Kanal24, Malang – Ajang 11th Choir Festival Universitas Brawijaya (BCF) digelar sebagai ruang kompetisi sekaligus apresiasi seni vokal tingkat nasional. Festival ini menghadirkan puluhan tim paduan suara dan solo vokal dari berbagai daerah, sekaligus menjadi momentum kebangkitan BCF setelah terakhir kali diselenggarakan pada 2022.
Ketua Pelaksana 11th BCF, Hanan Shafiyah, menyampaikan bahwa festival ini diharapkan mampu meningkatkan semangat berkesenian dan prestasi, khususnya bagi pegiat paduan suara. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Unit Aktivitas Paduan Suara Mahasiswa Universitas Brawijaya, berlangsung pada 3ā7 Februari 2026 di Auditorium Brawijaya, Universitas Brawijaya, Malang.
Baca juga:
Akademisi UB Ungkap Bahaya Child Grooming pada Anak

Kembalinya Brawijaya Choir Festival
Setelah sempat vakum selama beberapa tahun, Brawijaya Choir Festival akhirnya kembali hadir pada 2026. Hanan Shafiyah menjelaskan bahwa BCF ke-11 menjadi ajang kompetisi paduan suara dan solo vokal tingkat nasional yang melibatkan peserta dari berbagai wilayah Indonesia.
ā11 Brawijaya Choir Festival ini merupakan ajang kompetisi paduan suara dan juga solo vokal tingkat nasional. Setelah terakhir diadakan pada 2022, akhirnya tahun 2026 ini bisa kembali diselenggarakan dan kami mengundang banyak tim dari tingkat nasional,ā ujar Hanan saat diwawancarai pada Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, kembalinya BCF menjadi bukti komitmen Universitas Brawijaya dalam mendukung pengembangan seni musik vokal di kalangan mahasiswa dan masyarakat luas. Festival ini tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga sebagai wadah silaturahmi dan pertukaran pengalaman antarpelaku seni paduan suara.
Ratusan Peserta Ramaikan Kompetisi
BCF ke-11 diikuti oleh total sekitar 124 peserta yang terbagi dalam dua kategori utama, yakni paduan suara dan solo vokal. Dari jumlah tersebut, terdapat sekitar 47 tim kuayer dengan jumlah tim paduan suara mencapai kurang lebih 40 tim, serta 76 peserta solo vokal.
āUntuk jumlah peserta tahun ini ada sekitar 124 peserta yang terbagi menjadi tim kuayer dan solo vokal. Antusiasmenya cukup tinggi dan ini menjadi salah satu penyelenggaraan terbesar kami,ā jelas Hanan.
Selama lima hari pelaksanaan, peserta tampil secara bergantian di Auditorium Brawijaya dengan membawakan repertoar pilihan yang dinilai oleh dewan juri profesional dari kalangan musisi dan akademisi musik. Kehadiran juri-juri berpengalaman turut menambah gengsi sekaligus tantangan bagi para peserta.
Tantangan Panitia Baru
Menariknya, BCF ke-11 dikelola oleh panitia yang sebagian besar merupakan generasi baru. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam proses persiapan dan pelaksanaan acara.
āSalah satu tantangan kami adalah hampir seluruh panitia tahun ini merupakan panitia baru yang belum pernah terjun langsung di BCF sebelumnya. Jadi kami harus kembali mempelajari dan membangun penyelenggaraan BCF dari tahun-tahun sebelumnya,ā ungkap Hanan.
Meski demikian, tantangan tersebut justru menjadi pengalaman berharga bagi panitia dalam mengasah kemampuan manajerial dan kerja tim. Dengan dukungan berbagai pihak, BCF ke-11 tetap dapat berjalan lancar dan sesuai rencana.
Pengalaman Peserta di Panggung Nasional
Salah satu peserta solo vokal, Berryl Carlos Manuel, mengaku merasakan ketegangan sekaligus kebanggaan saat tampil di BCF ke-11. Ia menyebut festival ini sebagai salah satu lomba terbesar yang pertama kali ia ikuti.
āTentunya cukup tegang, apalagi melihat juri-jurinya yang top semua. Tapi setelah selesai tampil, rasanya senang karena sudah terlewati,ā ujar Berryl usai penampilannya pada Jumat (5/2/2026).
Berryl juga mengungkapkan tantangan utama yang ia hadapi, terutama dalam membawakan lagu berbahasa asing. āLagu saya berbahasa Prancis, jadi cukup sulit di bagian bahasa. Sebagai solois, saya harus benar-benar mengeksplorasi apa yang diinginkan komposer dan cerita dari lagu itu sendiri,ā tambahnya.

Harapan untuk Apresiasi Seni
Melalui BCF ke-11, panitia berharap festival ini mampu meningkatkan apresiasi seni, khususnya paduan suara, serta menjadi ruang ekspresi bagi generasi muda.
āHarapannya, Brawijaya Choir Festival bisa meningkatkan apresiasi seni dan menjadi wadah bagi teman-teman pegiat paduan suara untuk mengekspresikan bakatnya, sekaligus meningkatkan prestasi di lingkungan Universitas Brawijaya,ā tutur Hanan.
Sementara itu, Berryl berharap festival seperti ini dapat terus berlanjut. āSaya berharap kegiatan choir festival seperti ini selalu ada. Semoga Brawijaya Choir Festival bisa terus berlanjut setiap tahun dan menginspirasi anak muda Indonesia,ā pungkasnya.
Dengan antusiasme peserta dan dukungan penuh dari penyelenggara, 11th Choir Festival Universitas Brawijaya diharapkan menjadi tonggak penting dalam pengembangan seni paduan suara nasional. (nid/qrn/cay)














