Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) terus memperkuat perannya sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan melalui penguatan kebijakan dan perubahan budaya sivitas akademika. Upaya tersebut diwujudkan dengan menggelar Sosialisasi Program Smart Green Campus sebagai langkah strategis untuk menyamakan visi serta mendorong keterlibatan seluruh pimpinan dan unit kerja dalam mewujudkan kampus yang berkelanjutan.
Kegiatan Sosialisasi Program Smart Green Campus diselenggarakan oleh UPT Green Campus Universitas Brawijaya pada Senin (19/01/2026), bertempat di Aula Algoritma Lantai 2, Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB. Acara ini dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas, mulai dari Rektor, Wakil Rektor, Sekretaris Universitas, Dekan, hingga Wakil Dekan II dan Kepala Tata Usaha fakultas.
Baca juga:
Sinergi BWI, NU, dan Pemerintah Percepat Sertifikasi Tanah Wakaf

Green Campus sebagai Arah Kebijakan Universitas
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menegaskan bahwa Green Campus merupakan kebijakan strategis universitas yang tidak bisa dipersempit hanya pada isu lingkungan atau pengelolaan sampah semata.
āGreen Campus ini adalah kebijakan holistik untuk mengubah culture. Universitas Brawijaya harus berpikir tentang sustainability, baik lingkungan, manajemen, maupun mindset setiap individu di dalamnya,ā ujar Prof. Widodo.
Menurutnya, keberlanjutan harus menjadi landasan dalam seluruh aktivitas perguruan tinggi, mulai dari pendidikan, pengajaran, riset, hingga tata kelola administrasi. Oleh karena itu, tanggung jawab membangun kampus berkelanjutan tidak hanya berada di tangan pimpinan, melainkan menjadi kewajiban setiap sivitas akademika.
Digitalisasi sebagai Langkah Nyata Keberlanjutan
Salah satu langkah konkret yang disampaikan Rektor UB adalah pergeseran dari sistem berbasis kertas menuju digitalisasi. Selama ini, proses administrasi pendidikan maupun manajemen masih banyak menggunakan kertas, tinta, dan dokumen fisik yang berdampak pada lingkungan.
āKita secara bertahap melakukan shifting ke digital. Surat-menyurat, administrasi keuangan, hingga SPJ yang sebelumnya menggunakan banyak kertas, kini mulai kita alihkan ke sistem digital,ā jelasnya.
Digitalisasi ini diharapkan mampu mengurangi limbah kertas sekaligus menumbuhkan perilaku ramah lingkungan di lingkungan kampus. Selain itu, penggunaan energi listrik juga menjadi perhatian, mengingat sebagian besar sumber listrik masih berasal dari batu bara.

Perubahan Perilaku Jadi Kunci Utama
Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., menekankan bahwa keberhasilan Smart Green Campus sangat ditentukan oleh perubahan perilaku sivitas akademika. Ia menyebut bahwa target awal program ini adalah perubahan sederhana namun berdampak besar.
āTarget paling sederhana tahun ini adalah perubahan perilaku dalam pemilahan sampah. Kelihatannya mudah, tapi dalam praktiknya berat,ā ujarnya.
Seluruh fakultas diharapkan telah mengalokasikan anggaran untuk mendukung program Smart Green Campus. Mahasiswa juga akan dilibatkan secara aktif mengingat jumlahnya yang paling besar di lingkungan UB, termasuk melalui program Car Free Day setiap Jumat, kampanye penggunaan tumbler, serta penyediaan fasilitas pendukung ramah lingkungan.
Melalui sosialisasi ini, UB menegaskan komitmennya untuk menjadikan Smart Green Campus sebagai budaya bersama yang tumbuh secara berkelanjutan, bukan sekadar program jangka pendek. (nid/awn)














