Kanal24, Malang – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan inflasi signifikan di sejumlah wilayah yang terdampak bencana alam di Pulau Sumatra pada akhir 2025. Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi tiga daerah dengan tingkat inflasi tertinggi secara nasional, seiring terganggunya distribusi barang dan melonjaknya harga kebutuhan pokok pascabencana banjir dan tanah longsor.
Dalam rilis terbarunya, BPS menjelaskan bahwa inflasi di ketiga provinsi tersebut meningkat tajam pada Desember 2025 setelah sebelumnya sempat mengalami deflasi pada bulan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa bencana alam tidak hanya berdampak pada aspek sosial dan lingkungan, tetapi juga memberi tekanan besar pada stabilitas ekonomi daerah, khususnya melalui jalur harga dan pasokan barang.
Baca juga:
Capaian Bulog Cetak Rekor Serapan Gabah 2025
Aceh menjadi provinsi dengan inflasi paling tinggi. Secara bulanan, inflasi di daerah ini melonjak drastis dan jauh melampaui rata-rata nasional. Kenaikan harga terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan komoditas beras menjadi penyumbang utama. Terhambatnya distribusi akibat kerusakan infrastruktur dan gangguan jalur logistik menyebabkan pasokan beras menipis di sejumlah wilayah, sehingga harga di tingkat konsumen meningkat tajam.
Sementara itu, Sumatera Utara juga mengalami tekanan inflasi yang kuat. Kenaikan harga cabai rawit menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi di provinsi ini. Produksi yang terganggu akibat cuaca ekstrem serta distribusi yang tidak lancar membuat pasokan cabai berkurang, sementara permintaan tetap tinggi menjelang akhir tahun. Kondisi serupa juga terjadi pada beberapa komoditas hortikultura lainnya.
Di Sumatera Barat, inflasi dipicu oleh kenaikan harga bawang merah dan sejumlah bahan pangan strategis. Bencana alam yang melanda beberapa daerah sentra produksi menyebabkan distribusi hasil pertanian tersendat. Akibatnya, harga komoditas tersebut naik dan memberi kontribusi besar terhadap inflasi daerah.
BPS menegaskan bahwa fenomena ini menunjukkan kuatnya keterkaitan antara bencana alam dan dinamika inflasi daerah. Ketika bencana terjadi, jalur distribusi terganggu, pasokan menurun, dan harga barang kebutuhan pokok cenderung meningkat. Dampaknya paling dirasakan oleh masyarakat berpenghasilan rendah yang sebagian besar pengeluarannya dialokasikan untuk konsumsi pangan.
Selain berdampak pada rumah tangga, lonjakan inflasi juga menekan pelaku usaha kecil dan pedagang lokal. Biaya logistik yang meningkat dan pasokan yang tidak stabil membuat margin usaha semakin tergerus. Jika kondisi ini berlangsung lama, dikhawatirkan dapat menghambat proses pemulihan ekonomi daerah pascabencana.
Meski demikian, secara nasional inflasi masih berada dalam rentang yang terkendali. Pemerintah dan otoritas terkait terus mendorong koordinasi untuk menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, terutama di wilayah terdampak bencana. Langkah-langkah seperti percepatan perbaikan infrastruktur, penguatan cadangan pangan, serta stabilisasi harga di tingkat daerah dinilai krusial untuk menekan tekanan inflasi.
Lonjakan inflasi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi pengingat penting bahwa mitigasi bencana dan ketahanan sistem distribusi memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas ekonomi. Ke depan, penguatan kesiapsiagaan dan respons cepat terhadap bencana diharapkan dapat meminimalkan dampak lanjutan, tidak hanya pada kehidupan sosial masyarakat, tetapi juga pada daya beli dan perekonomian daerah. (nid)















Comments 1