Kanal24, Malang – Virus Nipah menjadi perhatian dunia kesehatan karena tingkat fatalitasnya yang tinggi dan kemampuannya menyerang organ vital manusia. Virus zoonosis ini dinilai berbahaya lantaran dapat menyebabkan gangguan serius pada sistem saraf dan pernapasan, bahkan berujung pada kematian jika tidak ditangani secara tepat.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya sekaligus Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Milanitalia Gadys Rosandy, Sp.PD, menjelaskan bahwa virus Nipah memiliki karakteristik yang sangat agresif terhadap tubuh manusia. Hal tersebut ia sampaikan dalam wawancara eksklusif bersama Kanal24 pada Selasa (03/02/2026).
āVirus Nipah ini sangat berbahaya karena dapat langsung menyerang organ vital seperti otak dan pernapasan. Virus ini bisa menembus sistem saraf dan menyebabkan ensefalitis atau radang otak yang berkembang cepat, mulai dari demam, penurunan kesadaran, hingga koma,ā jelasnya.
Baca juga:
Disleksia, Gangguan Belajar yang Disalahpahami

Serangan Cepat ke Otak dan Paru-paru
Menurut dr. Milanitalia, selain menyerang otak, virus Nipah juga dapat menimbulkan peradangan hebat pada paru-paru. Kondisi ini berpotensi menyebabkan gagal napas akut pada pasien. Kombinasi antara gangguan saraf dan pernapasan inilah yang membuat angka kematian akibat virus Nipah tergolong tinggi dibandingkan infeksi virus lainnya.
Ia menegaskan bahwa perkembangan penyakit dapat berlangsung sangat cepat sehingga keterlambatan penanganan menjadi faktor risiko utama meningkatnya fatalitas.
Gejala Awal Sulit Dibedakan
Pada fase awal infeksi, gejala virus Nipah kerap menyerupai penyakit infeksi lain. āKeluhannya bisa berupa demam tinggi, sesak napas, penurunan kesadaran, hingga kejang. Karena mirip dengan infeksi virus lain, ini yang membuatnya sulit dikenali sejak dini,ā ungkap dr. Milanitalia.
Meski demikian, kombinasi gejala neurologis dan pernapasan harus menjadi alarm bagi tenaga medis maupun masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis.
Kelompok Rentan Perlu Kewaspadaan Ekstra
Virus Nipah dapat menyerang semua kelompok usia, namun risiko fatal lebih tinggi pada kelompok tertentu. āKita harus sangat berhati-hati pada usia lanjut, anak-anak, serta individu dengan daya tahan tubuh rendah atau imunokompromais. Pada kelompok ini, dampaknya bisa jauh lebih berat,ā jelasnya.
Penanganan Medis Masih Bersifat Simptomatik
Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun obat khusus untuk virus Nipah. Penanganan pasien di rumah sakit dilakukan secara simptomatik. āJika pasien demam, kita berikan obat demam. Bila sesak, kita berikan oksigen. Untuk kondisi berat, tentu dilakukan penanganan lanjutan di ruang isolasi,ā ujar dr. Milanitalia.
Ia menambahkan, tenaga medis harus menerapkan protokol pengendalian infeksi yang ketat, mulai dari penggunaan alat pelindung diri hingga isolasi pasien, mengingat virus ini masih dalam tahap penelitian lebih lanjut untuk pengobatan definitifnya. (nid/yor)














