Kanal24, Malang – Debat Terbuka Pemira UB 2025 menjadi momentum penting bagi mahasiswa Universitas Brawijaya untuk menentukan arah kepemimpinan EM UB 2026. Situasi organisasi kemahasiswaan yang semakin kompleks menuntut hadirnya pemimpin yang mampu menjawab tantangan tersebut. Melalui forum ini, mahasiswa dapat melihat langsung bagaimana pasangan calon menawarkan gagasan dan komitmen mereka.
Debat ini juga menjadi ruang dialog terbuka untuk memetakan kebutuhan mahasiswa secara lebih konkret. Dengan hadirnya dua pasangan calon, diskusi berlangsung dinamis dan menunjukkan keberagaman sudut pandang. Mahasiswa berharap forum ini mampu memberikan gambaran jelas mengenai calon pemimpin yang akan memegang amanah di tahun mendatang.
Baca juga:
Dosen FISIP UB Perkuatkan Literasi Digital di Era AI
Debat Terbuka Digelar di Samantha Krida UB
Debat Terbuka PEMIRA 2025 – Calon Presiden dan Wakil Presiden EM 2026 berlangsung di Gedung Samantha Krida pada Senin (17/11/2025). Acara ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas yang memenuhi ruangan sejak sore hari. Suasana semakin semarak ketika masing-masing pendukung calon memberikan dukungan secara bergilir.
Pasangan calon nomor urut satu terdiri atas M. Azhar Zidane (FISIP 2022) sebagai calon presiden dan Kafitan Aidil F. S. (FAPET 2023) sebagai calon wakil presiden. Sementara itu, pasangan nomor urut dua adalah Fitra Abdillah S. (FIA 2022) sebagai calon presiden dan Yusuf Hafidzun A. (FEB 2022) sebagai calon wakil presiden. Masing-masing calon datang dengan tim dan strategi penyampaian visi yang berbeda.
Ketua Pelaksana Jelaskan Tujuan Debat
Ketua Pelaksana, Muhammad Akmal Falahudin, menjelaskan bahwa debat ini adalah bagian dari rangkaian Pemira UB 2025 yang sudah berlangsung sejak beberapa minggu sebelumnya. Ia menegaskan bahwa debat tahun ini tidak menggunakan panelis agar diskusi bisa berlangsung lebih bebas dan komunikatif. “Tujuan kami agar mahasiswa bisa menilai calon berdasarkan visi, misi, dan arah gerak mereka secara langsung,” ujarnya.
Akmal juga menegaskan pentingnya transparansi dalam penyelenggaraan Pemira. Menurutnya, panitia ingin memastikan bahwa Pemira berjalan demokratis dan partisipatif. “Harapannya, siapapun yang nanti terpilih bisa mengedepankan aspirasi mahasiswa dan memperbaiki urgensi yang ada,” tambahnya.
Program Ragam Makna dari Paslon 2
Fitra Abdillah S. memaparkan bahwa tantangan organisasi mahasiswa saat ini membutuhkan pemimpin yang mampu menganalisis masalah secara tepat. Ia menyebut bahwa masalah dalam organisasi adalah hal umum, namun yang penting adalah bagaimana menyelesaikannya. “Yang paling penting adalah kemampuan mendiagnosis, menginterpretasi, dan mengambil keputusan yang efektif,” kata Fitra.

Fitra dan Yusuf membawa delapan mahakarya program, dengan tiga di antaranya menjadi prioritas. Program pertama ialah Brawijaya Recovery Circle yang fokus pada penyelesaian kasus kekerasan seksual, perundungan, dan isu kesehatan mental. “Kami ingin memberikan ruang pemulihan yang aman dan sistematis bagi mahasiswa,” ujar Yusuf.
Program kedua adalah Brawijaya Find Power yang mengutamakan pemberdayaan perempuan melalui keterwakilan 30% perempuan di kabinet. Selain itu, ada Brawijaya Inklusi Project yang memfasilitasi mahasiswa difabel melalui penyediaan juru bahasa isyarat di program besar EM. “Terpilih atau tidak, kami hadir sebagai pelayan mahasiswa,” tegas Fitra.
Ekonomi Gerakan dan Reformasi Struktur dari Paslon 1
Azhar Zidane memulai pemaparan dengan membahas pendekatan berbasis ekonomi dalam melihat kebutuhan organisasi mahasiswa. Ia menilai bahwa program kerja harus relevan dengan kebutuhan mahasiswa sebagai ‘pasar gagasan’. “Kalau produsen mengikuti pasar, maka EM juga harus mengikuti kebutuhan mahasiswa,” ungkap Zidane.
Pasangan ini menyoroti perlunya pembenahan dalam bidang pengembangan, pergerakan, pelayanan, hingga pengabdian kepada masyarakat. Dalam bidang pengembangan, mereka menekankan evaluasi kurikulum pembinaan organisasi di UB. “Kami ingin kurikulum pengembangan organisasi lebih adaptif,” kata Kafitan.
Paslon 1 juga membawa program beasiswa bagi siswa SMA dari daerah 3T yang memiliki potensi akademik tinggi. Mereka berharap program ini dapat membuka akses lebih luas terhadap pendidikan berkualitas. “Semua orang berhak mendapat pendidikan, meski tidak semua punya fasilitas,” ucap Zidane.

Membangun Sinergi Organisasi sebagai Ruang Titik Temu
Kafitan menegaskan pentingnya menjadikan EM sebagai ruang titik temu bagi seluruh lembaga mahasiswa UB. Menurutnya, internal lembaga harus terlebih dahulu solid sebelum membangun sinergi eksternal. “Kalau lembaganya saja tidak ngobrol, bagaimana mau sinergis?” katanya.
Tiga bulan pertama masa kepemimpinan akan mereka fokuskan pada reformasi mekanisme organisasi. Mereka berkomitmen memastikan komunikasi antar lembaga berjalan baik dan berkelanjutan. “Kami ingin seluruh fakultas kembali menyala dalam semangat pergerakan,” tambah Zidane.
Antusiasme Mahasiswa Menjelang Hari Pemilihan
Debat berlangsung meriah dengan keaktifan mahasiswa dalam sesi tanya jawab. Dukungan dari masing-masing pihak membuat suasana semakin hidup. Mahasiswa terlihat serius mencermati gagasan dan keberanian calon dalam menanggapi isu-isu krusial.
Dengan berakhirnya debat ini, Pemira UB memasuki masa tenang sebelum pemilihan pada 19 November 2025. Mahasiswa berharap dapat memilih pemimpin yang mampu membawa perubahan nyata bagi UB. Mereka menantikan arah baru EM 2026 yang lebih inklusif, progresif, dan responsif terhadap kebutuhan kampus. (nid/dpa)














