Kanal24, Malang – Mencium bau yang sebenarnya tidak ada mungkin terdengar seperti hal sepele atau bahkan dianggap sebagai halusinasi. Namun, menurut para ahli neurologi, kondisi ini bisa menjadi salah satu gejala awal epilepsi, gangguan saraf kronis yang ditandai dengan kejang berulang tanpa pemicu jelas.
“Kejang dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kehilangan kesadaran, gerakan tidak terkendali, tatapan kosong, hingga gemetar hebat di seluruh tubuh,” ujar dr. Irene Halim Subrata, Sp.N, dokter spesialis neurologi dari RS EMC Cikarang dan Pekayon, saat dikutip dari laman resmi EMC pada Rabu (17/9/2025).
Baca juga:
Cara Kendalikan Cemas di Situasi Sulit, Bagaimana?
Gejala Epilepsi Tak Selalu Kejang Hebat
Epilepsi sering kali diasosiasikan dengan kejang hebat, tetapi nyatanya gejala kondisi ini sangat beragam, tergantung dari jenis kejang dan bagian otak yang terpengaruh. Beberapa tanda umum epilepsi antara lain:
- Kejang tiba-tiba, dengan atau tanpa hilangnya kesadaran
- Tatapan kosong selama beberapa detik
- Gerakan otot tak terkendali (terutama pada tangan dan kaki)
- Kebingungan setelah kejang
- Kehilangan kesadaran mendadak
- Sensasi aneh, seperti mencium bau yang tidak ada atau rasa takut tanpa sebab
“Jika seseorang mengalami kejang lebih dari satu kali tanpa pemicu yang jelas, penting untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf,” tegas dr. Irene.
Banyak Penyebab, Tapi Bisa Dikendalikan
Penyebab epilepsi sangat beragam, mulai dari:
- Cedera kepala
- Infeksi pada sistem saraf pusat
- Kelainan genetik atau struktur otak
- Tumor otak
- Stroke
- Dan bahkan bisa tidak diketahui penyebabnya (idiopatik)
Meski terdengar mengkhawatirkan, epilepsi bukan penyakit menular, dan dalam banyak kasus bisa dikendalikan dengan pengobatan rutin.
Diagnosis dan Penanganan Epilepsi
Penanganan epilepsi bertujuan untuk mengontrol kejang, meningkatkan kualitas hidup pasien, dan mengurangi risiko komplikasi. Diagnosis epilepsi biasanya dilakukan melalui:
- Elektroensefalografi (EEG) untuk memantau aktivitas listrik otak
- MRI atau CT Scan untuk melihat struktur otak
Setelah diagnosis ditegakkan, dokter akan meresepkan obat antikejang (antiepilepsi) yang disesuaikan dengan kondisi pasien. Jika pengobatan dengan obat tidak cukup efektif, opsi lain seperti diet ketogenik, terapi, atau bahkan operasi saraf bisa dipertimbangkan. “Sebagian besar pasien epilepsi bisa hidup normal, asal minum obat secara rutin dan mengikuti anjuran medis,” kata dr. Irene.
Hapus Stigma: Epilepsi Bukan Kutukan
Sayangnya, stigma sosial masih melekat pada penderita epilepsi di masyarakat. Banyak yang menganggap epilepsi sebagai kutukan, gangguan mental, atau penyakit menular. Hal ini membuat tidak sedikit pengidap enggan mencari bantuan medis, bahkan menyembunyikan kondisinya. “Dengan edukasi yang tepat, kita bisa mengubah pandangan ini. Epilepsi bukan kutukan, bukan gangguan kejiwaan, dan bukan akhir dari segalanya,” tegas Irene.
Segera Periksa Jika Alami Gejala
Dr. Irene menegaskan pentingnya deteksi dini dan konsultasi medis ketika seseorang mengalami gejala seperti kejang berulang, sensasi aneh, atau perubahan perilaku yang tidak biasa.“Epilepsi bisa dikendalikan. Hidup berkualitas tetap bisa diraih. Jangan ragu untuk mencari pertolongan,” tutupnya. RS EMC Cikarang dan Pekayon membuka layanan konsultasi neurologi bagi masyarakat yang ingin memeriksakan diri lebih lanjut terkait gejala epilepsi. Deteksi dan penanganan dini dapat mencegah kondisi menjadi lebih parah. (dht)














