Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, fragmentasi identitas global, dan krisis kepemimpinan lintas negara, ruang dialog antar generasi muda dunia menjadi semakin strategis. Universitas Brawijaya (UB) tidak memilih menjadi penonton. Melalui Better Understanding for a Better World (BUBW) Malang 2026, UB menegaskan langkahnya sebagai aktor aktif diplomasi akademik global.
Forum internasional yang digelar di Gedung Rektorat UB ini bukan sekadar agenda pertukaran budaya atau program seremonial internasionalisasi kampus. BUBW menjadi ruang pembentukan perspektif global, kepemimpinan lintas budaya, dan jaringan internasional generasi mudaāmodal strategis dalam lanskap dunia yang semakin kompleks.
Program ini merupakan kolaborasi UB dengan Civilization Exchange and Cooperation Foundation (CECF), lembaga internasional yang secara rutin menggelar konferensi lintas negara. Malang menjadi tuan rumah penyelenggaraan konferensi ke-56, menempatkan UB dalam peta dialog global bersama berbagai kota dunia lainnya.
Baca juga:
Menuju Go Green, Kolega Prof Riyanto Haribowo Kirim Ucapan dalam Bentuk Bibit Pohon
Hendrix Yulis Setyawan, S.Si., M.Si., Ph.D., Direktur International Office UB, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari strategi internasionalisasi institusi yang berorientasi pada dampak nyata, bukan sekadar mobilitas akademik.
āUB sangat mendorong internasionalisasi melalui kerja sama global untuk memperkuat nilai kesetaraan, keberagaman, dan agenda pembangunan berkelanjutan berbasis SDGs. Program seperti BUBW menjadi salah satu langkah strategis membawa nama UB ke level internasional,ā ujarnya.
Menurutnya, kontinuitas program menjadi kunci agar internasionalisasi tidak berhenti pada simbol, tetapi menghasilkan manfaat konkret bagi mahasiswa.
āKegiatan ini dikemas dalam model summer course, berlangsung beberapa hari dengan rangkaian aktivitas kolaboratif. Harapannya mahasiswa mendapatkan pengalaman global yang nyata, bukan sekadar forum diskusi,ā jelasnya.
Indonesia sebagai Titik Temu Peradaban Global
Pemilihan Indonesiaādan Malangāsebagai lokasi konferensi bukan tanpa alasan. Presiden CECF, Imam Mohamad Bashar Arafat, Ph.D. menilai Indonesia memiliki posisi strategis dalam percaturan global.
āMerupakan kehormatan bagi kami bermitra dengan Universitas Brawijaya dalam penyelenggaraan konferensi ke-56 Better Understanding for a Better World di Malang,ā ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki signifikansi global yang kuatābaik secara geopolitik maupun kultural.
āIndonesia adalah negara yang sangat penting, kekuatan regional utama, dan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Indonesia memiliki budaya yang unik serta atmosfer keberagaman dan harmoni yang luar biasa,ā jelasnya.

Menurut Bashar, karakter sosial Indonesia menjadikannya laboratorium ideal dialog lintas peradaban.
āKondisi ini sangat tepat untuk mempertemukan pemuda dunia dalam forum yang bertujuan membangun pemahaman global,ā katanya.
Ia juga menilai UB sebagai mitra strategis dalam ekosistem akademik global.
āSaya percaya Universitas Brawijaya adalah institusi akademik terkemuka di Indonesia, Asia Tenggara, bahkan dunia. Kami menantikan kelanjutan kemitraan ini,ā ujarnya.
Kepemimpinan Global Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan
Konferensi ini selain sangat strategis pada pertukaran budaya juga berfokus pada pembentukan kepemimpinan global berbasis kesadaran lintas peradaban.
āPesan utama kami adalah kepemimpinan internasional, global citizenship, dan bagaimana menjadi agen perubahan di masyarakat, negara, dan dunia,ā tegas Bashar.
Ia menekankan pentingnya jaringan global generasi muda sebagai fondasi perubahan sosial.
āPeserta diharapkan terhubung dengan pemuda yang memiliki visi serupa di seluruh dunia dan memanfaatkan jaringan alumni global untuk menyebarkan perdamaian, harmoni, dan kasih sayang,ā katanya.
Strategi Positioning UB sebagai Global Knowledge Hub
BUBW Malang 2026 menunjukkan pergeseran strategi internasionalisasi perguruan tinggi. Jika sebelumnya internasionalisasi identik dengan mobilitas mahasiswa atau kerja sama akademik formal, kini fokus bergeser pada diplomasi pengetahuan dan pembentukan jejaring global berkelanjutan.
UB memanfaatkan forum ini sebagai instrumen positioning institusiābukan hanya sebagai penerima arus globalisasi pendidikan, tetapi sebagai produsen gagasan dan ruang dialog internasional.
Forum ini juga membuka peluang mobilitas akademik lanjutan. CECF merencanakan program global berikutnya di berbagai negara, termasuk kawasan Eropa, Afrika, dan Timur Tengah, serta agenda regional di Bali yang akan mempertemukan pemuda ASEAN dan dunia.
Bagi UB, hal ini memperluas jejaring strategis sekaligus memperkuat reputasi internasional sebagai kampus yang aktif dalam diplomasi global berbasis pendidikan.
Dari Internasionalisasi ke Transformasi Peran Kampus
Di tengah dunia yang semakin saling terhubung namun rentan konflik, universitas tidak lagi cukup berfungsi sebagai pusat transfer ilmu. Kampus dituntut menjadi ruang produksi pemahaman global dan pembentukan kepemimpinan lintas budaya.
Melalui BUBW Malang 2026, Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa internasionalisasi bukan sekadar branding institusi, melainkan strategi transformasi peran kampus dalam percaturan global.
Di sinilah posisi UB mulai bergeserādari institusi pendidikan nasional menuju simpul diplomasi akademik internasional. Dan dalam konteks dunia yang membutuhkan lebih banyak jembatan daripada sekat, langkah ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.(Din/Awn)














