Kanal24, Malang – Berangkat dari keprihatinan terhadap minimnya perhatian akademik terhadap isu lingkungan dalam perspektif keagamaan, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama (NU) Kota Malang menghadirkan sebuah karya ilmiah berjudul “The Nature’s Resacralization: The Nahdliyyin’s Jihad in Protecting the Environment.” Buku yang berisi sembilan artikel tulisan para pakar dan akademisi Nahdliyyin ini merupakan hasil kajian mendalam tentang peran dan tanggung jawab umat Islam, khususnya warga NU, dalam menjaga keseimbangan alam. Karya tersebut secara resmi diluncurkan dalam acara Hari Santri Nasional & Nahdliyyin Initiative Forum 2025 yang diselenggarakan di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya (UB) pada Selasa (21/10/2025).
Baca juga:
UB Perkuat Peran Awardee Dana Abadi melalui Pembekalan Soft Skills dan Spirit Filantropi
Latar Belakang dan Gagasan Awal
Sekretaris Lakpesdam NU Kota Malang, Abdur Rahim, S.S., M.Pd., menjelaskan bahwa gagasan penulisan buku ini telah muncul sejak masa awal pandemi COVID-19, sekitar empat tahun lalu. Ide tersebut berangkat dari kesadaran bahwa warga NU selama ini telah banyak berkontribusi dalam menjaga lingkungan melalui aksi nyata, namun belum banyak yang mengangkat tema tersebut dalam bentuk karya akademik.
“Kami melihat bahwa jihad menjaga alam sudah dilakukan, tetapi belum banyak dipikirkan dan dikrit secara ilmiah. Dari situlah kami ingin menginisiasi sebuah wacana akademik agar kesadaran ekologis menjadi bagian penting dalam tradisi intelektual Nahdliyyin,” jelasnya.
Lakpesdam NU kemudian mengundang sejumlah penulis dan pakar di lingkungan NU untuk menyumbangkan pemikiran mereka. Dari hasil kolaborasi itu, terkumpul sembilan artikel yang membahas berbagai perspektif tentang ekoteologi Islam, spiritualitas lingkungan, hingga peran pesantren dan santri dalam menghadapi krisis ekologis global.
Proses Penyusunan dan Publikasi
Abdur Rahim menuturkan bahwa proses penyusunan buku ini berlangsung dalam waktu yang cukup panjang. Setelah ide besar digagas sejak masa pandemi, pengumpulan naskah dimulai pada Mei 2025 dan dilanjutkan dengan penyuntingan intensif selama satu bulan setengah hingga akhirnya diterbitkan menjelang peringatan Hari Santri Nasional.
“Alhamdulillah, meskipun waktu penyelesaian teknisnya hanya sekitar satu bulan lebih, dengan semangat para kontributor, buku ini bisa terbit tepat pada momentum Hari Santri 2025,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penerbitan buku ini bukan semata hasil kerja cepat, melainkan buah dari proses panjang refleksi intelektual. Lakpesdam NU berupaya menjadikan karya ini sebagai jembatan antara nilai spiritual dan pemikiran akademik, serta memperkuat peran santri dalam menjaga keberlanjutan alam.
Isi Buku dan Misi Intelektual
Buku “The Nature’s Resacralization: The Nahdliyyin’s Jihad in Protecting the Environment” mengangkat misi utama untuk mengembalikan kesadaran bahwa menjaga alam adalah bagian integral dari ibadah dan ketakwaan. Dalam Islam, hubungan manusia dengan Tuhan (hablum minallah) dan dengan sesama (hablum minannas) telah banyak dibahas dan dipraktikkan, namun dimensi hablum minal alam—hubungan manusia dengan alam—sering kali terabaikan.
“Buku ini ingin menegaskan bahwa jihad menjaga lingkungan adalah satu kesatuan yang tidak boleh ditinggalkan oleh warga NU. Ini merupakan bagian dari keimanan yang menyeluruh,” tutur Abdur Rahim.
Kesembilan artikel dalam buku ini mengulas isu lingkungan dari berbagai sudut pandang—teologis, sosial, dan ekologis—serta mengaitkannya dengan nilai-nilai Islam Nusantara. Para penulis berupaya menafsirkan kembali konsep jihad sebagai upaya kolektif menjaga keseimbangan ciptaan Allah. Dengan gaya akademik namun mudah dipahami, buku ini juga mendorong pembaca untuk melihat alam bukan sekadar objek eksploitasi, melainkan sebagai entitas suci yang memiliki hubungan spiritual dengan manusia.
Harapan dan Langkah Ke Depan
Abdur Rahim menegaskan bahwa peluncuran buku ini merupakan awal dari gerakan akademik yang lebih luas. Lakpesdam NU Kota Malang berencana menjadikan karya ini sebagai pemantik diskusi di berbagai pesantren, perguruan tinggi, dan komunitas intelektual NU.
“Kami ingin mengajak warga NU berpikir kembali tentang lingkungan melalui aktivitas akademik. Harapannya, gagasan dalam buku ini bisa disebarluaskan dan menjadi bagian dari gerakan nyata menjaga bumi,” ujarnya.
Selain menjadi referensi ilmiah, buku ini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi lembaga-lembaga NU di daerah lain untuk mengembangkan riset dan publikasi serupa. Menurutnya, dengan mengintegrasikan nilai spiritual, sosial, dan ekologis, umat Islam dapat memainkan peran strategis dalam menjaga keberlanjutan planet ini.
“Menjaga alam adalah bagian dari jihad modern. Ia bukan hanya tugas aktivis, tapi tanggung jawab seluruh umat,” pungkasnya.
Dengan peluncuran “The Nature’s Resacralization: The Nahdliyyin’s Jihad in Protecting the Environment”, Lakpesdam NU Kota Malang meneguhkan peran santri dan intelektual Muslim dalam memadukan ilmu pengetahuan dan keimanan untuk merawat bumi. Momentum Hari Santri Nasional 2025 pun menjadi saksi lahirnya karya yang tidak hanya menambah khazanah literasi Islam Nusantara, tetapi juga menegaskan bahwa kesalehan ekologis adalah bagian dari identitas Nahdliyyin di era modern. (nid/dht)














