Kanal24, Malang – Belakangan ini, pola makan makan hanya sekali sehari semakin banyak dibicarakan, terutama seiring tren diet ekstrem dan intermittent fasting seperti One Meal a Day (OMAD). Banyak orang melakukan pola makan ini dengan harapan dapat menurunkan berat badan atau mengefisiensikan waktu makan. Namun, pola makan yang tampak sederhana ini justru membawa sejumlah efek signifikan bagi kesehatan tubuh baik positif maupun negatif.
Apa Itu Makan Sehari Sekali?

Makan sehari sekali berarti seseorang hanya mengonsumsi satu kali makanan dalam 24 jam, biasanya dalam jendela waktu sekitar satu jam, sementara sisa waktu dihabiskan tanpa asupan kalori. Pola ini mirip dengan versi ekstrem intermittent fasting.
Meskipun ada klaim bahwa pola ini dapat membantu menurunkan berat badan, para ahli kesehatan tetap memperingatkan bahwa efeknya sangat tergantung pada komposisi nutrisi dan kondisi tubuh masing-masing orang.
1. Efek Terhadap Penurunan Berat Badan
Salah satu alasan utama orang memilih makan sekali sehari adalah untuk menurunkan berat badan dengan cepat. Ketika hanya makan satu kali dalam sehari, tubuh secara otomatis mengalami defisit kalori, yang berarti jumlah energi yang masuk lebih sedikit daripada yang dibakar tubuh. Akibatnya, tubuh akan memanfaatkan cadangan lemak untuk energi, sehingga membantu penurunan berat badan.
Namun, perlu diingat bahwa penurunan berat badan yang terlalu cepat bukan selalu sehat. Banyak studi menunjukkan bahwa diet ekstrem, termasuk OMAD, tidak selalu efektif dalam jangka panjang, dan berat badan yang turun bisa kembali dengan cepat ketika pola makan kembali normal.
Selain itu, penelitian juga menunjukkan bahwa pola makan satu kali sehari dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL (kolesterol ājahatā) dan tekanan darah, yang berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung bila dilakukan tanpa pengawasan medis.
2. Risiko Kekurangan Nutrisi
Salah satu dampak paling serius dari makan hanya satu kali sehari adalah kekurangan nutrisi. Karena tubuh hanya mendapatkan satu kesempatan makan dalam sehari, sangat sulit untuk memenuhi kebutuhan harian akan vitamin, mineral, protein, lemak sehat, serta serat yang diperlukan untuk fungsi tubuh optimal.
Kekurangan nutrisi dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan seperti:
- Lemahnya sistem imun, membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi
- Gangguan pertumbuhan dan regenerasi sel
- Kelelahan berkepanjangan dan kurang energi
Dalam dunia medis, dokter bahkan mengkhawatirkan bahwa pola makan ekstrem seperti makan sekali sehari dapat menyebabkan malnutrisi jika berlangsung lama, terutama pada anak, orang tua, atau orang dengan kondisi kesehatan tertentu.
3. Ketidakseimbangan Energi dan Hormonal
Makan sekali sehari memaksa tubuh untuk bertahan dalam keadaan tanpa energi selama waktu yang sangat panjang. Hal ini bisa memicu hormon ghrelin, hormon yang mengatur rasa lapar, menjadi meningkat secara signifikan. Akibatnya, seseorang sering merasa sangat lapar ketika waktu makan tiba, yang kemudian dapat mendorong kecenderungan makan berlebihan pada satu waktu.
Selain itu, pola makan ekstrem bisa menyebabkan gula darah tidak stabil bahkan pada orang tanpa diabetes. Penelitian menunjukkan bahwa makan sekali sehari terkait dengan lonjakan gula darah dan respon insulin yang buruk, yang bisa meningkatkan risiko resistensi insulin dan diabetes tipe 2 dalam jangka panjang.
4. Dampak pada Aktivitas Fisik dan Kinerja Otak
Tanpa asupan energi yang stabil, tubuh akan lebih cepat merasakan kelelahan, turunnya fokus, dan mood swing. Hal ini terutama terasa pada pagi hingga makan siang ketika tubuh belum mendapatkan sumber energi dari makanan sejak malam. Kondisi ini memengaruhi kinerja mental, kemampuan berkonsentrasi, serta performa fisik saat beraktivitas.
Ini juga berarti bagi orang yang bekerja berat, berolahraga, atau memiliki aktivitas tinggi di siang hari, makan sekali sehari bisa membuat seseorang lebih mudah lelah dan kurang produktif dibanding mereka yang makan dengan pola seimbang.
5. Masalah Pencernaan
Makan dalam jumlah besar sekaligus dapat membebani sistem pencernaan. Perut akan bekerja keras mencerna makanan yang banyak dan padat sekaligus, yang bisa menyebabkan asam lambung naik, perut kembung, atau gangguan pencernaan lain.
Perubahan pola makan ini juga dapat mengacaukan ritme normal tubuh dalam proses pencernaan dan metabolisme sehari-hari, sehingga lebih sering menimbulkan ketidaknyamanan gastrointestinal.
Kesimpulan: Makan Sehari Sekali Tidak Cocok untuk Semua
Secara garis besar, pola makan makan satu kali sehari memang bisa membantu penurunan berat badan dalam waktu singkat, tetapi datang dengan berbagai risiko kesehatan yang nyata seperti kekurangan nutrisi, perubahan hormon yang merugikan, gangguan pencernaan, serta efek negatif pada energi dan konsentrasi.
Ahli kesehatan umumnya tidak menyarankan pola ini sebagai gaya hidup jangka panjang, terutama tanpa pengawasan medis. Alternatif pola makan yang lebih seimbang misalnya tiga kali makan dengan porsi seimbang dan makanan bergizi lebih baik untuk kesehatan tubuh secara menyeluruh. (cay)














