Kanal24, Malang – Aktivis mahasiswa dihadapkan pada tantangan dunia yang semakin dinamis, kompetitif, dan penuh risiko seiring pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Hal tersebut disampaikan oleh Syamsul Huda Yudha, S.H., M.H., Managing Alliances YAR Law Firm, saat menjadi pemateri dalam kegiatan Sekolah Aktivis dan Rapat Kerja Pengurus Organisasi Kemahasiswaan Fakultas Hukum Universitas Brawijaya 2026. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis (05/02/2026), di Hall Rudi Margono & Didik Farkhan Lantai 10 Gedung C FH UB, dan diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Brawijaya.
Aktivisme di Tengah Dunia yang Dinamis
Syamsul menekankan bahwa setiap gerakan aktivisme mahasiswa saat ini tidak dapat dilepaskan dari jejak digital. Oleh karena itu, mahasiswa harus memiliki prinsip, visi, dan misi yang jelas dalam berorganisasi.
āDunia hari ini sangat aktif, dinamis, kompetitif, dan penuh risiko. Setiap gerakan pasti meninggalkan jejak elektronik dan itu tidak bisa dipisahkan,ā tegasnya.
Ia mengingatkan agar aktivis mahasiswa tidak bergerak tanpa arah dan mampu memverifikasi setiap informasi sebelum mengambil sikap.
Baca juga:
Pascasarjana UB, Go Global lewat Joint dan Double Degree
Artificial Intelligence Bukan Pengganti Manusia
Dalam pemaparannya, Syamsul juga menyoroti peran artificial intelligence (AI) yang semakin masif digunakan mahasiswa. Ia menegaskan bahwa AI harus diposisikan sebagai alat bantu.
āArtificial intelligence harus dijadikan sebagai alat bantu, bukan sesuatu yang menggantikan diri atau menggantikan sebuah karya. Kita memiliki roh, sementara AI tidak,ā ujarnya.
Menurutnya, ketergantungan berlebihan pada AI berpotensi menghilangkan daya kritis dan keunikan manusia dalam berkarya.
Tanggung Jawab Moral dalam Prompting AI
Syamsul menambahkan bahwa aktivitas prompting dalam AI juga memuat tanggung jawab moral yang besar, terutama bagi aktivis mahasiswa.
āOrang-orang yang banyak melakukan prompting di dalam AI harus dimintai pertanggungjawaban. Aktivis punya tanggung jawab besar bagaimana mengisi AI dengan prinsip dan etika yang baik,ā katanya.
Ia menilai bahwa aktivis mahasiswa memiliki peran strategis dalam memastikan teknologi membawa manfaat sosial yang luas.

Mindset Berpikir sebagai Agen Perubahan
Menutup materinya, Syamsul mengajak mahasiswa untuk membangun pola pikir yang berbeda dan sistematis dalam menghadapi persoalan.
āSejarah membuktikan bahwa tokoh-tokoh besar adalah mereka yang mampu menyaring informasi dan memiliki mindset yang berbeda dengan kebanyakan orang,ā pungkasnya.
Ia berharap para aktivis mahasiswa FH UB mampu menjadi agen perubahan yang berintegritas, kritis, dan beretika di tengah tantangan era kecerdasan buatan. (nid)














