Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) menegaskan posisinya sebagai perguruan tinggi riset dengan orientasi dampak melalui penguatan peran Dewan Profesor. Lewat forum Ngobras Rek, UB tidak sekadar membicarakan capaian akademik, tetapi juga merumuskan arah strategis riset, inovasi, dan publikasi yang relevan dengan tantangan nasional dan global.
Kegiatan Dewan Profesor yang digelar Rabu (28/01/2026) berlangsung dalam suasana informal namun sarat substansi. Dimulai dari olahraga bersama, diskusi lintas disiplin, hingga pemaparan kebijakan riset dan inovasi UB tahun 2026, forum ini mempertemukan pimpinan universitas, Dewan Profesor, serta perwakilan fakultas untuk membaca ulang posisi UB dalam peta riset nasional.
Baca juga:
Perluas Penghijauan Kampus, UB Tanam Ratusan Pohon

Ketua Dewan Profesor UB, Prof. Dr. Ir. Bambang Susilo, M.Sc.Agr., menegaskan bahwa profesor memiliki peran kunci dalam menggerakkan riset dan inovasi. Menurutnya, ruang dialog yang cair justru menjadi medium penting untuk melahirkan ide-ide kolaboratif yang berdampak nyata.
“Profesor itu basisnya riset dan inovasi. Melalui forum seperti ini, kami ingin diskusi tidak berhenti di ruang digital, tetapi bertemu langsung, berdialog, dan melahirkan gagasan riset yang bisa dikerjasamakan,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, Dewan Profesor UB menyoroti sejumlah isu riset prioritas yang dinilai mendesak untuk dijawab oleh perguruan tinggi. Pangan, energi, kesehatan, dan lingkungan menjadi fokus utama, sejalan dengan agenda strategis nasional.
Prof. Bambang menilai, tantangan Indonesia ke depan tidak cukup dijawab dengan pendekatan ketahanan semata, tetapi harus bergerak menuju kedaulatan. “Pangan dan energi adalah contoh nyata. Kita punya potensi besar, tetapi masih bergantung pada impor. Di sinilah peran riset universitas untuk memberi solusi berbasis ilmu pengetahuan,” jelasnya.
Lebih jauh, Dewan Profesor juga mendorong pergeseran orientasi riset dari sekadar publikasi menuju inovasi. Publikasi ilmiah tetap penting, namun tidak boleh berhenti sebagai capaian administratif semata. Riset, menurut Prof. Bambang, harus mampu menghasilkan nilai tambah yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Riset itu menghasilkan IPTEK. Ketika IPTEK itu bisa dimanfaatkan, bernilai ekonomi, dan menjawab persoalan publik, di situlah inovasi lahir,” tegasnya.
Komitmen tersebut diperkuat dengan berbagai indikator kinerja akademik UB yang dipaparkan dalam forum. Pendanaan penelitian di tingkat fakultas tercatat telah mencapai 76,9 persen, ditopang oleh skema pendanaan riset internal UB serta program peningkatan publikasi ilmiah.

Di tingkat nasional, UB mencatat 882 judul penelitian, angka yang menunjukkan konsistensi produktivitas riset meski masih perlu digenjot untuk memperkuat posisi dalam kompetisi nasional. Keaktifan dosen dalam pengajuan penelitian melalui skema DRPM dan BIMA juga menjadi perhatian utama, seiring dengan upaya meningkatkan kualitas pengabdian kepada masyarakat.
Tak hanya itu, UB juga menempatkan capaian international champion sebagai indikator penting dalam penguatan reputasi akademik global. Keterlibatan dosen lintas fakultas dalam publikasi internasional terus didorong, sekaligus menjadi tolok ukur pemerataan budaya riset di lingkungan universitas.
Melalui sinergi antara Dewan Profesor, pimpinan universitas, dan seluruh civitas akademika, UB menegaskan arah transformasi risetnya: dari produktivitas menuju relevansi, dari publikasi menuju dampak. Sebuah langkah strategis untuk memastikan bahwa riset yang dihasilkan tidak hanya bergaung di jurnal ilmiah, tetapi juga hadir sebagai solusi nyata bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.














