Kanal24, Malang – “SmartGerdX adalah website inovasi kesehatan terkait GERD yang bertujuan membantu masyarakat awam dalam memahami GERD, karena masih banyak orang yang mengklaim dirinya mengalami GERD tanpa dasar yang jelas,” ujar Dr. dr. Syifa Mustika, Sp.PD., K-GEH., dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen dan peneliti Universitas Brawijaya (UB). Inovasi tersebut disampaikan dalam forum apresiasi inovasi daerah yang digelar di Banyuwangi pada Desember 2025, sebagai bagian dari implementasi platform SmartGerdX kepada 250 masyarakat setempat, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan didukung Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) UB.
Dr. Syifa menjelaskan, SmartGerdX dikembangkan sebagai respons atas maraknya klaim GERD di masyarakat tanpa pemeriksaan medis yang jelas. Melalui pendekatan digital berbasis kuesioner klinis, platform ini diharapkan menjadi jembatan literasi kesehatan sekaligus alat skrining awal yang mudah diakses publik.
Baca juga:
WARD 2026 Rama Gaungkan Budaya Read Aloud Keluarga

Berbasis Kuesioner Klinis Teruji
SmartGerdX bekerja dengan sistem kuesioner yang dimodifikasi dari GERD-Q, instrumen yang telah teruji secara klinis dalam membantu menilai kemungkinan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
“Terdapat enam pertanyaan yang saya modifikasi untuk diisi oleh pengguna, kemudian akan keluar skor. Setelah itu, sistem akan menampilkan rekomendasi terkait penggunaan obat serta modifikasi gaya hidup berdasarkan skor yang diperoleh,” jelas Dr. Syifa.
Skor tersebut menjadi dasar rekomendasi awal, mulai dari saran perubahan pola makan, pengaturan berat badan, hingga anjuran konsultasi lebih lanjut apabila hasil menunjukkan risiko yang lebih tinggi. Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan diagnosis dokter, melainkan sebagai langkah preventif dan edukatif.
Sebagai praktisi gastroenterologi, Dr. Syifa mengaku kerap menemui pasien yang datang dengan keyakinan telah menderita GERD hanya berdasarkan informasi media sosial atau kesamaan gejala.
“Sebagai praktisi di bidang gastro, sering pasien datang ke saya dan mengatakan bahwa dirinya GERD, padahal belum dilakukan pemeriksaan dan penilaian,” tuturnya.
Cegah Hoaks dan Tingkatkan Literasi Kesehatan
Kehadiran SmartGerdX juga menjadi upaya konkret melawan misinformasi kesehatan. Dalam beberapa tahun terakhir, istilah GERD kerap digunakan secara luas di ruang digital tanpa pemahaman yang memadai mengenai definisi, gejala, maupun tata laksananya.
Melalui SmartGerdX.com, masyarakat dapat mengakses informasi yang terkurasi dan berbasis evidensi medis. Platform ini dirancang sederhana agar ramah bagi pengguna awam, namun tetap mengacu pada standar klinis.
Implementasi di Banyuwangi pada Desember 2025 menjadi langkah awal uji penerapan di masyarakat. Sebanyak 250 warga mengikuti skrining digital ini. Hasilnya tidak hanya memberikan gambaran awal kondisi kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi data pendukung bagi intervensi promotif dan preventif.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyampaikan apresiasi atas inovasi tersebut.
“Kami sangat bangga melihat putra-putri Banyuwangi kembali membawa inovasi yang langsung memperkuat layanan publik. SmartGerdX menunjukkan bahwa teknologi dapat membuat layanan kesehatan lebih inklusif, cepat, dan berbasis data. Inilah bentuk kolaborasi yang kami harapkan antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi,” kata Ipuk.
Didukung Ekosistem Inovasi UB
Inovasi yang mulai dikembangkan sejak 2024 ini juga berhasil masuk dalam 117 karya inovasi Business Innovation Center (BIC) Kementerian Riset dan Teknologi. Capaian tersebut menandai bahwa SmartGerdX tidak hanya relevan secara klinis, tetapi juga memiliki potensi hilirisasi dan dampak luas.
SmartGerdX merupakan bagian dari ekosistem inovasi yang dibangun DIKST Universitas Brawijaya. Lembaga ini memiliki mandat memastikan riset dosen tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata, melainkan bergerak menuju perlindungan kekayaan intelektual, inkubasi, hingga penerapan langsung di masyarakat.
Kepala Subdirektorat Inovasi dan Transfer Teknologi (PITT) UB, Dias Satria, SE., M.App.Ec., Ph.D., menyebut kiprah Dr. Syifa sebagai contoh praktik research downstreaming yang ideal.
“Keahlian medis yang dibangun di lingkungan akademik difasilitasi oleh DIKST, kemudian diimplementasikan di daerah yang memiliki kebutuhan nyata. Hasilnya bukan hanya inovasi teknologi, tetapi juga model kolaborasi antara kampus dan pemerintah daerah yang operasional dan terukur dampaknya,” ujar Dias.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UB, Prof. Unti Ludigdo, menegaskan komitmen universitas dalam mendorong hilirisasi riset.
“Melalui DIKST, kami membangun clear downstream pathway agar riset benar-benar menjadi solusi nyata. Apa yang dilakukan dr. Syifa di Banyuwangi adalah contoh ideal bagaimana inovasi akademik memberi dampak langsung,” katanya.
Ke depan, SmartGerdX diharapkan dapat diperluas penerapannya ke berbagai daerah lain sebagai model skrining digital berbasis akademik. Inovasi ini sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi sebagai pusat lahirnya solusi kesehatan yang tidak hanya berbasis ilmu, tetapi juga berpihak pada kebutuhan nyata masyarakat. (nid)













