Kanal24, Malang – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) diprediksi akan menjadi faktor utama perubahan dunia kerja pada 2026. Namun, perubahan ini tidak semata-mata berarti hilangnya pekerjaan manusia, melainkan pergeseran besar dalam cara bekerja, jenis keterampilan yang dibutuhkan, serta hubungan antara manusia dan teknologi. Dunia kerja memasuki fase baru yang menuntut adaptasi dari berbagai pihak.
1. Pergeseran Tugas, Bukan Hilangnya Profesi

Masuknya AI ke berbagai sektor kerja terutama berdampak pada tugas-tugas yang bersifat rutin dan berulang. Pekerjaan administratif, pengolahan data sederhana, hingga layanan pelanggan dasar kini semakin mudah diotomatisasi. Kondisi ini memunculkan anggapan bahwa AI akan menggantikan manusia sepenuhnya, padahal yang terjadi adalah pergeseran fungsi kerja.
Banyak profesi tidak hilang, tetapi mengalami perubahan peran. Pekerja kini lebih diarahkan untuk melakukan pengawasan, analisis, dan pengambilan keputusan yang membutuhkan penilaian manusia. AI berperan sebagai alat bantu yang mempercepat proses kerja, sementara manusia tetap menjadi penentu arah dan tanggung jawab akhir.
2. Keterampilan Baru Jadi Kunci Daya Saing

Perubahan dunia kerja akibat AI menuntut keterampilan yang berbeda dari sebelumnya. Keahlian teknis seperti analisis data, penguasaan teknologi digital, dan pemahaman sistem AI menjadi semakin penting. Namun, keterampilan non-teknis justru tidak kalah krusial.
Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan empati menjadi nilai tambah yang sulit digantikan oleh mesin. Pekerja yang mampu berkolaborasi dengan teknologi akan memiliki keunggulan di pasar kerja. Sebaliknya, mereka yang tidak melakukan peningkatan keterampilan berisiko tertinggal di tengah persaingan yang semakin ketat.
3. Tantangan dan Peluang Dunia Kerja Indonesia

Di Indonesia, dampak AI terhadap dunia kerja beririsan dengan persoalan lama, seperti tingginya jumlah angkatan kerja dan terbatasnya lapangan pekerjaan. Perubahan berbasis teknologi dapat menjadi tantangan serius jika tidak diiringi dengan kebijakan pendidikan dan pelatihan yang adaptif.
Namun di sisi lain, AI juga membuka peluang baru. Peningkatan produktivitas, efisiensi kerja, dan munculnya jenis pekerjaan baru dapat menjadi solusi jangka panjang jika dikelola dengan baik. Kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor industri menjadi kunci untuk memastikan tenaga kerja siap menghadapi era AI.
Menuju 2026, dunia kerja akan terus bergerak dinamis. AI bukanlah ancaman mutlak, melainkan alat yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan ekosistem kerja yang lebih produktif dan berkelanjutan, dengan manusia tetap memegang peran sentral di dalamnya. (ger)













