Kanal24, Malang – Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026 resmi menjadi salah satu pintu awal masuk perguruan tinggi negeri bagi siswa SMA/SMK/MA di seluruh Indonesia. Jalur ini menekankan rekam jejak akademik siswa melalui nilai rapor, mata pelajaran pendukung, serta prestasi akademik dan nonakademik, sebagaimana diatur Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Dalam kebijakan nasional, SNBP menjadi jalur seleksi tanpa tes tulis dengan kuota minimal 20 persen dari total daya tampung perguruan tinggi negeri.
Universitas Brawijaya (UB) kembali menjadi salah satu kampus dengan daya tampung mahasiswa baru terbesar secara nasional. Untuk tahun akademik 2026, UB menyiapkan total hampir 17 ribu kursi mahasiswa baru dari seluruh jalur penerimaan, termasuk SNBP, SNBT, dan jalur mandiri.
Kepala Subdirektorat Penerimaan Mahasiswa Direktorat Administrasi dan Layanan Akademik (DALA) UB, Aulia Nur Mustaqiman, S.T.P., M.Sc., Ph.D. menjelaskan bahwa total daya tampung mahasiswa baru UB terus meningkat dari tahun ke tahun.
“Tahun 2024 itu sekitar 14 ribu sampai 15 ribu mahasiswa. Tahun 2025 naik menjadi 17 ribuan. Dan tahun 2026 ini insyaallah totalnya juga sekitar 17 ribuan, meskipun belum sampai 18 ribu,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa angka tersebut merupakan total penerimaan dari seluruh jalur, bukan hanya SNBP. Peningkatan daya tampung tersebut terjadi seiring bertambahnya program studi serta kapasitas kursi di masing-masing program studi.
“Program studi kita bertambah, otomatis kursinya juga bertambah. Ini menjadi peluang besar bagi adik-adik semua untuk bisa bergabung bersama Universitas Brawijaya,” ujarnya.
Dalam skema SNBP 2026, UB membuka sekitar 80 hingga 90 program studi dari total lebih dari 100 program studi yang dimiliki.
“Dari sekitar 109 program studi yang ada di UB, yang dibuka di SNBP itu sekitar 80 sampai 90-an. Jumlah ini termasuk yang paling banyak dibandingkan PTN lain,” kata Aulia.
UB juga terus mengembangkan program studi baru yang relevan dengan kebutuhan masa depan, seperti Sains Data, Bioinformatika, dan Industri Peternakan Cerdas. Namun demikian, tidak semua program studi baru dapat langsung dibuka di SNBP 2026.
“Izinnya sudah ada, tapi karena akreditasinya belum turun, maka belum bisa dimasukkan ke SNBP tahun ini,” jelasnya.
Terkait sistem seleksi, Aulia menegaskan bahwa UB sepenuhnya mengikuti ketentuan nasional.
“Kami mengacu pada peraturan Kemendikdasmen, bahwa SNBP itu 50 persen dari nilai rapor dan 50 persen dari mata pelajaran pendukung ditambah prestasi,” ujarnya.
UB juga memastikan jalur SNBP tetap inklusif bagi calon mahasiswa penyandang disabilitas.
“Memang tidak ada jalur khusus disabilitas di SNBP, tapi peserta difabel tetap kami dampingi dan kawal selama proses seleksi,” kata Aulia.
Ia menambahkan bahwa setiap program studi memiliki persyaratan khusus, termasuk ketentuan terkait kondisi disabilitas tertentu.
Untuk dukungan pembiayaan, mahasiswa yang diterima melalui SNBP tetap berkesempatan mengakses KIP Kuliah.“Pendaftaran KIP dilakukan melalui sistem tersendiri. Kalau sudah diterima dan memenuhi syarat, KIP bisa langsung diklaim,” jelasnya.
Menutup keterangannya, Aulia berpesan kepada calon peserta SNBP 2026.“Salah satu penyebab utama kegagalan SNBP adalah memilih PTN dengan program studi sedikit dan daya tampung kecil,” tegasnya.
“Kalau ingin peluang lebih besar, pilih PTN yang prodinya banyak dan kursinya besar. Salah satunya adalah Universitas Brawijaya,” pungkasnya.(Din/Qrn)














