Kanal24, Malang – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali berada dalam tekanan serius memasuki awal 2026. Pelemahan mata uang nasional ini menjadi perhatian luas karena rupiah dinilai semakin dekat dengan level psikologis Rp17.000 per dolar AS. Kondisi tersebut tidak hanya mencerminkan gejolak jangka pendek, tetapi juga menunjukkan tantangan struktural yang masih membayangi perekonomian Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Dalam beberapa pekan terakhir, pergerakan rupiah cenderung melemah seiring menguatnya dolar AS di pasar internasional. Di pasar domestik, kurs di sektor perbankan dan transaksi valas menunjukkan tekanan yang konsisten, sementara di pasar keuangan global, ekspektasi pelaku pasar mengarah pada kemungkinan rupiah menembus level Rp17.000 apabila sentimen negatif terus berlanjut.
Baca juga:
Cuaca Ekstrem, PLN Tekankan Keselamatan Penggunaan Listrik
Tekanan Global Dorong Penguatan Dolar
Salah satu faktor utama yang menekan rupiah berasal dari dinamika global. Kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat, khususnya sikap bank sentral AS yang masih mempertahankan suku bunga tinggi, mendorong arus modal global kembali ke aset berbasis dolar. Kondisi ini membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada dalam posisi kurang menguntungkan.
Selain itu, ketegangan geopolitik dan perlambatan ekonomi di sejumlah kawasan turut memperkuat sentimen āflight to safetyā. Investor global cenderung menghindari aset berisiko dan memilih menyimpan dana dalam dolar AS, yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian. Dampaknya, permintaan dolar meningkat, sementara tekanan jual terhadap mata uang negara berkembang semakin besar.
Faktor Domestik Ikut Membebani Rupiah
Dari dalam negeri, kondisi fiskal dan kebutuhan devisa menjadi faktor yang tidak kalah penting. Kebutuhan impor, terutama untuk energi dan bahan baku industri, meningkatkan permintaan dolar AS secara struktural. Pada saat yang sama, defisit transaksi berjalan dan pembiayaan anggaran negara turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Sentimen terhadap stabilitas fiskal juga memengaruhi persepsi investor. Ketika pasar menilai ruang fiskal semakin terbatas, kepercayaan terhadap mata uang domestik bisa melemah. Dalam situasi seperti ini, rupiah menjadi lebih rentan terhadap guncangan eksternal, terutama ketika terjadi perubahan sentimen global secara cepat.
Risiko Ekonomi Jika Rupiah Terus Melemah
Apabila rupiah benar-benar menembus Rp17.000 per dolar AS, dampaknya berpotensi meluas ke berbagai sektor. Harga barang impor diperkirakan akan meningkat, sehingga berisiko mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor juga akan menghadapi kenaikan biaya produksi.
Selain itu, pelemahan rupiah akan berdampak pada beban pembayaran utang luar negeri, baik oleh pemerintah maupun swasta. Kewajiban dalam mata uang asing akan menjadi lebih mahal ketika dikonversi ke rupiah, sehingga berpotensi menekan kinerja keuangan dan ruang belanja.
Namun, di sisi lain, rupiah yang lebih lemah juga dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor. Produk-produk ekspor menjadi relatif lebih murah di pasar internasional, sehingga berpeluang meningkatkan daya saing dan penerimaan devisa. Meski demikian, manfaat ini sangat bergantung pada kemampuan industri dalam negeri memanfaatkan peluang tersebut.
Langkah Otoritas Jaga Stabilitas
Menghadapi tekanan tersebut, otoritas moneter terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar. Berbagai instrumen kebijakan ditempuh untuk meredam volatilitas berlebihan, termasuk intervensi di pasar valuta asing dan penguatan koordinasi kebijakan dengan pemerintah.
Pemerintah juga diharapkan memperkuat kepercayaan pasar melalui pengelolaan fiskal yang kredibel serta kebijakan ekonomi yang konsisten. Upaya menjaga inflasi, mendorong ekspor, dan menarik investasi menjadi kunci untuk menopang fundamental ekonomi di tengah tekanan global.
Secara keseluruhan, ancaman rupiah menembus Rp17.000 per dolar AS menjadi sinyal penting bahwa perekonomian Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Stabilitas nilai tukar tidak hanya bergantung pada faktor eksternal, tetapi juga pada kekuatan fundamental domestik dan respons kebijakan yang tepat. Dalam situasi penuh ketidakpastian ini, kehati-hatian dan konsistensi kebijakan menjadi faktor krusial untuk menjaga kepercayaan pasar dan stabilitas ekonomi nasional. (nid)














