Kanal24, Malang – Pada hari kedua, Selasa (25/11/2025), Zakat Goes To Campus digelar sebagai kelanjutan rangkaian edukasi zakat sekaligus forum diskusi tentang kemanusiaan global, khususnya tragedi yang menimpa Gaza. Acara yang diinisiasi Forum Zakat (FOZ) Malang Raya bersama FEB UB ini menghadirkan tiga narasumber utama untuk mengajak mahasiswa memperluas perspektif dan kepedulian mereka terhadap isu kemanusiaan. Melalui format urun rembuk bertema āBangun Kembali Gazaā, kegiatan ini menjadi ruang belajar, ruang refleksi, dan ruang pergerakan bagi generasi muda.
Syiar Zakat dan Kemanusiaan di Lingkungan Kampus
Kegiatan hari kedua Zakat Goes To Campus diarahkan untuk memperkenalkan mahasiswa pada nilai-nilai syariah yang menjadi fondasi kesejahteraan sosial. Influencer sekaligus aktivis kemanusiaan, Wanda Hamidah, menegaskan bahwa kedekatan mahasiswa dengan konsep zakat, wakaf, dan sedekah adalah bekal penting untuk membangun masyarakat adil. āHari ini kita mengajak adik-adik di Universitas Brawijaya untuk dekat dengan sistem syariah, terutama zakat, wakaf, dan sedekah,ā ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemahaman sistem syariah tidak dapat dipisahkan dari perjuangan kemanusiaan, termasuk tragedi yang menimpa rakyat Palestina.

Menurut Wanda, mahasiswa tidak boleh diam terhadap pelanggaran hak asasi manusia. āMulai sekarang jangan menormalisasikan kejahatan-kejahatan HAM yang terus terjadi,ā tegasnya. Ia mengajak mahasiswa untuk selalu peka, kritis, dan berani bersuara atas ketidakadilan, baik di Indonesia maupun di Palestina.
Seruan Peduli Palestina dan Sikap Kritis Mahasiswa
Isu Gaza menjadi pusat pembahasan yang menggugah perhatian peserta. Wanda Hamidah menguraikan panjang lebar kondisi terkini Palestina yang menurutnya masih berada dalam situasi genosida. āKalau kalian lihat bukan dari TV propaganda Amerika, kalian akan tahu bahwa genosida tidak berhenti,ā katanya. Ia mendorong mahasiswa untuk memeriksa ulang sumber informasi, membaca literatur yang kredibel, dan mengikuti media yang berpihak pada kemanusiaan.
Wanda juga menyerukan aksi nyata dari generasi muda. āSuarakan bahwa kalian menentang kebiadaban dan penindasan HAM. Lakukan aksi-aksi long march untuk menekan negara agar tidak represif terhadap pembela HAM,ā ucapnya lantang. Baginya, mahasiswa harus tetap menjaga nurani dan keberanian untuk menentang ketidakadilan global.
Peran Akademisi dan Mahasiswa dalam Menggerakkan Perubahan
Dari perspektif lembaga zakat, Elwien Roodhiana, Branch Manager Rumah Zakat, menegaskan bahwa mahasiswa adalah agent of change yang memiliki suara besar dalam menggerakkan kesadaran masyarakat. āSuara dari mereka cukup masif dan bisa menggerakkan masyarakat serta pemerintah untuk lebih konsen kepada kemerdekaan Gaza,ā ujarnya. Ia menilai, masih banyak mahasiswa yang belum memahami isu Palestina secara mendalam, sehingga kegiatan Urun Rembuk menjadi langkah penting untuk menumbuhkan kepedulian.
Elwien juga menyoroti perlunya konsistensi dalam boikot produk-produk terafiliasi Israel sebagai bentuk perlawanan ekonomi. āSemoga adik-adik bisa konsisten memilih produk yang tidak terafiliasi Israel,ā katanya. Ia berharap generasi muda kelak mampu memengaruhi kebijakan lewat posisi strategis yang mereka capai.

Penguatan Perspektif Akademik atas Krisis Kemanusiaan
Akademisi FEB UB, Aji Purba Trapsila, S.E.I., M.E.I., Ph.D, memberikan pandangan yang lebih rasional dan humanis. Menurutnya, isu Palestina bukan lagi perkara geopolitik semata, tetapi bagian dari perjuangan kemanusiaan dunia. āUntuk membela Palestina tidak perlu teori muluk-muluk. Cukup menjadi manusia yang sadar bahwa pembelaan ini adalah bagian dari kemanusiaan global,ā tuturnya. Ia berharap kegiatan ini mampu membuka wawasan mahasiswa serta meningkatkan komitmen untuk bersikap adil terhadap tragedi kemanusiaan yang terjadi.
Aji menegaskan bahwa perjuangan membela Palestina harus dilakukan secara istiqamah. āIni bukan perjuangan satu hari, tetapi komitmen jangka panjang untuk membela nilai kemanusiaan,ā tambahnya.
Membangun Kesadaran, Menegakkan Kemanusiaan
Hari kedua Zakat Goes To Campus di FEB UB bukan hanya menjadi forum edukasi zakat, tetapi ruang refleksi mendalam tentang keberpihakan manusia terhadap manusia lainnya. Para narasumber menekankan bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam menegakkan nilai kemanusiaan, baik melalui suara, aksi, maupun konsistensi dalam memilih sikap.
Melalui pemahaman zakat dan isu Gaza, kegiatan ini mengajak mahasiswa untuk melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas, humanis, dan berpihak pada keadilan. Zakat bukan hanya ritual, tetapi gerakan sosial. Palestina bukan hanya isu luar negeri, tetapi cermin kepedulian global. Dan mahasiswaāsebagaimana ditegaskan seluruh narasumberāadalah motor perubahan untuk masa depan yang lebih adil. (nid/dht)














