Kanal24, Malang – Kebijakan visa yang semakin ketat di Amerika Serikat (AS) menyebabkan jumlah mahasiswa internasional baru mengalami penurunan signifikan pada tahun akademik 2025. Lembaga pendidikan tinggi di berbagai negara bagian melaporkan bahwa minat pelajar asing untuk melanjutkan studi di AS menurun tajam, ditandai dengan merosotnya pendaftar baru hingga lebih dari belasan persen. Tren ini menjadi yang terbesar sejak masa pandemi, mencerminkan tantangan berat yang kini dihadapi pendidikan internasional di AS.
Penurunan tersebut dikaitkan dengan proses pengajuan visa yang semakin rumit, pemeriksaan imigrasi yang lebih ketat, serta meningkatnya rasa ketidakpastian di kalangan calon mahasiswa dari luar negeri. Banyak dari mereka mengaku ragu memilih AS karena proses administrasi yang tidak lagi ramah terhadap pelajar internasional.
Ketatnya Proses Visa Menjadi Faktor Utama
Proses visa yang memakan waktu dan penuh pemeriksaan ketat kini menjadi hambatan utama bagi pelajar asing. Banyak calon mahasiswa harus menghadapi antrean panjang, wawancara lebih intensif, bahkan penolakan tanpa penjelasan jelas. Kampus-kampus besar melaporkan bahwa sebagian besar pendaftar baru mengaku kesulitan lolos dari prosedur visa yang diperberat dalam beberapa bulan terakhir.
Baca juga:
Debat Pemira UB 2025 Siapkan Arah Baru EM 2026
Selain itu, sejumlah kebijakan tambahan seperti pemeriksaan media sosial pelamar dan pengetatan masa tinggal bagi pemegang visa pelajar membuat banyak calon mahasiswa merasa enggan. Perasaan “tidak diterima” dan kekhawatiran terhadap kondisi sosial-politik di AS juga ikut menekan minat mereka.
Dampak Ekonomi Mulai Terasa Di Universitas As
Penurunan jumlah mahasiswa internasional membawa dampak finansial yang besar bagi universitas-universitas di AS. Selama ini, pelajar asing menjadi salah satu sumber pendapatan utama karena mereka membayar biaya kuliah penuh dan jarang mendapat subsidi. Kontribusi ekonomi mahasiswa internasional bahkan mencapai puluhan miliar dolar per tahun.
Dengan berkurangnya jumlah mahasiswa asing baru, beberapa kampus mulai menghadapi ancaman defisit anggaran. Pengurangan tenaga kerja, pembatasan program akademik, dan kenaikan biaya kuliah dikhawatirkan menjadi efek jangka panjang. Lembaga pendidikan juga berpotensi kehilangan daya saing global ketika jumlah mahasiswa internasional terus menurun.
Kebijakan Tambahan Yang Memperberat Kondisi
Selain pengetatan visa, pemerintah AS memperkenalkan kebijakan tambahan yang membuat situasi semakin sulit. Di antaranya:
- Rencana pembatasan masa tinggal bagi pemegang visa F dan J.
- Peninjauan ulang izin tinggal mahasiswa dengan syarat administrasi yang lebih berat.
- Pemeriksaan terhadap aktivitas digital termasuk media sosial calon mahasiswa.
- Wacana pembatasan jumlah mahasiswa asing di universitas-universitas tertentu.
Kebijakan-kebijakan tersebut menimbulkan kekhawatiran dari berbagai pihak, termasuk organisasi pendidikan internasional yang menilai langkah tersebut dapat menggerus reputasi AS sebagai destinasi pendidikan terkemuka.
Reaksi Kampus Dan Organisasi Pendidikan
Para pemimpin institusi pendidikan tinggi menyuarakan keprihatinan mereka. Banyak universitas menilai bahwa kebijakan visa yang terlalu ketat justru merugikan AS sendiri. Kehilangan mahasiswa internasional berarti kehilangan kontribusi ekonomi, keberagaman budaya, serta potensi kolaborasi riset yang selama ini menjadi kekuatan pendidikan tinggi Amerika.
Organisasi pendidikan internasional juga mendorong pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan tersebut. Mereka menilai bahwa prosedur yang terlalu keras akan membuat pelajar asing memilih negara lain seperti Kanada, Inggris, atau Australia yang menawarkan akses pendidikan lebih ramah dan proses imigrasi yang lebih stabil.
Imbauan Kepada Mahasiswa Indonesia
Kedutaan Besar Indonesia di Washington telah meminta mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di AS untuk lebih berhati-hati dalam menjaga status visa mereka. Mereka diminta selalu memantau masa berlaku izin tinggal, menaati peraturan kampus, serta menjaga aktivitas digital agar tidak melanggar ketentuan imigrasi yang semakin sensitif.
Calon mahasiswa Indonesia yang berencana mendaftar tahun depan juga diminta mempersiapkan proses secara lebih matang. Konsultasi dengan agen pendidikan, universitas, dan konsulat menjadi penting untuk mengantisipasi perubahan kebijakan mendadak.
Risiko Bagi Masa Depan Pendidikan Global
Jika tren penurunan ini terus berlanjut, AS berpotensi kehilangan posisi sebagai destinasi studi internasional nomor satu dunia. Banyak negara pesaing kini membuka peluang lebih luas dengan kebijakan visa pelajar yang lebih bersahabat dan peluang bekerja seusai studi.
Di sisi lain, mahasiswa internasional juga menghadapi risiko berkurangnya kesempatan akademik dan profesional di AS. Keterbatasan durasi tinggal, peluang kerja pasca-studi yang berkurang, serta ketatnya pemeriksaan imigrasi membuat pengalaman belajar di AS tidak lagi seideal sebelumnya. (nid)














