Kanal24, Malang — Varian influenza A (H3N2) subclade K yang belakangan dikenal sebagai “super flu” telah terdeteksi di Indonesia dan menjadi perhatian publik. Meski istilah tersebut terdengar mengkhawatirkan, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa karakteristik penyakit yang ditimbulkan masih serupa dengan influenza musiman pada umumnya dan hingga kini situasinya dinilai terkendali.
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa temuan subclade K merupakan bagian dari hasil pemantauan rutin melalui sistem surveilans influenza yang dilakukan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan. Deteksi varian ini dilakukan menggunakan pemeriksaan laboratorium lanjutan, termasuk analisis genom virus, guna memastikan jenis dan subclade yang beredar di masyarakat.
Baca juga:
Liburan Peak Season Tetap Nyaman dan Seru
Dari hasil pemantauan tersebut, kasus influenza subclade K ditemukan di sejumlah provinsi dengan jumlah yang relatif terbatas. Sebaran kasus terbanyak tercatat di beberapa wilayah Pulau Jawa dan Kalimantan, sementara daerah lain melaporkan angka yang lebih rendah. Mayoritas pasien yang terkonfirmasi mengalami gejala ringan hingga sedang dan dapat pulih dengan perawatan standar.
Terkait gejala, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa keluhan yang muncul pada pasien subclade K pada umumnya tidak berbeda dengan flu musiman. Gejala yang paling sering dilaporkan meliputi demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, serta rasa lelah. Pada sebagian kecil kasus, terutama pada kelompok rentan, gejala dapat berlangsung lebih lama dan memerlukan pemantauan medis.
Kelompok yang dianggap paling berisiko terhadap dampak influenza, termasuk subclade K, adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu dengan penyakit penyerta seperti gangguan paru, jantung, diabetes, atau sistem imun yang lemah. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih waspada apabila mengalami gejala flu yang tidak kunjung membaik atau disertai keluhan berat seperti sesak napas dan demam tinggi berkepanjangan.
Kementerian Kesehatan juga meluruskan anggapan bahwa istilah “super flu” berarti virus ini lebih mematikan. Penamaan tersebut lebih banyak digunakan untuk menggambarkan penyebaran varian influenza tertentu yang cukup luas di beberapa negara. Hingga saat ini, tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa subclade K menyebabkan tingkat keparahan penyakit yang lebih tinggi dibandingkan influenza A (H3N2) lainnya.
Sebagai langkah pencegahan, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menggunakan masker saat sedang sakit atau berada di kerumunan, serta menjaga etika batuk dan bersin dinilai efektif untuk menekan penularan virus influenza. Selain itu, masyarakat juga disarankan untuk menjaga daya tahan tubuh melalui istirahat cukup, konsumsi gizi seimbang, dan aktivitas fisik teratur.
Vaksinasi influenza turut menjadi salah satu upaya penting dalam mengurangi risiko infeksi dan mencegah terjadinya komplikasi berat. Meski vaksin tidak selalu sepenuhnya mencegah infeksi, perlindungan yang diberikan dapat membantu meringankan gejala apabila seseorang terpapar virus influenza.
Kementerian Kesehatan memastikan akan terus memperkuat surveilans dan kesiapsiagaan di seluruh daerah guna memantau perkembangan situasi influenza, termasuk subclade K. Masyarakat diharapkan tetap tenang, tidak panik, serta bijak menyikapi informasi yang beredar dengan mengacu pada sumber resmi dan imbauan tenaga kesehatan. (nid)














