Kanal24, Malang — Semarak Bulan Bahasa di SMA Negeri 4 Kota Malang tahun ini tampil berbeda. Melalui rangkaian kegiatan bertajuk “School Phoria Goes to SMAN 4”, para siswa dari berbagai jenjang menampilkan kreativitas dan kolaborasi lintas bidang dalam merayakan bahasa, budaya, dan literasi. Acara puncak digelar pada Selasa (28/10/2025) merupakan kerja apik yang digelar bersama Radio Kalimaya Bhaskara FM dan ALMI menjadi penutup dari serangkaian kegiatan yang telah berlangsung sejak awal Oktober.
Ketua pelaksana kegiatan, Dini Alfianti Wahyuni, menjelaskan bahwa perayaan Bulan Bahasa di sekolahnya tidak hanya berfokus pada lomba sastra atau kebahasaan, tetapi juga dirancang untuk mengasah daya cipta siswa melalui berbagai proyek kolaboratif.
“Acara Bulan Bahasa ini sudah dimulai sejak awal Oktober. Kami bekerja sama dengan kegiatan kurikuler, salah satunya membuat film pendek dari hasil pencarian informasi dan referensi tentang kasus Ninja 98. Selain itu ada lomba cover lagu literasi, unggah berbahasa Jawa, story telling sejarah SMA 4 dengan segala misterinya, serta pengenalan budaya Jepang dan Jerman,” terang Dini.

Kreativitas Siswa Melalui Proyek Literasi dan Film
Menurut Dini, setiap kelas diwajibkan mengikuti lima lomba yang menjadi bagian dari rangkaian Bulan Bahasa. Prosesnya dilakukan secara berkelompok agar setiap siswa berpartisipasi aktif, baik sebagai penulis naskah, pemeran film, hingga tim produksi.
“Satu kelas harus mengikuti semua cabang lomba. Pembagian tugas diserahkan kepada siswa masing-masing. Dari karya terbaik nantinya akan dipilih pemenang utama,” ujarnya.
Kegiatan tersebut tidak hanya menonjolkan aspek kompetisi, tetapi juga nilai kebersamaan dan kerja sama tim. Melalui proses kreatif ini, siswa belajar menyusun ide, mengelola waktu, hingga menyelesaikan proyek bersama.
Salah satu kegiatan yang menarik perhatian adalah pemutaran film hasil karya siswa (nobar) yang diselenggarakan menjelang acara puncak. Dalam film-film itu, siswa menampilkan interpretasi mereka terhadap berbagai isu sosial dan sejarah lokal dengan pendekatan sinematografi yang segar.
Menghidupkan Literasi dan Apresiasi Budaya
Selain film, lomba unggah-ungguh berbahasa Jawa dan story telling menjadi wadah bagi siswa untuk mengapresiasi bahasa daerah serta sejarah sekolah mereka. Tidak ketinggalan, sesi pengenalan budaya Jepang dan Jerman turut memperluas wawasan bahasa asing para siswa, mengingat kedua bahasa tersebut merupakan pilihan studi yang tersedia di SMAN 4 Malang.
“Harapannya kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi, tetapi juga menumbuhkan kreativitas dan solidaritas antarsiswa. Dari sini kami bisa melihat kekompakan dan potensi tiap kelas,” kata Dini.
Ia menambahkan bahwa meski kegiatan masih berfokus di lingkungan sekolah, pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan karya terbaik ke tingkat kompetisi luar. “Kami belum punya relasi ke luar untuk itu, tapi tidak menutup kemungkinan nanti ada karya yang diajukan ke lomba eksternal,” tambahnya.
Literasi yang Hidup di Sekolah
Tradisi Bulan Bahasa di SMAN 4 Malang memang dikenal sebagai salah satu kegiatan literasi paling dinamis. Selain memupuk kecintaan terhadap bahasa dan budaya, kegiatan ini juga menumbuhkan semangat seni di kalangan siswa.
Sebelumnya, siswa SMAN 4 Malang juga pernah menorehkan prestasi di bidang cinematografi dan teater, menunjukkan bahwa literasi di sekolah ini tidak hanya diwujudkan dalam tulisan, tetapi juga dalam ekspresi seni dan karya kreatif.
Melalui “School Phoria Goes to SMAN 4,” bersama Kalimaya Bhaskara FM dan ALMI sekolah ini kembali menegaskan komitmennya untuk menjadikan literasi sebagai fondasi pendidikan karakter dan kreativitas generasi muda.(Din/Yor)














