Kanal24, Malang – Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 tercatat sebesar 5,11 persen secara tahunan. Capaian tersebut menunjukkan perekonomian nasional masih berada pada jalur ekspansif di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya mereda. Meski sedikit di bawah target awal pemerintah, angka ini tetap mencerminkan daya tahan ekonomi domestik yang ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta aktivitas sektor riil.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 mencapai 5,39 persen, menjadi laju tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kinerja positif pada akhir tahun ini turut mengerek pertumbuhan tahunan secara keseluruhan. Pemerintah menilai momentum tersebut perlu dijaga melalui kebijakan fiskal dan stimulus yang tepat sasaran.
Baca juga:
BSN Perkuat Peran sebagai Bank Utama Developer
Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Aktivitas belanja masyarakat tetap terjaga, didukung stabilitas harga dan berbagai program perlindungan sosial. Selain itu, pembentukan modal tetap bruto atau investasi juga menunjukkan tren positif seiring berlanjutnya proyek infrastruktur dan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha.
Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto. Sektor perdagangan, pertanian, serta transportasi dan pergudangan turut mencatatkan pertumbuhan yang solid. Aktivitas ekonomi di Pulau Jawa masih mendominasi, meskipun wilayah lain seperti Sumatra dan Sulawesi juga menunjukkan peningkatan kontribusi.
Meski pertumbuhan ekonomi terjaga, pemerintah menyoroti tantangan pada sisi penerimaan negara, khususnya perpajakan. Pertumbuhan produk domestik bruto yang relatif stabil belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan rasio pajak secara signifikan. Kondisi ini menjadi perhatian utama dalam perumusan kebijakan fiskal ke depan.
Pemerintah menilai ruang untuk menaikkan pajak secara agresif masih terbatas. Oleh karena itu, fokus diarahkan pada optimalisasi basis pajak, perbaikan administrasi, serta peningkatan kepatuhan wajib pajak tanpa membebani aktivitas ekonomi. Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan penerimaan negara dan keberlanjutan pertumbuhan.
Untuk menjaga momentum ekonomi, pemerintah menyiapkan paket stimulus baru yang direncanakan diluncurkan dalam waktu dekat. Stimulus tersebut difokuskan untuk mendorong konsumsi masyarakat, terutama menjelang periode dengan aktivitas belanja yang tinggi. Salah satu skema yang disiapkan adalah insentif fiskal melalui pajak pertambahan nilai yang ditanggung pemerintah pada sektor-sektor tertentu.
Selain mendorong konsumsi, stimulus juga diarahkan untuk menopang sektor produktif dan pariwisata. Pemerintah berharap kebijakan ini mampu memberikan efek berganda terhadap perekonomian, mulai dari peningkatan permintaan hingga penciptaan lapangan kerja.
Di sisi lain, perekonomian Indonesia masih menghadapi tantangan eksternal, termasuk ketidakpastian ekonomi global, dinamika geopolitik, serta fluktuasi harga komoditas. Faktor-faktor tersebut menuntut pemerintah untuk tetap waspada dan menjaga stabilitas makroekonomi melalui koordinasi kebijakan fiskal dan moneter.
Ke depan, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi dapat terus ditingkatkan. Dengan dukungan konsumsi domestik yang kuat, iklim investasi yang terjaga, serta stimulus yang terukur, ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh lebih tinggi pada tahun berikutnya. Namun, reformasi struktural, penguatan basis pajak, dan peningkatan kualitas belanja negara dinilai menjadi kunci agar pertumbuhan tersebut dapat berkelanjutan. (nid)













