Kanal24, Malang– Peningkatan tantangan psikologis yang dihadapi mahasiswa serta lulusan baru—mulai dari kegugupan saat wawancara, stres akademik, hingga ketidakpastian dalam menentukan arah karier—mendorong pentingnya materi tentang mindfulness sebagai salah satu strategi penguatan soft skill. Materi ini diangkat dengan tujuan membekali peserta agar mampu mengharmoniskan pikiran sadar dan bawah sadar, sehingga dapat mencapai tujuan karier dengan lebih efektif dan berkelanjutan.
Materi tersebut disampaikan dalam kegiatan Seminar Pembekalan Karier “The Power of Mindfulness: Strategy to Boost Your Interview Success and Bright Career”, yang digelar oleh PT Nawa Data Solutions di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, pada Rabu (19/11/2025). Seminar menghadirkan narasumber Reynolds Vincentius, S.AP., CI, CH, CMMH, CISH, CPC, CPS, CIMN, CNLPCo, CSA, CLdP, CHG, CHt., yang membawakan rangkaian strategi penguatan fokus dan pengelolaan mental bagi pencari kerja muda.
Harmonisasi Pikiran sebagai Fondasi Karier
Dalam pemaparannya, Reynolds menegaskan bahwa inti dari mindfulness adalah kemampuan menyadari dan menyinergikan dua sistem yang bekerja dalam diri: pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Ketidakharmonisan keduanya, katanya, sering memicu konflik batin yang berujung pada keraguan, kehilangan fokus, hingga kegagalan mencapai target yang sudah ditetapkan.
Reynolds mendorong peserta untuk terus menerapkan strategi mindfulness yang dipelajari dalam sesi pelatihan. Dengan pola latihan yang konsisten, peserta akan mampu mengelola tekanan, memperkuat keyakinan, serta menjaga komitmen pada tujuan karier yang telah ditentukan.
Teknik Praktis Atasi Gugup dan Hilang Fokus
Salah satu materi yang paling diapresiasi peserta adalah teknik anchor—sebuah metode sederhana namun efektif untuk mengatasi kegugupan dan ketidakfokusan, baik saat menyelesaikan skripsi, mengikuti perkuliahan, maupun ketika menghadapi wawancara kerja.
Reynolds menjelaskan bahwa teknik ini dapat dilakukan kapan saja, termasuk beberapa detik sebelum memasuki ruang wawancara. Dengan menstabilkan kondisi mental melalui anchor, pikiran bawah sadar yang biasanya memicu rasa takut atau ragu dapat diredam sehingga peserta mampu menyampaikan jawaban secara jelas tanpa kehilangan struktur.
Ia menambahkan, “Kadang kita sudah menyiapkan jawaban dari rumah, tapi begitu wawancara langsung ‘blank’. Dengan mindfulness, konflik dalam diri bisa ditekan sehingga fokus tetap terjaga.”
Mindfulness untuk Mantapkan Arah Karier
Selain bermanfaat untuk sesi wawancara, mindfulness juga penting bagi mereka yang sedang menentukan jalur karier atau mempertimbangkan untuk switch career. Banyak individu, kata Reynolds, yang sebenarnya tertarik pada suatu bidang tetapi masih terjebak dalam keraguan internal.
Latihan harmonisasi pikiran diyakini dapat membantu peserta memperjelas pilihan, menghilangkan kebimbangan, dan membuat keputusan karier yang lebih mantap. Mindfulness juga dapat mempercepat proses adaptasi bagi mereka yang baru memasuki dunia kerja.
Bertahan dan Berprestasi Selama Masa Probation
Reynolds turut menyoroti masa probation sebagai fase penting yang sering kali menentukan kelanjutan karier seseorang. Dalam tiga hingga enam bulan pertama bekerja, banyak pegawai baru mengalami distraksi, stres, atau rasa tidak nyaman yang dapat mendorong mereka untuk resign lebih cepat.
Mindfulness, menurutnya, menjadi alat penting untuk menjaga konsistensi, fokus, dan kemampuan bertahan selama masa penilaian tersebut. Dengan pikiran yang selaras, pegawai baru akan lebih siap menghadapi tekanan dan mampu menunjukkan performa terbaiknya.
Reynolds menutup sesi dengan pesan motivatif, “Melesatlah UB, melesatlah kita semua. Mindfulness bukan sekadar teknik, tetapi fondasi untuk bertahan, berkembang, dan mencapai karier yang kita impikan. (nid/dht)














