Kanal24, Malang – Beberapa waktu terakhir, isu tentang penyakit yang disebut “super flu” ramai diperbincangkan di masyarakat. Berita tentang penularan yang cepat dan gejala yang berat membuat banyak orang bertanya: Apakah super flu lebih parah daripada COVID-19? Kekhawatiran ini muncul terutama karena pengalaman traumatis selama pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu.
Asal Usul dan Apa Itu Super Flu
Super flu bukanlah penyakit baru yang tiba-tiba muncul dari luar angkasa, melainkan istilah populer yang dipakai masyarakat untuk menggambarkan varian baru dari virus influenza A, tepatnya subkelompok yang kini dikenal luas sebagai subclade K. Virus influenza termasuk kelompok virus yang sudah lama menginfeksi manusia dan biasanya menyebabkan flu musiman yang sering kita alami.
Virus ini menyebar melalui percikan udara dari batuk atau bersin penderita, serta dapat menempel pada permukaan benda yang kemudian menyentuh mulut atau hidung orang lain. Penularan yang efisien memang membuat penyebarannya tampak cepat, tetapi karakteristik dasarnya sama seperti virus flu biasa.
Gejala yang Sering Membuat Panik
Gejala yang ditimbulkan oleh super flu mirip dengan flu pada umumnya, tetapi dalam beberapa kasus dapat muncul lebih cepat dan tampak lebih berat. Penderita bisa mengalami demam tinggi, nyeri otot, batuk, sakit tenggorokan, hingga kelelahan yang hebat. Karena muncul lebih cepat dan terasa intens, banyak orang menganggapnya sebagai tanda bahwa penyakit ini lebih berbahaya.
Beberapa kasus juga menunjukkan gejala seperti sesak napas atau sakit dada, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, atau mereka yang memiliki penyakit penyerta. Untuk pulih sepenuhnya, penderita mungkin membutuhkan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu, tergantung kondisi imunitas tubuh mereka.

COVID-19 dan Super Flu: Dua Virus Berbeda
Perbandingan antara super flu dan COVID-19 sering muncul di media sosial, tetapi penting untuk memahami bahwa keduanya disebabkan oleh virus yang berbeda. COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, sedangkan super flu berasal dari virus influenza A. Meskipun kedua penyakit bisa menyebabkan gejala pernapasan, progres dan komplikasi yang ditimbulkan berbeda.
COVID-19 dikenal menyebabkan komplikasi yang jauh lebih serius, termasuk radang paru-paru berat, gangguan pernapasan akut, dan kerusakan organ yang membutuhkan perawatan intensif. Berbagai gelombang pandemi COVID-19 juga memicu lonjakan kasus dan kematian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern.
Sementara itu, virus influenza subclade K dapat membuat gejala flu terasa lebih berat daripada flu biasa, tetapi tidak memiliki tingkat fatalitas dan komplikasi sistemik seberat COVID-19. Meski demikian, tetap penting bagi kelompok yang rentan untuk berhati-hati.
Tidak Lebih Mematikan, Tetapi Tetap Berisiko
Menteri Kesehatan Republik Indonesia dan berbagai lembaga kesehatan menegaskan bahwa super flu tidak termasuk virus baru yang sangat mematikan, dan klaim yang menyatakan bahwa penyakit ini lebih parah dari COVID-19 adalah salah. Virus influenza jenis ini sudah lama dikenal dan termasuk dalam kelompok virus musiman yang sifatnya relatif familiar bagi sistem imun banyak orang.
Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa influenza tetap bisa berdampak serius pada kelompok rentan, terutama anak-anak, orang tua, dan mereka dengan kondisi kesehatan tertentu. Oleh karena itu, kewaspadaan tidak boleh diabaikan hanya karena klaim soal “lebih ringan” atau “tidak mematikan”.
Upaya Pencegahan dan Kewaspadaan
Cara pencegahan utama yang dianjurkan tetap sama: vaksinasi influenza tahunan, menjaga kebersihan tangan, menutup mulut saat batuk atau bersin, serta menjaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat. Vaksin flu dinilai mampu menurunkan risiko infeksi dan keparahan penyakit, meskipun efektivitasnya dapat bervariasi tergantung varian virus yang beredar setiap musim.
Di tengah kekhawatiran publik, penting juga untuk menyaring informasi di media sosial dengan hati-hati dan mengacu pada sumber resmi. Waspada tidak berarti panik memahami karakteristik penyakit dan langkah pencegahannya adalah kunci agar masyarakat tetap tenang namun siap menghadapi risiko kesehatan yang mungkin muncul di masa depan. (qrn)













