Kanal24, Malang – Maraknya penipuan lowongan kerja atau job scam di media sosial kian menjadi ancaman serius bagi pencari kerja di Indonesia. Fenomena ini tidak hanya merugikan korban secara finansial, tetapi juga menimbulkan persoalan struktural dalam tata kelola ketenagakerjaan dan perlindungan digital. Di tengah kondisi pasar kerja yang kompetitif dan tingginya angka pencari kerja, media sosial justru dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan sebagai ladang empuk untuk menjalankan aksi penipuan.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai platform media sosial dipenuhi unggahan lowongan kerja yang tampak meyakinkan. Pelaku kerap mencatut nama perusahaan ternama, lembaga pemerintah, bahkan menggunakan logo resmi agar terlihat kredibel. Modus ini membuat banyak pencari kerja, khususnya lulusan baru dan pekerja sektor informal, terjebak karena minimnya akses terhadap informasi verifikasi lowongan kerja.
Baca juga:
Mengenal Virus Nipah, Ancaman Zoonosis dengan Risiko Kematian Tinggi
āBanyak korban yang tidak sadar bahwa mereka sedang berhadapan dengan penipuan karena tampilan informasinya sangat profesional,ā ujar seorang pengamat ketenagakerjaan. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan job scam tidak bisa hanya dilihat sebagai kesalahan individu, melainkan akibat dari sistem yang belum mampu memberikan perlindungan memadai bagi pencari kerja di ruang digital.
Modus Penipuan yang Kian Beragam
Modus job scam terus berkembang mengikuti perilaku pengguna media sosial. Salah satu pola yang sering ditemukan adalah tawaran pekerjaan dengan imbalan tinggi, jam kerja fleksibel, dan tanpa persyaratan rumit. Pelamar kemudian diminta mengisi data pribadi atau bergabung ke grup percakapan tertentu untuk proses lanjutan.
āKorban biasanya diminta membayar biaya administrasi, pelatihan, atau deposit awal dengan alasan prosedur perusahaan,ā kata seorang korban job scam yang enggan disebutkan namanya. Ia mengaku kehilangan sejumlah uang setelah tergiur tawaran pekerjaan yang menjanjikan pendapatan besar dalam waktu singkat.
Selain penipuan finansial, pelaku juga membidik data pribadi korban. Informasi seperti nomor identitas, alamat, hingga rekening bank kerap disalahgunakan untuk tindak kejahatan lain. Kondisi ini memperparah dampak job scam karena kerugian tidak berhenti pada satu kejadian saja.
Persoalan Struktural di Balik Job Scam
Para ahli menilai maraknya job scam tidak terlepas dari lemahnya pengawasan terhadap iklan lowongan kerja di media sosial. Hingga kini, belum ada mekanisme verifikasi yang ketat bagi pihak yang mengunggah lowongan pekerjaan di platform digital. Akibatnya, ruang publik digital menjadi area bebas bagi pelaku kejahatan.
āModerasi konten yang bersifat reaktif tidak cukup. Diperlukan kebijakan yang lebih proaktif agar lowongan kerja palsu tidak sempat menjangkau publik,ā ujar seorang peneliti kebijakan publik. Ia menambahkan, negara perlu hadir melalui regulasi yang jelas dan tegas untuk melindungi pencari kerja.
Di sisi lain, rendahnya literasi digital masyarakat juga menjadi faktor pendukung. Banyak pencari kerja belum terbiasa memeriksa keabsahan informasi atau melakukan penelusuran mendalam terhadap perusahaan yang membuka lowongan.
Dorongan Solusi dan Peran Pemerintah
Berbagai kalangan mendorong solusi struktural untuk menekan angka job scam. Pemerintah diharapkan memperkuat regulasi perlindungan pencari kerja di ruang digital, termasuk mewajibkan verifikasi identitas bagi rekruter yang memasang iklan lowongan kerja.
āKita membutuhkan sistem resmi yang bisa menjadi rujukan publik untuk mengecek validitas lowongan kerja,ā ujar seorang akademisi. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, platform digital, dan penegak hukum menjadi kunci untuk memutus rantai penipuan.
Selain itu, edukasi literasi digital dinilai penting agar masyarakat mampu mengenali ciri-ciri job scam sejak awal. Kampanye publik yang masif dan berkelanjutan diperlukan agar pencari kerja lebih waspada dan tidak mudah tergiur janji manis.
Waspada di Tengah Peluang Kerja Digital
Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital, media sosial memang membuka peluang baru bagi pencari kerja. Namun, tanpa perlindungan dan kewaspadaan, ruang digital juga dapat berubah menjadi jebakan. Job scam menjadi pengingat bahwa akses terhadap informasi harus diimbangi dengan sistem perlindungan yang kuat.
āJangan pernah membayar untuk melamar pekerjaan dan selalu cek informasi dari sumber resmi,ā pesan seorang pengamat ketenagakerjaan. Dengan langkah preventif yang tepat dan dukungan kebijakan yang kuat, ancaman job scam diharapkan dapat ditekan demi menciptakan ekosistem kerja digital yang aman dan berkeadilan. (nid)














