Kanal24, Malang – Musik sering dianggap sekadar hiburan, padahal ia menyimpan potensi lebih jauh: menjadi terapi pengurang rasa sakit. Di berbagai belahan dunia, terapi musik mulai digunakan untuk membantu pasien melewati nyeri kronis, menekan kecemasan, hingga memperbaiki kualitas hidup. Meski bukan obat utama, musik terbukti mampu memberi dampak positif yang signifikan.
Salah satu kisah datang dari Shirley Livingston, seorang nenek yang menjalani perawatan arthritis lutut di Euclid Cleveland Clinic, Ohio, pada Januari 2015. Setiap hari, seorang terapis musik meniupkan seruling di ruang rawatnya selama 30 menit. Hasilnya, Livingston merasa lebih tenang dan yakin musik berperan besar meredakan rasa sakitnya. āTidak ada keraguan dalam pikiran saya,ā ujarnya, dikutip Everyday Health.
Baca juga:
Film Tak Kenal Maka Taaruf Sapa Mahasiswa UIN Malang

Penelitian mendukung pengalaman Livingston. Clinical Rheumatology (2012) merilis studi tentang pasien osteoartritis lutut. Responden dibagi dalam dua kelompok: satu mendengarkan musik, satu lagi tidak. Hasilnya, kelompok yang mendapat terapi musik melaporkan kecemasan dan rasa sakit lebih rendah. Osteoartritis sendiri merupakan penyakit degeneratif akibat trauma, infeksi, atau cedera yang menimbulkan nyeri di lutut. Don Knox, dosen audio senior Glasgow Caledonian University, menegaskan manfaat musik: mengurangi kecemasan, depresi, nyeri, tekanan darah, hingga membantu anak-anak melewati prosedur medis. āMusik memberi efek positif terhadap rasa sakit, persepsi, dan meningkatkan perasaan kontrol pasien,ā katanya.
Manfaat serupa juga ditemukan Peter Vuust dari Aarhus University, Denmark. Ia meneliti pasien fibromyalgia, penyakit kronis yang menimbulkan nyeri otot dan sendi. Ketika diminta mendengarkan musik favorit, para pasien melaporkan rasa sakit berkurang. āJika musik dapat membantu menurunkan dosis obat nyeri, itu fantastis,ā kata Peter.
Lisa Gallagher, terapis musik di Cleveland Clinic, Ohio, menyebut terapi musik bisa membantu pasien pasca operasi maupun penderita arthritis. Menurutnya, sesi terapi dilakukan dengan dua cara: pasien diajak memainkan instrumen sederhana atau mendengarkan musik pilihan. Tujuannya agar emosi terproses lewat nada dan irama. āSemakin sering terapi dilakukan, semakin besar peluang sembuh. Sama seperti belajar alat musik, semakin rutin, semakin baik,ā ujarnya. Durasi terapi pun bervariasi, mulai dari lima menit hingga 90 menit, dengan biaya rata-rata 55 dolar AS (sekitar Rp726 ribu). Menurut American Music Therapy Association, beberapa asuransi kesehatan di Amerika bahkan menanggung terapi musik, asalkan direkomendasikan dokter.
Di Indonesia, terapi musik mulai diperkenalkan sejak 2007 lewat program peminatan di jurusan Seni Musik Universitas Pelita Harapan (UPH). Pada 2015, UPH membuka klinik terapi musik untuk masyarakat umum di Karawaci. Program ini menggabungkan ilmu musik, psikologi, anatomi, fisiologi, dan neurologi, untuk memahami dampak musik pada tubuh dan mental manusia. Selain UPH, sejumlah rumah sakit dan klinik juga menyediakan terapi musik, seperti Pro Kids Clinic dan Siloam Hospital (Tangerang), Tirtayu Healing Centre (Jakarta), RSIA Kemang, Rumah Sakit Bunda, hingga RS Hasan Sadikin Bandung.
Profesor Tjut Nyak Deviana Daudsjah, pendiri Institut Musik Daya Indonesia (IMDI), menyebut terapi musik membantu penyembuhan stroke, jantung, gangguan neurologis, epilepsi, depresi, hingga rematik. āTerapi musik tak hanya menyentuh fisik, tapi juga mental, emosional, estetika, spiritual, serta meningkatkan keterampilan motorik dan fungsi kognitif,ā katanya kepada Antara. Pandangan serupa disampaikan dr Andry Reza Rahmadi, spesialis penyakit dalam RS Hasan Sadikin. Ia menilai terapi musik dapat mendukung pengobatan pasien rematik. āTerapi musik membantu pasien melawan depresi yang menyertai rematik. Itu sangat penting dalam proses pemulihan,ā jelasnya.
Meski efek terapi musik bisa berbeda pada tiap individu, banyak pasien mengaku merasakan perubahan. Sebagian merasakan manfaat jangka panjang, sebagian lain hanya sesaat. Namun, para ahli sepakat, semakin sering terapi dilakukan, semakin kuat pula efeknya. Kini, musik bukan hanya pengisi waktu senggang, tetapi juga sarana penyembuhan alternatif yang diakui medis. Di tengah biaya obat dan operasi yang tinggi, terapi musik menawarkan cara sederhana, minim efek samping, dan menyenangkan. Bagi Shirley Livingston maupun banyak pasien lain, musik bukan sekadar iramaāia adalah jalan menuju rasa lega. (dpa)














