Kanal24, Malang – Menjalin hubungan asmara idealnya dibangun atas dasar kepercayaan, komunikasi, dan kedewasaan emosional. Namun dalam praktiknya, tidak semua hubungan berjalan mulus. Salah satu dinamika yang kerap muncul dan menjadi bahan perbincangan adalah hubungan dengan pasangan yang sangat bergantung pada ibunya, atau yang sering disebut sebagai anak mami. Kedekatan ini kerap menimbulkan dilema tersendiri dalam hubungan percintaan.
Fenomena anak mami bukan semata soal kasih sayang kepada orang tua, melainkan bagaimana seseorang menempatkan peran ibu dalam kehidupan pribadinya. Ketika hubungan tersebut tidak diimbangi dengan kemandirian dan batasan yang sehat, pasangan bisa merasakan tekanan emosional yang perlahan mengganggu keharmonisan hubungan.
Prioritas yang Kerap Berbenturan
Salah satu persoalan utama dalam menjalin hubungan dengan anak mami adalah soal prioritas. Pasangan sering kali merasa berada di posisi kedua setelah sang ibu. Rencana yang sudah disusun bersama bisa berubah sewaktu-waktu karena kebutuhan keluarga, atau keputusan penting diambil tanpa melibatkan pasangan terlebih dahulu.
Situasi ini dapat menimbulkan rasa kecewa dan tidak dihargai. Jika dibiarkan terus-menerus, benturan prioritas berpotensi memicu konflik yang lebih besar, mulai dari pertengkaran kecil hingga keretakan emosional. Hubungan yang seharusnya menjadi ruang aman justru berubah menjadi sumber tekanan batin.
Kemandirian Emosional yang Belum Utuh
Selain persoalan prioritas, anak mami sering dikaitkan dengan kurangnya kemandirian emosional. Dalam banyak kasus, pasangan merasa kekasihnya sulit mengambil keputusan sendiri tanpa restu orang tua, bahkan untuk hal-hal yang menyangkut hubungan mereka berdua.
Ketergantungan emosional ini dapat membuat pasangan merasa tidak sepenuhnya dipercaya atau dianggap setara. Hubungan pun terasa seperti melibatkan pihak ketiga secara tidak langsung. Padahal, kedewasaan dalam hubungan ditandai dengan kemampuan berdiskusi, mengambil keputusan bersama, dan menyelesaikan konflik secara mandiri.
Mencari Keseimbangan dalam Hubungan
Meski sering dipandang negatif, tidak semua anak mami membawa dampak buruk. Kedekatan dengan ibu juga dapat membentuk pribadi yang penuh empati, peduli, dan menghargai keluarga. Permasalahan muncul ketika kedekatan tersebut tidak disertai batasan yang jelas antara keluarga dan pasangan.
Kunci untuk menjaga hubungan tetap sehat terletak pada komunikasi terbuka dan kesepakatan bersama. Pasangan perlu menyampaikan perasaan dengan jujur, sementara anak mami perlu belajar menyeimbangkan peran keluarga dan hubungan asmara. Dengan kedewasaan emosional, hubungan yang semula terasa rumit tetap memiliki peluang untuk berkembang menjadi lebih stabil dan harmonis.
Hubungan dengan anak mami bukanlah hal yang salah, namun membutuhkan usaha ekstra dalam membangun keseimbangan. Tanpa komunikasi dan batasan yang sehat, cinta bisa terasa berat dan penuh konflik. Sebaliknya, dengan saling memahami dan menempatkan peran secara proporsional, hubungan dapat tumbuh dewasa tanpa harus mengorbankan keluarga maupun pasangan. (ger)













