Kanal24, Malang – Hari Santri Nasional menjadi momentum reflektif bagi generasi muda untuk memahami kembali akar perjuangan bangsa. Dalam Seminar Nasional Hari Santri 2025 bertema Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia, yang digelar di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya (UB), Selasa (22/10/2025), semangat itu kembali dihidupkan.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UB, Setiawan Noerdayasakti, S.H., M.H., menegaskan bahwa Hari Santri memiliki makna historis yang tidak dapat dipisahkan dari perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia mengingatkan, dua bulan setelah proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, KH. Hasyim Asyāari mengeluarkan fatwa penting yang menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah fardhu ainākewajiban bagi setiap individu muslim.
āSemangat inilah yang kemudian melandasi pertempuran 10 November 1945 di Surabaya,ā tutur Setiawan. āKalau kita telusuri, kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamasikan itu bisa bertahan karena para pejuang memiliki pegangan moral dan spiritual yang kuat.ā
Setiawan menegaskan, makna Hari Santri harus dimaknai lebih dari sekadar ritual tahunan. Peringatan ini, kata dia, merupakan cara bangsa untuk menjaga ingatan kolektif tentang bagaimana semangat keagamaan melahirkan keberanian mempertahankan kemerdekaan. āHari Santri ini adalah pijakan awal perjuangan bangsa. Generasi muda hari ini harus menjiwai semangat itu dalam menghadapi tantangan zaman,ā ujarnya.
Menurutnya, generasi muda, khususnya mahasiswa UB, harus mampu mewarisi nilai perjuangan para santriāyakni keberanian, kejujuran, dan pengabdian kepada bangsa. Ia menegaskan bahwa nasionalisme sejati tidak hanya tumbuh dari rasa cinta terhadap tanah air, tetapi juga dari kesadaran spiritual bahwa membela bangsa adalah bagian dari ibadah. āSuatu saat, mahasiswa hari ini akan menjadi pemimpin di 2045. Mereka harus memimpin dengan semangat santri yang nasionalis, religius, dan berintegritas,ā tegasnya.
UB dan Tradisi Santri dalam Perguruan Tinggi
Sementara itu, Prof. Dr. Agr. Sc. Ir. Hagus Tarno, SP., MP., Ketua LPP PWNU Jawa Timur sekaligus Ketua Pelaksana acara, menekankan bahwa momen Hari Santri Nasional menjadi wadah penting untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan komunitas pesantren. Ia menilai, UB memiliki potensi besar untuk menjadi jembatan antara dunia akademik dan nilai-nilai spiritual Islam.
āBrawijaya ini banyak dihuni dosen, mahasiswa, dan tenaga pendidik berlatar pesantren. Ini saatnya UB menunjukkan kiprah sebagai bagian dari komunitas muslim yang berkontribusi pada peradaban,ā jelasnya.
Hagus menambahkan, rangkaian kegiatan Hari Santri di UB tidak hanya berupa seminar nasional, tetapi juga kompetisi mahasiswa, konferensi internasional, dan puncaknya acara Brawijaya Bersholawat. Ia menyebut, kegiatan ini dirancang bukan sekadar perayaan, melainkan sarana membangun kolaborasi konkret antara UB dan lembaga-lembaga keagamaan, termasuk dalam program pengabdian masyarakat di lingkungan pesantren.
āKami ingin menunjukkan bahwa nilai-nilai santri bisa diintegrasikan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggiāpendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat,ā ujar Hagus.
Menjaga Api Perjuangan Lewat Semangat Santri
Dengan estimasi peserta mencapai seribu orang, kegiatan ini diharapkan menjadi momentum memperkuat semangat kolaborasi dan moderasi beragama. Bagi Hagus, sinergi antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas menjadi kunci membangun peradaban masa depan. āSantri adalah cermin keseimbangan antara ilmu dan moralitas. Itulah yang seharusnya menjadi karakter mahasiswa UB,ā tandasnya.
Seminar Hari Santri di UB tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga menghidupkan semangat perjuangan dan nasionalisme di kalangan civitas akademika. Melalui refleksi nilai-nilai santri, UB menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang tumbuhnya intelektual yang religius dan berjiwa kebangsaan.
āPerjuangan santri dulu menjaga kemerdekaan dengan darah dan doa. Sekarang tugas kita menjaga peradaban dengan ilmu dan moral,ā pungkas Setiawan.(Din/Dpa)















Comments 2