Kanal24, Malang – Seni kriya tak lagi sekadar produk visual atau sandang yang dipamerkan di ruang galeri. Melalui Pameran Seni Kriya Tekstil dan Sandang Jelang Julang 5 bertajuk “Ayo Dolan lan Jajan”, kriya ditempatkan sebagai medium cerita, identitas, sekaligus penggerak ekonomi kreatif lokal. Pameran ini digelar di Malang Creative Center (3/2/2026)
Pameran ini mempertemukan pengrajin, pelaku seni, pelajar SMK, hingga akademisi dalam satu ekosistem kolaboratif. Jelang Julang bukan hanya ruang temu karya, tetapi juga ruang belajar dan inkubasi yang menempatkan kriya tekstil sebagai bagian dari narasi besar Kota Malang: kota kreatif, kota wisata, dan kota yang hidup dari ceritanya sendiri.
Exhibition Director sekaligus Art Curator Jelang Julang 5, Fikrah Ryanda, menjelaskan bahwa tema Ayo Dolan lan Jajan sengaja dipilih untuk mengajak publik mengenal Malang secara utuh—bukan hanya lewat destinasi, tetapi juga lewat produk dan kisah di baliknya.
“Yang kami jual bukan hanya produknya, tapi ceritanya. Ketika orang membawa pulang kain atau busana dari sini, mereka juga membawa cerita tentang Malang,” ujarnya.
Pameran ini melibatkan beragam pengrajin lokal, mulai dari Hamparan Rintik Dinoyo, Batik Belimbing, Griya Madukara Polehan, hingga Batik Sundari kawasan Soekarno Hatta. Karya-karya tersebut berdialog dengan hasil inkubasi siswa SMK yang selama empat bulan terakhir menjalani proses kurasi, pendampingan bisnis, hingga pembentukan merek.

Keistimewaan Jelang Julang 5 terletak pada pendekatan proses. Tidak berhenti pada estetika, pameran ini menekankan kesiapan karya untuk hidup di ruang pasar. Siswa dari berbagai jurusan—DKV, tata busana, kriya, pengolahan pangan, hingga teknik industri—dipertemukan dalam kerja lintas disiplin. Mereka belajar tidak hanya mencipta, tetapi juga mengelola produksi, keuangan, dan kolaborasi.
“Inkubasi ini memaksa mereka keluar dari zona nyaman. Ada yang awalnya tidak paham kriya, tapi akhirnya bisa menghasilkan produk dan model bisnis,” kata Fikrah. Bahkan, salah satu kelompok siswa SMK telah berhasil menempatkan produknya di toko oleh-oleh, meski masih terkendala aspek perizinan karena usia.
Nilai edukatif Jelang Julang juga tampak dari perluasan makna kriya yang dihadirkan. Tahun ini, pameran menghadirkan workshop pembuatan tempe—ikon kuliner Malang—sebagai simbol bahwa kriya tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan pangan, budaya, dan keseharian masyarakat. Selain itu, teknik kriya baru seperti cukil stem turut diperkenalkan, hasil eksplorasi seniman muda alumni Universitas Brawijaya.
Lebih dari sekadar pameran tahunan, Jelang Julang menempatkan kriya sebagai pintu masuk pembentukan mental kewirausahaan kreatif. Pesan yang dibawa sederhana namun kuat: lulus sekolah atau kuliah bukan akhir dari proses belajar, dan bekerja tidak harus meniadakan peluang berkarya dan berbisnis secara mandiri.
Harapan dari penyelenggara pun berpijak pada keberlanjutan. Bukan hanya soal transaksi yang tercipta selama pameran, tetapi tentang tumbuhnya kepercayaan diri generasi muda untuk bertahan dan berkembang di sektor kreatif. “Semoga ini bukan berhenti di Jelang Julang 5, tapi berlanjut ke Jelang Julang berikutnya dengan lebih banyak karya dan pelaku yang tumbuh,” tutup Fikrah.
Melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis proses, Jelang Julang 5 menegaskan bahwa seni kriya tekstil bukan sekadar produk, melainkan medium membangun identitas kota, menggerakkan ekonomi lokal, dan menyiapkan generasi kreator yang berpikir lintas batas.(Din)













