Oleh: Nurul Muslihah*
Hari Gizi Nasional menjadi pengingat bahwa kualitas kesehatan bangsa sangat ditentukan oleh apa yang kita pilih dan sajikan di piring makan setiap hari. Pada peringatan Hari Gizi Nasional ke-66 Tahun 2026, yang mengusung tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” dengan slogan “Sehat Dimulai dari Piringku” menjadi pesan penting yang relevan dengan tantangan gizi Indonesia hari ini dan masa depan.
Tema ini menegaskan bahwa persoalan gizi tidak semata soal kecukupan makan, tetapi tentang keseimbangan, keberagaman, dan kedaulatan pangan. Di tengah derasnya arus produk pangan instan, ultra-proses, dan pangan impor, pangan lokal justru harus kembali ditempatkan sebagai fondasi utama pola makan sehat masyarakat Indonesia.
Dari Empat Sehat Lima Sempurna ke Gizi Seimbang
Selama puluhan tahun, masyarakat Indonesia akrab dengan konsep empat sehat lima sempurna. Namun, seiring berkembangnya ilmu gizi, konsep tersebut diperbarui menjadi gizi seimbang. Perubahan ini bukan sekadar pergantian istilah, tetapi pergeseran paradigma.
Gizi seimbang menekankan empat pilar utama, yakni konsumsi makanan yang beragam, aktivitas fisik yang cukup (minimal 30 menit per hari), penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, serta menjaga berat badan ideal. Artinya, sehat tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimakan, tetapi juga bagaimana pola hidup dijalani secara menyeluruh.
Tantangan terbesar dalam penerapan gizi seimbang adalah bagaimana konsep ini diterjemahkan secara praktis dalam konsumsi harian masyarakat. Banyak orang memahami istilahnya, tetapi belum tentu memahami implementasinya.
“Isi Piringku”: Menerjemahkan Konsep ke Praktik Sehari-hari
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Kesehatan memperkenalkan konsep Isi Piringku. Panduan ini menjadi alat bantu visual dan praktis agar masyarakat lebih mudah memahami porsi dan komposisi makan seimbang dalam satu kali sajian.
Dalam satu piring makan, sepertiga bagian diisi makanan pokok, sepertiga sayuran, sepertiga lauk pauk sebagai sumber protein hewani dan nabati, serta dilengkapi buah. Konsep ini sejalan dengan pendekatan global seperti MyPlate di berbagai negara, namun disesuaikan dengan konteks dan budaya pangan Indonesia.
Isi Piringku juga menegaskan bahwa konsumsi karbohidrat tidak harus selalu identik dengan nasi. Ubi, singkong, jagung, sorgum, mie, roti, dan sumber karbohidrat lainnya dapat menjadi pilihan setara, selama porsinya tepat dan diolah dengan baik.

Pangan Lokal dan Stigma “Kurang Bergizi”
Salah satu tantangan besar dalam edukasi gizi berbasis pangan lokal adalah stigma. Di sebagian masyarakat, pangan lokal kerap dianggap kurang bergizi, kalah modern, atau kalah prestise dibandingkan produk fortifikasi, pangan impor, dan makanan viral.
Padahal, pangan lokal Indonesia sangat kaya akan zat gizi dan memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan berkelanjutan. Dengan pengolahan yang tepat dan variasi menu yang kreatif, pangan lokal tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi, tetapi juga lebih aman, terjangkau, dan sesuai dengan budaya konsumsi masyarakat.
Sebagai contoh, dua centong nasi setara dengan satu buah ubi ukuran sedang atau porsi tertentu mie basah. Artinya, keberagaman sumber karbohidrat memungkinkan masyarakat tidak bergantung pada satu jenis pangan saja. Prinsip yang sama berlaku pada protein hewani dan nabati yang dapat diolah secara beragam, menarik secara visual, dan tetap bergizi seimbang.
Tantangan di Tengah Gempuran Pangan Ultra-Proses
Di era digital dan urbanisasi, masyarakat—terutama remaja dan dewasa muda—dibanjiri iklan pangan ultra-proses yang tinggi gula, garam, dan lemak. Produk-produk ini menawarkan kepraktisan dan rasa, tetapi menyimpan risiko kesehatan jangka panjang.
Dalam konsep gizi seimbang, perhatian terhadap konsumsi gula, garam, dan lemak menjadi sangat penting. Natrium, misalnya, tidak hanya berasal dari garam dapur, tetapi juga dari berbagai produk olahan yang dikonsumsi sehari-hari. Pola konsumsi semacam ini berkontribusi pada meningkatnya risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.
Karena itu, edukasi gizi harus mulai menekankan pentingnya memilih sumber karbohidrat dengan indeks glikemik yang lebih rendah, yang membantu menjaga kestabilan kadar gula darah dan menurunkan risiko penyakit metabolik.
Inovasi Pangan Lokal dan Perubahan Persepsi
Salah satu upaya untuk menjawab tantangan persepsi masyarakat adalah melalui inovasi pangan lokal, seperti pengembangan beras analog dari porang, singkong, jagung, atau umbi-umbian lainnya. Bentuknya menyerupai nasi, tetapi dengan karakteristik gizi yang berbeda dan manfaat kesehatan tertentu.
Inovasi semacam ini penting karena masih kuatnya anggapan bahwa “belum makan kalau belum makan nasi”. Padahal, singkong, ubi, atau jagung kerap dianggap sekadar camilan, bukan makanan pokok. Melalui inovasi dan edukasi, pangan lokal dapat diterima lebih luas tanpa menghilangkan identitas budaya makan masyarakat.
Edukasi Gizi: Dari Institusi hingga Keluarga
Upaya edukasi gizi berbasis pangan lokal sebenarnya telah berjalan melalui berbagai program, baik di sekolah, kampus, maupun komunitas. Program seperti Nutrition Goes to School dan integrasi edukasi gizi dalam kurikulum menjadi langkah strategis yang perlu diperluas.
Namun, kunci utama keberhasilan edukasi gizi tetap berada di tingkat keluarga. Rumah tangga—terutama peran ibu—menjadi pusat pengambilan keputusan terkait menu, pola makan, dan kebiasaan konsumsi. Pendampingan praktis seperti meal planning dan food preparation mingguan menjadi pendekatan realistis di tengah kesibukan keluarga modern.
Edukasi gizi bukan hanya soal informasi, tetapi juga soal dukungan agar keluarga mampu menerapkan pola makan sehat secara berkelanjutan.
Sehat Dimulai dari Piring Kita
Pada akhirnya, Hari Gizi Nasional mengingatkan kita bahwa gaya hidup sehat harus dimulai dari hal paling sederhana: piring makan kita sendiri. Mengonsumsi makanan beragam, bergizi seimbang, dan berbasis pangan lokal adalah langkah konkret untuk menjaga kesehatan individu sekaligus membangun generasi masa depan yang lebih kuat.
Kita perlu bangga pada pangan lokal, bukan hanya sebagai identitas budaya, tetapi sebagai solusi nyata untuk kesehatan dan ketahanan pangan bangsa. Tantangannya bukan pada ketersediaan, melainkan pada kemauan untuk mengolah, memilih, dan mengonsumsi dengan lebih bijak.
Karena sejatinya, masa depan Indonesia yang sehat dimulai dari piring hari ini.
*) Nurul Muslihah, S.P., M.Kes.
Ahli Gizi Universitas Brawijaya – Kepala Departemen Gizi FIKES UB














