Kanal24, Malang – Glass ceiling atau “langit-langit kaca” kembali menjadi sorotan publik karena dampaknya yang nyata terhadap karier perempuan di berbagai sektor industri. Istilah ini merujuk pada hambatan tak terlihat yang menghalangi perempuan mencapai posisi puncak, meskipun mereka memiliki kualifikasi yang setara dengan rekan laki-laki.
Menurut sejumlah pakar human resources, meskipun perempuan telah menunjukkan kompetensi dan prestasi tinggi, mereka masih menghadapi batasan struktural yang membuat peluang untuk naik ke posisi kepemimpinan lebih sulit dibandingkan laki-laki.
Baca juga:
Motuba Murah Masih Jadi Andalan Gen Z untuk Mobilitas
Hambatan yang Tak Kasat Mata
Fenomena glass ceiling tidak muncul secara eksplisit melalui kebijakan perusahaan. Hambatan ini biasanya berupa budaya organisasi, stereotip gender, hingga bias tidak sadar yang memengaruhi keputusan promosi. Misalnya, perempuan sering dianggap kurang “siap” untuk mengambil peran strategis, padahal data kinerja menunjukkan sebaliknya.
Sebagai akibatnya, meskipun perempuan mendominasi di level operasional dan menengah, representasi mereka di jabatan eksekutif dan dewan direksi masih jauh lebih rendah dibandingkan laki-laki. Kondisi ini terlihat dari berbagai laporan statistik ketenagakerjaan yang menunjukkan keterbatasan perempuan untuk menembus jabatan puncak.
Dampak terhadap Karier dan Produktivitas
Fenomena glass ceiling berdampak tidak hanya pada individu, tetapi juga pada organisasi secara keseluruhan. Untuk perempuan, hambatan ini kerap menyebabkan stagnasi karier, rasa frustrasi, dan bahkan keputusan untuk keluar dari perusahaan. Situasi ini berdampak pada tingkat retensi talenta perempuan yang lebih rendah.
Secara organisasi, keberadaan hambatan tak terlihat tersebut berpotensi menghilangkan berbagai perspektif beragam dalam kepemimpinan. Beragam penelitian menunjukkan bahwa perusahaan dengan kepemimpinan inklusif, termasuk perempuan di posisi strategis, cenderung memiliki kinerja yang lebih baik.
Penyebab dan Pemicu Utama
Pakar menyoroti beberapa faktor yang memperkuat glass ceiling. Pertama, stereotip gender yang masih tertanam kuat di lingkungan kerja, seperti anggapan bahwa perempuan kurang tegas atau kurang fokus karena tanggung jawab keluarga. Kedua, kurangnya kebijakan fleksibilitas kerja yang mendukung perempuan menangani peran ganda sebagai profesional dan pengurus rumah tangga. Ketiga, minimnya program mentoring dan sponsorship khusus bagi perempuan untuk menyiapkan mereka ke jenjang eksekutif.
Upaya Perubahan yang Diperlukan
Untuk mengatasi fenomena ini, pakar menyarankan langkah-langkah konkret dari perusahaan. Pembentukan kebijakan yang mempromosikan kesetaraan gender, pelatihan bias tidak sadar untuk para manajer, serta penyediaan jalur karier yang transparan bagi perempuan disebut sebagai strategi penting.
Tidak kalah penting adalah dukungan pemberdayaan yang berkelanjutan, seperti program mentoring, jaringan profesional, serta kesempatan pelatihan kepemimpinan yang inklusif.
Tantangan ke Depan
Meskipun banyak perusahaan telah memperkenalkan inisiatif kesetaraan gender, glass ceiling tetap sulit dihapuskan karena berakar pada budaya organisasi dan persepsi sosial yang lebih luas. Perubahan membutuhkan komitmen jangka panjang dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemimpin perusahaan, profesional HR, serta pembuat kebijakan.
Dalam konteks global, beberapa negara telah menetapkan target atau kuota perempuan di posisi manajemen atas sebagai bagian dari strategi mempercepat representasi perempuan di ranah eksekutif. Di Indonesia, praktik serupa sedang mendapat perhatian di berbagai sektor, terutama perusahaan multinasional dan organisasi besar.
Fenomena glass ceiling menjadi pengingat bahwa kesetaraan gender di tempat kerja bukan sekadar slogan, tetapi realitas yang harus terus diperjuangkan. Menghapus batasan tak terlihat ini tidak hanya memberi ruang bagi perempuan untuk berkembang, tetapi juga memperkuat kualitas kepemimpinan organisasi secara keseluruhan. (qrn)














