Kanal24, Malang – Bisnis laundry tengah menjadi salah satu sektor usaha yang berkembang pesat di Indonesia. Gaya hidup masyarakat modern yang serba cepat serta meningkatnya kebutuhan akan pelayanan praktis membuat usaha laundry, khususnya laundromat atau laundry self-service, semakin diminati. Meski menjanjikan, tak sedikit pelaku usaha yang justru tersandung dan mengalami kerugian karena kesalahan pengelolaan. Secara nasional, peluang bisnis laundry masih terbuka sangat lebar. Dengan jumlah penduduk mencapai 283 juta jiwa, Indonesia hanya memiliki sekitar 506 outlet laundromat. Artinya, satu outlet harus melayani sekitar 565 ribu orang. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan Malaysia yang memiliki satu outlet untuk setiap 12 ribu penduduk. Ketimpangan tersebut menunjukkan potensi besar pasar laundry di Indonesia yang masih belum tergarap optimal. Laundromat sendiri merupakan layanan cuci mandiri yang memungkinkan konsumen mencuci dan mengeringkan pakaian menggunakan mesin otomatis, baik dengan token, kartu, maupun pembayaran digital. Fleksibilitas waktu, efisiensi, serta kemudahan sistem operasional membuat konsep ini semakin diminati, terutama di daerah urban.

Namun, potensi besar ini tidak menjamin keberhasilan usaha. Salah langkah sedikit saja dapat membawa bisnis laundry menuju kerugian bahkan kebangkrutan. Pionir laundry self-service di Indonesia sekaligus Direktur PT Super Andalan Perkasa (SAP), Erna Tamin, memaparkan sejumlah kesalahan fatal yang kerap dilakukan pengusaha. Salah satu penyebab utama kegagalan bisnis laundry adalah praktik kecurangan karyawan. Manipulasi nota, laporan pendapatan palsu, hingga markup pembelian barang sering terjadi diam-diam dan dapat menyebabkan kerugian dalam jumlah besar. āKecurangan seperti memalsukan nota konsumen, membuat laporan fiktif, hingga markup pembelian barang adalah sebagian kecil dari perilaku yang dapat merugikan pemilik usaha,ā tegas Erna.
Untuk mencegah hal tersebut, sistem pembayaran harus dibuat se transparan mungkin. Erna menyarankan penggunaan sistem cashless melalui e-payment agar perputaran uang lebih mudah dilacak. Selain itu, pembelian perlengkapan dan bahan operasional sebaiknya dilakukan langsung oleh pemilik usaha untuk meminimalkan risiko penyalahgunaan dana. Kesalahan lain yang kerap terjadi adalah penggunaan mesin rumah tangga untuk bisnis. Banyak pemilik usaha yang mencoba menghemat modal awal dengan membeli mesin cuci non-komersial. Namun, pilihan ini justru menjadi bumerang. Mesin rumahan tidak dirancang bekerja terus-menerus dan tidak memiliki ketahanan untuk beban berat. Akibatnya, mesin cepat rusak, biaya perawatan meningkat, dan operasional menjadi terhambat.
āMesin laundry untuk usaha harus memiliki kapasitas besar dengan konstruksi industrial grade yang tahan banting dan bisa beroperasi 24 jam non-stop,ā jelas Erna. Selain faktor internal, kegagalan juga sering dipicu oleh strategi pemasaran yang kurang tepat. Banyak pengusaha hanya fokus pada operasional, tetapi mengabaikan pentingnya promosi awal. Padahal, momentum hari pertama pembukaan outlet sangat menentukan keberhasilan jangka panjang.
Menurut Erna, tanda suksesnya sebuah bisnis laundry dapat terlihat sejak hari pertama beroperasi. Outlet yang langsung ramai biasanya memiliki strategi promosi yang efektif, mulai dari memberikan layanan cuci gratis, memasang spanduk dan brosur di titik strategis, hingga menggandeng content creator untuk memperluas jangkauan campaign. āKesuksesan outlet dapat dilihat sejak hari pertama dibuka. Hal ini tidak terlepas dari strategi promosi seperti cuci gratis, spanduk, brosur, atau menggandeng content creator,ā ujarnya. Melihat potensi pasar yang besar, bisnis laundry memang menawarkan peluang keuntungan yang sangat menjanjikan. Namun, potensi sebesar apa pun akan sia-sia jika tidak dikelola secara profesional. Transparansi sistem pembayaran, pengadaan mesin industri yang sesuai standar, serta strategi pemasaran yang kreatif menjadi faktor kunci agar bisnis dapat bertahan dan terus tumbuh.
Pada akhirnya, peluang bisnis laundry di Indonesia bukan hanya tentang minimnya kompetitor atau besarnya populasi konsumen, melainkan tentang kesiapan pelaku usaha membangun fondasi yang kuat. Dengan manajemen tepat, bisnis laundry bukan sekadar bertahan di tengah persaingan, tetapi mampu berkembang dan merajai pasar yang masih sangat luas ini. (ptr)














