Kanal24, Malang – Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa penurunan outlook kredit Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service dari stabil menjadi negatif tidak mencerminkan kondisi fundamental perekonomian nasional. BI menilai keputusan tersebut lebih dipengaruhi oleh dinamika dan sentimen global, bukan karena melemahnya kinerja ekonomi domestik secara struktural.
Pernyataan tersebut disampaikan pejabat Bank Indonesia dalam sebuah agenda komunikasi kebijakan yang digelar di daerah, sebagai respons atas reaksi pasar terhadap perubahan outlook tersebut. BI menekankan bahwa indikator utama perekonomian Indonesia hingga saat ini masih menunjukkan kinerja yang solid dan terkendali di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Baca juga:
UOB Nilai Inflasi Terkendali, Ekonomi Indonesia Tetap Stabil
“Penurunan outlook ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat dan stabil,” ujar Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Alexander Lubis. Ia menegaskan bahwa stabilitas ekonomi nasional masih terjaga di tengah tekanan eksternal yang meningkat.
Moody’s sendiri tetap mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level investment grade. Penyesuaian outlook menjadi negatif disebut berkaitan dengan meningkatnya risiko global, tantangan tata kelola, serta perlunya konsistensi kebijakan jangka menengah. Namun demikian, BI menilai faktor-faktor tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya pelemahan mendasar pada ekonomi Indonesia.
Dari sisi pertumbuhan, Bank Indonesia mencatat bahwa perekonomian nasional masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang kuat. Inflasi yang terjaga dalam sasaran serta daya beli masyarakat yang relatif stabil menjadi faktor utama yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Selain itu, investasi juga terus menunjukkan perbaikan, terutama pada sektor-sektor strategis yang didorong oleh belanja pemerintah dan pembangunan infrastruktur.
“Permintaan domestik tetap kuat dan menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Alexander. Ia menambahkan bahwa Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada pada kisaran yang sehat meskipun dihadapkan pada perlambatan ekonomi global.
Dari sektor eksternal, kinerja neraca perdagangan Indonesia dinilai masih cukup resilien. Ekspor komoditas unggulan serta upaya diversifikasi pasar tujuan ekspor turut mendukung ketahanan eksternal. Sementara itu, cadangan devisa Indonesia berada pada level yang memadai untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah serta pembiayaan kebutuhan impor dan pembayaran kewajiban luar negeri.
Stabilitas sistem keuangan nasional juga disebut tetap terjaga. Perbankan Indonesia memiliki tingkat permodalan yang tinggi, likuiditas yang memadai, serta rasio kredit bermasalah yang masih rendah. Hasil uji ketahanan menunjukkan perbankan nasional mampu menghadapi berbagai skenario tekanan, termasuk volatilitas pasar keuangan global.
“Perbankan kita memiliki bantalan yang kuat untuk menghadapi risiko global,” ujar Alexander. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan utama BI tetap optimistis terhadap ketahanan ekonomi Indonesia.
Bank Indonesia juga menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait akan terus diperkuat guna menjaga kepercayaan pasar dan investor.
Di sisi lain, BI mencermati reaksi pasar keuangan pasca penurunan outlook tersebut. Fluktuasi nilai tukar dan pasar modal dinilai sebagai respons jangka pendek terhadap sentimen global, bukan perubahan fundamental ekonomi.
“Kami akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah agar tetap sejalan dengan fundamental ekonomi dan mekanisme pasar,” tegas Alexander.
Ke depan, Bank Indonesia menekankan pentingnya menjaga konsistensi kebijakan dan memperkuat komunikasi publik. BI juga mendorong kelanjutan reformasi struktural guna meningkatkan daya saing ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Dengan fundamental ekonomi yang dinilai masih kuat dan kebijakan yang terjaga, Bank Indonesia optimistis perekonomian Indonesia mampu menghadapi berbagai tantangan global sekaligus mempertahankan kepercayaan investor dalam jangka menengah dan panjang. (nid)














