Kanal24, Malang — Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (2/2/2026). Mata uang Garuda bergerak menguat seiring meredanya tekanan eksternal dan adanya optimisme pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik, meskipun sentimen global masih menjadi faktor penentu utama arah pergerakan rupiah.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah tercatat berada di kisaran Rp16.770-an per dolar AS, menguat dibandingkan posisi penutupan akhir pekan sebelumnya. Penguatan ini dinilai sebagai respons pasar terhadap pelemahan terbatas dolar AS serta sikap investor yang mulai kembali mencermati aset berdenominasi rupiah setelah periode volatilitas yang cukup tinggi.
Penguatan rupiah tersebut terjadi di tengah kondisi pasar global yang masih dibayangi ketidakpastian, terutama terkait arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan perkembangan ekonomi global. Namun, stabilitas makroekonomi dalam negeri menjadi salah satu faktor yang menahan pelemahan rupiah lebih dalam.
Baca juga:
J&T Express Global Catatkan Pengiriman 30 Miliar Paket Selama 2025
Dinamika Perdagangan Rupiah
Dalam beberapa hari terakhir, pergerakan rupiah terpantau fluktuatif. Pada akhir Januari 2026, rupiah sempat mengalami tekanan dan bergerak mendekati level Rp16.800 per dolar AS. Tekanan tersebut dipicu oleh penguatan dolar AS yang didorong ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS serta arus modal global yang cenderung berhati-hati.
Meski demikian, pada awal Februari ini, tekanan tersebut mulai mereda. Pelaku pasar menilai bahwa pelemahan rupiah sebelumnya masih dalam batas wajar dan belum mencerminkan adanya gangguan fundamental yang serius. Kondisi ini membuka ruang bagi rupiah untuk bergerak menguat secara terbatas.
Sentimen Global Masih Membayangi
Meskipun menguat, pergerakan rupiah dinilai masih rentan terhadap sentimen eksternal. Kebijakan moneter AS, khususnya terkait arah suku bunga dan sikap otoritas moneter terhadap inflasi, masih menjadi perhatian utama investor global. Setiap sinyal penguatan dolar AS berpotensi kembali menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, dinamika geopolitik dan pergerakan harga komoditas global turut memengaruhi sentimen pasar. Fluktuasi harga energi dan bahan baku strategis berpotensi berdampak pada neraca perdagangan dan arus devisa Indonesia, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah.
Dukungan Faktor Domestik
Dari sisi domestik, stabilitas ekonomi nasional dinilai masih cukup solid. Inflasi yang terkendali, kebijakan moneter yang konsisten, serta koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter menjadi faktor penopang pergerakan rupiah. Selain itu, ekspektasi terhadap kinerja ekspor dan konsumsi domestik juga turut memberikan sentimen positif bagi pasar.
Pelaku pasar menilai bahwa selama tidak ada tekanan eksternal yang signifikan, rupiah berpeluang bergerak stabil di kisaran saat ini. Namun, volatilitas jangka pendek masih berpotensi terjadi seiring rilis data ekonomi global maupun domestik yang dapat memengaruhi persepsi investor.
Prospek Pergerakan Selanjutnya
Ke depan, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan stabil di rentang Rp16.700–Rp16.800 per dolar AS. Investor akan terus mencermati perkembangan global, khususnya kebijakan bank sentral AS, serta data ekonomi domestik yang dapat menjadi katalis pergerakan lanjutan.
Penguatan rupiah di awal Februari ini menjadi sinyal positif, meskipun masih bersifat terbatas. Konsistensi kebijakan dan kepercayaan pasar akan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tantangan ekonomi global yang masih berlangsung. (nid)














