Kanal24, Malang – Di tengah upaya peningkatan kualitas pendidikan dan penguatan sistem pembelajaran inklusif, isu learning disability atau gangguan belajar pada anak menjadi perhatian yang semakin penting. Kondisi ini kerap tidak terlihat secara kasat mata, namun berdampak signifikan terhadap proses belajar anak di lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari. Sayangnya, kurangnya pemahaman masih membuat gangguan belajar sering disalahartikan sebagai kemalasan atau rendahnya kemampuan intelektual.
Learning disability merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi kemampuan anak dalam memproses informasi tertentu, terutama yang berkaitan dengan membaca, menulis, dan berhitung. Anak dengan kondisi ini umumnya memiliki tingkat kecerdasan normal hingga di atas rata-rata, tetapi mengalami hambatan spesifik dalam aspek akademik tertentu. Ketidaksesuaian antara potensi intelektual dan capaian akademik inilah yang menjadi ciri utama gangguan belajar.
Baca juga:
Wisata Baru Jatim Semakin Diminati 2025
Memahami Konsep Gangguan Belajar pada Anak
Gangguan belajar bukanlah penyakit dan tidak disebabkan oleh kurangnya motivasi atau pola asuh yang keliru. Kondisi ini berkaitan dengan cara kerja otak dalam menerima, mengolah, dan menyampaikan informasi. Anak dengan learning disability dapat menunjukkan kesulitan yang konsisten meskipun telah mendapatkan pengajaran berulang atau metode pembelajaran yang sama dengan teman sebayanya.
Karena sifatnya yang spesifik, gangguan belajar sering kali baru teridentifikasi saat anak memasuki usia sekolah. Ketika tuntutan akademik meningkat, perbedaan kemampuan belajar mulai terlihat, terutama dalam hal membaca lancar, menulis terstruktur, atau memahami konsep matematika dasar.
Jenis-Jenis Learning Disability yang Umum Ditemui
Learning disability terdiri dari beberapa jenis gangguan dengan karakteristik yang berbeda-beda. Salah satu yang paling umum adalah disleksia, yaitu gangguan yang memengaruhi kemampuan membaca, mengenali huruf, serta mengeja kata. Anak dengan disleksia sering kali mengalami kesulitan membaca cepat dan memahami isi bacaan, meskipun memiliki kemampuan berpikir yang baik.
Selain itu, terdapat diskalkulia, yaitu gangguan yang memengaruhi kemampuan berhitung dan memahami konsep angka. Anak dengan diskalkulia dapat kesulitan mengenali pola angka, melakukan operasi matematika sederhana, atau memahami hubungan antara angka dan nilai.
Jenis lainnya adalah disgrafia, gangguan yang berkaitan dengan kemampuan menulis. Anak dengan kondisi ini dapat mengalami kesulitan menulis rapi, menyusun kalimat secara sistematis, atau menuangkan ide ke dalam bentuk tulisan. Gangguan-gangguan tersebut dapat muncul secara tunggal maupun bersamaan.
Dampak Akademik dan Psikologis
Learning disability tidak hanya berdampak pada prestasi akademik, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis anak. Anak yang terus-menerus mengalami kesulitan belajar berisiko mengalami penurunan rasa percaya diri, kecemasan, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi motivasi belajar dan hubungan anak dengan guru maupun teman sebaya.
Tekanan akademik yang tidak diimbangi dengan pemahaman yang tepat sering kali membuat anak merasa gagal. Tanpa pendampingan yang sesuai, anak dapat kehilangan minat belajar dan mengembangkan persepsi negatif terhadap kemampuan dirinya sendiri.
Pentingnya Deteksi Dini dan Pendekatan Tepat
Deteksi dini menjadi kunci utama dalam menangani learning disability. Pengamatan terhadap pola belajar anak, respons terhadap tugas sekolah, serta komunikasi yang baik antara orang tua dan guru sangat diperlukan. Evaluasi oleh tenaga profesional, seperti psikolog pendidikan atau ahli pendidikan khusus, membantu memastikan diagnosis yang tepat dan menghindari kesalahan penilaian.
Penanganan gangguan belajar tidak bertujuan untuk āmenyembuhkanā, melainkan membantu anak mengembangkan strategi belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Pendekatan pembelajaran individual, metode multisensori, serta lingkungan belajar yang suportif terbukti mampu membantu anak mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
Mendorong Pendidikan yang Inklusif dan Bebas Stigma
Masih kuatnya stigma terhadap anak dengan gangguan belajar menjadi tantangan tersendiri. Anak kerap dilabeli sebagai tidak mampu atau malas, padahal mereka hanya membutuhkan pendekatan yang berbeda. Oleh karena itu, peningkatan literasi masyarakat mengenai learning disability menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang lebih adil dan inklusif.
Pendidikan inklusif yang menghargai keberagaman cara belajar anak diharapkan mampu membuka ruang yang lebih luas bagi setiap anak untuk berkembang sesuai potensinya. Dengan dukungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, anak dengan learning disability dapat tumbuh menjadi individu yang percaya diri, mandiri, dan berprestasi di bidangnya masing-masing. (nid)














