Kanal24, Malang – Di tengah derasnya arus informasi global dan kuatnya dominasi media Barat dalam membentuk opini publik internasional, diskursus kritis mengenai pemberitaan Timur Tengah menjadi semakin relevan. Salah satu isu yang kerap dipahami secara parsial adalah Iran, negara yang sering direpresentasikan melalui framing konflik, sanksi, dan instabilitas. Berangkat dari kebutuhan akan literasi media yang lebih berimbang, sebuah forum akademik internasional digelar untuk mengulas realitas Iran di balik konstruksi narasi media global.
Webinar internasional bertajuk āIran di Balik Pemberitaan Media: Fakta Lapangan dan Narasi Baratā dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (15/01/2026). Kegiatan ini didukung oleh Iran Corner Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) bekerja sama dengan ICROāJakarta, serta menghadirkan akademisi dan analis internasional yang memiliki kompetensi di bidang media, geopolitik, dan kajian Timur Tengah. Webinar dimoderatori oleh Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int, Dosen Hubungan Internasional FISIP UB.

Membongkar Framing Media Barat
Dalam sesi pemaparan, Dr. Dina Y. Sulaeman, pengamat Timur Tengah dan analis geopolitik sekaligus Dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, menyoroti kecenderungan media arus utama Barat dalam menyederhanakan kompleksitas politik dan sosial Iran. Menurutnya, narasi yang dibangun sering kali bersifat selektif dan bias, sehingga menutup ruang bagi pemahaman yang utuh mengenai dinamika internal Iran.
Ia menekankan pentingnya literasi media kritis agar publik mampu membaca kepentingan politik yang melatarbelakangi pemberitaan internasional. Selain itu, Dr. Dina juga memaparkan berbagai capaian Iran di bidang sosial dan teknologi yang jarang mendapat sorotan media global.
Geopolitik dan Prinsip Kedaulatan Negara
Pembicara internasional lainnya, Syed Muhammad Mehdi, international media strategist sekaligus Chairman Institute of International Relations and Media Research (Pakistan), menilai bahwa pasca Arab Spring, intensitas intervensi Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah semakin meningkat. Ia menegaskan bahwa intervensi tersebut, termasuk terhadap Iran, kerap bertentangan dengan prinsip kedaulatan dan non-intervensi dalam hukum internasional.
Mehdi juga menjelaskan bahwa kebijakan pemutusan jaringan internet di Iran dilakukan sebagai langkah keamanan nasional untuk mencegah eskalasi kerusuhan. Dalam konteks regional, ia mendorong negara-negara mayoritas Muslim seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Turki untuk berperan sebagai jembatan dialog antara Iran dan Amerika Serikat.
Perspektif Resmi dari Iran
Dari pihak Iran, Dr. Yahya Jahan Giri, Konselor Kebudayaan Iran, menyampaikan bahwa tekanan ekonomi yang memicu sebagian aksi protes masyarakat tidak dapat dilepaskan dari blokade dan sanksi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat beserta sekutunya. Ia menegaskan bahwa penanganan demonstrasi dilakukan berdasarkan kebijakan keamanan nasional. Dr. Yahya juga mengungkapkan fakta bahwa dalam sejumlah insiden, terdapat aparat kepolisian Iran yang menjadi korban tewas akibat aksi demonstran bersenjata, sebuah aspek yang jarang diangkat dalam pemberitaan internasional.
Penguatan Iran Corner FISIP UB
Menutup rangkaian kegiatan, moderator sekaligus dosen FISIP UB, Abdullah, menyampaikan bahwa webinar ini tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga bagian dari strategi memperkuat Iran Corner FISIP UB sebagai pusat kajian Iran dan Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa kegiatan serupa akan terus dikembangkan untuk mendukung diplomasi akademik, memperkaya perspektif global, serta meningkatkan literasi geopolitik yang lebih objektif dan berimbang di kalangan sivitas akademika.
Webinar internasional ini mendapat sambutan antusias dari dosen, mahasiswa, serta peserta dari kalangan NGO dan organisasi keagamaan. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi pijakan awal bagi penguatan diskursus akademik yang lebih kritis dan objektif mengenai Iran di Indonesia, sekaligus mendorong publik untuk lebih cermat dalam menyikapi pemberitaan media internasional. (nid)














