Kanal24, Malang – Upaya menciptakan lingkungan belajar yang ramah bagi semua anak, termasuk mereka yang hidup dengan disabilitas, kini menemukan bentuk baru yang kreatif dan menyenangkan. Departemen Psikologi Universitas Brawijaya (UB) tengah mengembangkan sebuah board game edukatif bernama “Inclusive Journey”, yang dirancang sebagai media pembelajaran berbasis game-based learning untuk menumbuhkan kesadaran siswa sekolah dasar dalam mencegah perundungan terhadap teman disabilitas.
Fenomena perundungan di sekolah dasar masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Tidak jarang, anak dengan kebutuhan khusus menjadi sasaran ejekan atau pengucilan karena perbedaan kemampuan fisik maupun cara berinteraksi. Kondisi ini mendorong kalangan akademisi untuk mencari pendekatan baru dalam menanamkan empati dan nilai keberagaman sejak dini — salah satunya lewat permainan edukatif yang dikembangkan oleh tim dosen Psikologi UB.
“Board game ini kami rancang agar anak-anak bisa belajar memahami peran penting sebagai peer bystander,” ujar Ridwan Aji Budi Prasetyo, S.Psi., M.Sc., Ph.D., ketua tim pengabdian kepada masyarakat, Selasa (10/9/2025).
“Melalui alur permainan, nantinya mereka diajak mengenali bentuk perundungan dan memilih sikap yang tepat, sehingga mampu menumbuhkan empati, kepedulian, dan keberanian.”
Simulasi Empati dalam Dunia Permainan
“Inclusive Journey” mengusung konsep permainan interaktif yang menggabungkan unsur keseruan dan pembelajaran sosial. Dalam permainan ini, siswa akan bergerak di papan permainan dengan melempar dadu, lalu berhenti di petak tertentu yang berisi pertanyaan, tantangan, atau simulasi sederhana. Setiap pertanyaan menggambarkan situasi nyata yang mungkin terjadi di sekolah, seperti ketika melihat teman diejek karena disabilitas atau saat membantu teman yang kesulitan mengikuti kegiatan olahraga.
Jawaban dan pilihan sikap pemain akan menentukan langkah permainan mereka. Anak-anak yang menunjukkan empati dan keberanian akan memperoleh token empati berupa kertas lingkaran hijau sebagai poin kemenangan. Pendekatan ini membuat proses belajar terasa ringan namun berdampak kuat pada pembentukan karakter.
“Seru sekali, apalagi bisa mengumpulkan kertas lingkaran hijau supaya jadi pemenang,” ungkap AZK, salah satu siswa yang mencoba permainan ini. Sementara itu, MHR menambahkan, “Aku suka tantangan yang harus ditutup mata terus membuka pintu. Rasanya deg-degan, tapi seru banget karena baru pertama kali main permainan seperti ini.”
Menurut Ridwan, proses pengembangan Inclusive Journey telah melalui tahapan panjang, mulai dari penyusunan konsep, uji coba awal di sekolah mitra, hingga tahap finalisasi desain dan perbaikan konten. “Kami berupaya menjaga keseimbangan antara aspek edukatif dan keseruan bermain, supaya anak-anak tetap terlibat aktif tanpa merasa digurui,” jelasnya.

Langkah Konkret Mewujudkan Sekolah Inklusif
Selain sebagai permainan, Inclusive Journey diproyeksikan menjadi sarana pembelajaran berkelanjutan yang bisa digunakan dalam kegiatan ekstrakurikuler atau program anti-bullying di sekolah-sekolah inklusi. Tim pengabdian UB berharap produk ini dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan karakter untuk mendukung gerakan nasional Sekolah Ramah Anak.
“Produk ini tidak berhenti sebagai permainan semata, tetapi menjadi sarana pembelajaran yang bisa digunakan secara berkelanjutan di sekolah-sekolah. Harapannya, Inclusive Journey bisa menjadi bagian dari upaya nyata menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan ramah bagi semua anak,” tambah Ridwan.
Lebih jauh, tim pengabdian Psikologi UB juga membuka peluang kolaborasi dengan dinas pendidikan serta sekolah mitra di Kota Malang untuk memperluas jangkauan penerapan board game ini. Ke depan, mereka berencana mengembangkan versi digital agar dapat diakses lebih luas oleh sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.
Dengan pendekatan yang inovatif, Inclusive Journey bukan hanya mengajarkan anak-anak tentang arti empati dan keberanian, tetapi juga memperkuat kesadaran sosial bahwa setiap anak — dengan segala perbedaannya — berhak untuk diterima dan dihargai. Program ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan inklusif dapat dimulai dari hal sederhana: sebuah permainan yang membuka hati dan pikiran sejak usia dini.(din)














