitment dan economic dispatch dari pembangkit EBT yang intermittent dan pembangkit termal, dengan beban berubah-ubah perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk menggabungkan forecasting EBT dan beban sehingga didapatkan algoritma yang efisien dan robust,” tutupnya. (meg)

kanal24.co.id FT UB profesor ub UB Profesor Kecerdasan Buatan Hadi Suyono