Kanal24, Malang – Ancaman masuknya virus Nipah ke Indonesia menjadi perhatian serius berbagai pihak. Meski hingga kini belum ditemukan kasus di dalam negeri, langkah antisipasi dan kesiapsiagaan dinilai penting untuk mencegah terulangnya krisis kesehatan seperti pandemi sebelumnya.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, dr. Milanitalia Gadys Rosandy, Sp.PD, menilai kewaspadaan harus dibangun secara kolektif oleh pemerintah, fasilitas kesehatan, akademisi, dan masyarakat. Hal tersebut ia sampaikan dalam wawancara eksklusif dengan Kanal24, Selasa (03/02/2026).
Baca juga :
Dosen FK UB Ungkap Alasan Virus Nipah Sangat Mematikan

Karantina dan Screening Jadi Kunci
Menanggapi pernyataan pemerintah terkait pentingnya karantina, dr. Milanitalia menyebut langkah tersebut sangat relevan. āKarantina harus diawali dengan screening ketat, terutama pada individu berisiko tinggi atau yang menunjukkan gejala pernapasan,ā ujarnya.
Ia mencontohkan penerapan screening di bandara dan terminal sebagai langkah krusial untuk mencegah masuknya virus dari luar negeri melalui mobilitas wisatawan.
Menurutnya, sebagian besar rumah sakit di Indonesia, termasuk di Jawa Timur, telah memiliki ruang isolasi khusus untuk penyakit infeksi emerging. āRumah sakit sudah mulai menyiapkan ruang isolasi tersendiri. Ini penting agar kita tidak kembali mengalami wabah besar seperti pandemi COVID-19,ā jelasnya.
Baca juga:
Wamenkes Dorong Penguatan Karantina Cegah Virus Nipah
Peran Masyarakat dalam Pencegahan
Selain fasilitas kesehatan, peran masyarakat menjadi faktor penting dalam pencegahan. Dr. Milanitalia mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti rajin mencuci tangan, menggunakan masker di area berisiko, serta menjaga kebersihan diri setelah beraktivitas di luar rumah.
āKewaspadaan itu perlu, tetapi bukan berarti panik. Proteksi diri harus dilakukan secara rasional,ā tegasnya.
Edukasi Publik Tanpa Kepanikan
Ia juga mengingatkan masyarakat agar bijak menyikapi informasi di media sosial. āApa yang dibaca di media sosial belum tentu benar. Jika ragu atau mengalami gejala, sebaiknya konsultasi langsung ke tenaga kesehatan,ā katanya.
Sebagai akademisi, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berperan aktif dalam meningkatkan kewaspadaan melalui seminar, sosialisasi, serta edukasi ke masyarakat dan sekolah-sekolah. āEdukasi berbasis ilmu pengetahuan menjadi kunci agar masyarakat waspada tanpa rasa takut berlebihan,ā pungkasnya. (nid/yor)














