Kanal24, Malang – Prestasi seniman Indonesia di ajang internasional bukanlah hal baru. Namun, kisah empat seniman asal Bali yang berhasil meraih Juara III dalam Harbin International Snow Sculpture Competition tetap menjadi sumber inspirasi. Pada kompetisi patung salju tingkat dunia ke-28 yang digelar di Sun Island, Harbin, China, mereka sukses menampilkan karya monumental bertajuk “Dewi Dhanwantari”, sebuah penghormatan terhadap figur spiritual yang sarat makna simbolis.
Kompetisi ini diikuti oleh 25 tim dari 13 negara. Di tengah suhu ekstrem yang mencapai minus 26 derajat Celsius, tim seniman Indonesia yang terdiri dari I Nyoman Sungada, I Ketut Suaryana, Gede Agus Kurniawan, dan I Gede Agustin Anggara Putra mampu menyelesaikan karya mereka dalam waktu sekitar 30 jam selama empat hari perlombaan.
Baca juga:
Kenduri dan Pagelaran Wayang Warnai Dies UB ke-63
Tantangan Fisik dan Mental di Suhu Ekstrem
Mengukir salju bukan sekadar praktik artistik, melainkan juga ujian fisik dan mental yang berat, terutama bagi seniman dari wilayah tropis seperti Indonesia. Para pemahat harus bekerja dalam suhu sangat rendah dengan mengenakan lapisan pakaian tebal, sarung tangan, serta perlengkapan pelindung lainnya agar tetap mampu menjaga fokus dan ketelitian.
Berbeda dengan media seperti kayu atau es padat, salju memiliki tekstur yang rapuh dan mudah runtuh. Setiap gerakan alat ukir harus presisi dan terukur. Seluruh proses pengerjaan dilakukan secara manual tanpa bantuan mesin berat, sehingga stamina fisik dan strategi kerja menjadi faktor penentu hasil akhir karya.
Dalam proses kompetisi, tim Indonesia juga menghadapi tantangan logistik. Mereka melakukan penggalangan dana secara mandiri, mulai dari biaya perjalanan hingga perlengkapan selama berada di Harbin. Demi efisiensi waktu, mereka bahkan membawa sarapan dan minuman hangat dari hotel ke lokasi lomba, mencerminkan keseriusan dan disiplin tinggi dalam berkarya.
Makna dan Filosofi di Balik “Dewi Dhanwantari”
Karya yang dihadirkan tim Indonesia tidak hanya menonjolkan aspek estetika, tetapi juga mengandung makna simbolik yang mendalam. Dewi Dhanwantari dikenal sebagai figur yang melambangkan kesejahteraan, kesehatan, dan kekuatan spiritual, khususnya dalam tradisi Hindu yang kuat di Bali.
Patung tersebut digambarkan memiliki sepuluh tangan yang masing-masing memegang simbol berbeda, seperti daun yang melambangkan alam semesta, bunga teratai sebagai simbol kesucian, guci berisi tirta amerta yang melambangkan keabadian, serta kotak lontar sebagai representasi ilmu pengetahuan. Setiap detail dirancang dengan cermat dan mengandung pesan filosofis tentang kehidupan dan keseimbangan, sebuah tantangan tersendiri ketika diwujudkan dalam skala besar dengan media salju.
Konsep karya ini muncul hanya lima hari sebelum penutupan pendaftaran kompetisi. Ide tersebut berkembang dari miniatur kecil yang kemudian disempurnakan menjadi patung monumental. Proses perancangan dan pembuatan miniatur memakan waktu sekitar dua minggu karena kompleksitas detail yang harus diperhitungkan.
Promosi Budaya dan Regenerasi Seniman
Keberhasilan tim Indonesia di Harbin tidak hanya soal raihan medali, tetapi juga menjadi bentuk nyata promosi budaya Indonesia di tingkat global. Karya mereka menarik perhatian pengunjung mancanegara yang tidak hanya mengagumi teknik dan detail ukiran, tetapi juga terkesan dengan latar belakang tim yang berasal dari negara tropis dan mampu berkarya di tengah salju.
Banyak pengunjung yang mengaku baru mengenal Bali lebih dalam, tidak sekadar sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai sumber kreativitas seni. Hal ini membuka ruang dialog budaya yang lebih luas di antara masyarakat internasional.
Selain itu, tim ini menegaskan pentingnya regenerasi dalam dunia seni. Dengan melibatkan anggota muda, mereka berupaya mewariskan pengalaman dan keterampilan kepada generasi penerus. Kompetisi internasional ini pun menjadi ruang pembelajaran, jejaring, serta pertukaran budaya antar seniman dari berbagai negara.
Prestasi tersebut membuka peluang kolaborasi global, termasuk undangan mengikuti kompetisi serupa di negara lain seperti Rusia dan Kanada. Upaya ini menunjukkan bahwa seni bukan hanya medium ekspresi kreatif, tetapi juga sarana diplomasi budaya yang efektif. (cay)














