Kanal24, Malang – Penyakit infeksi hingga kini masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas global, terutama di negara berkembang. Di tengah kemajuan teknologi diagnostik yang semakin sensitif dan spesifik, tantangan terbesar dunia medis bukan lagi sekadar memastikan diagnosis, melainkan memprediksi bagaimana perjalanan penyakit dan luaran klinis pasien.
Realitas klinis menunjukkan bahwa dua pasien dengan diagnosis infeksi yang sama dapat mengalami perjalanan penyakit yang sangat berbeda. Ada yang pulih cepat, namun ada pula yang berujung pada syok, kegagalan organ, bahkan kematian. Perbedaan ini menegaskan bahwa penyakit infeksi tidak hanya ditentukan oleh keberadaan patogen, tetapi juga oleh interaksi kompleks antara patogen, respons biologis inang (host), serta faktor lingkungan.
Berangkat dari urgensi tersebut, Prof. Dr. dr. Agustin Iskandar, M.Kes., Sp.PK (K) resmi dikukuhkan sebagai profesor dalam bidang Ilmu Patologi Klinik/Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB). Ia merupakan profesor aktif ke-9 di FK, ke-260 di UB, serta ke-452 dari seluruh profesor yang telah dihasilkan UB.
Dalam pidato ilmiahnya, Prof. Agustin memperkenalkan Model HOPE-ID (Host-Oriented Prognostic Evaluation in Infectious Diseases), sebuah paradigma baru dalam prognosis penyakit infeksi berbasis respons inang.
“Misalnya dengan yang sama, misalnya saya kena demam berdarah dengan rekan media mungkin ya, itu bisa jadi luarannya akan berbeda,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan konvensional yang berfokus pada identifikasi patogen belum cukup untuk menjelaskan variasi luaran klinis pasien. Karena itu, model HOPE-ID dirancang untuk mengintegrasikan berbagai biomarker yang berorientasi pada respons host.

“Nah, sehingga dengan model ini harapannya itu kami akan mengintegrasikan beberapa marker yang itu orientasinya adalah pada host ya. Jadi nanti ada biomarker inflamasi, kemudian ada biomarker endotel, kemudian ada biomarker molekuler yaitu nanti ditambahkan dengan faktor klinis kontekstual yang itu nanti akan diintegrasikan dalam satu dengan kecerdasan artifisial,” jelasnya.
Pendekatan multidimensional ini menjadi kekuatan utama HOPE-ID. Model ini tidak hanya memanfaatkan biomarker inflamasi dan disfungsi endotel, tetapi juga parameter molekuler serta faktor klinis pasien dalam satu kerangka evaluasi prognostik yang terintegrasi.
Lebih jauh, model ini dikembangkan untuk mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih presisi dan tepat waktu melalui integrasi dengan kecerdasan artifisial.
“Ke depannya harapannya itu ketika kita terkena infeksi kita sudah bisa melakukan self assessment ya. Jadi nanti enggak akan terlambat lagi,” ungkapnya.

Ia mencontohkan pengembangan awal aplikasi berbasis HOPE-ID untuk kasus dengue.
“Misalnya yang sekarang kami kembangkan itu yang dengue. Jadi misalnya kena DB sudah didiagnosis oleh dokter oh iya terkena DB. Nah, nanti pasien itu tinggal memasukkan usianya berapa, berat badannya berapa, panasnya hari ke berapa, kemudian leukositnya berapa, data-data yang ada itu dimasukkan ke dalam suatu aplikasi sehingga nanti pasien itu akan tahu kapan saya harus datang ke dokter, kapan saya harus datang ke rumah sakit, kapan minta pertolongan.”
Model ini diharapkan mampu mendorong deteksi risiko secara lebih dini, sehingga intervensi medis dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
“Nah, harapannya nanti ketika ini sudah bisa didiagnosis lebih awal, kemudian bisa ditangani lebih awal, maka tentunya prognosisnya akan semakin membaik. Makanya pada model ini kami mengistilahkan adalah HOPE. Hope itu kan harapan ya,” tambahnya.
HOPE-ID merepresentasikan pergeseran paradigma Patologi Klinik dari sekadar penegakan diagnosis menuju prediksi luaran klinis yang lebih bermakna dan presisi. Dalam konteks sistem kesehatan, pendekatan ini berpotensi menekan angka komplikasi, mengurangi beban fasilitas kesehatan, serta meningkatkan keselamatan pasien.
Pengukuhan Prof. Agustin tidak hanya menambah daftar profesor Universitas Brawijaya, tetapi juga menegaskan kontribusi UB dalam pengembangan ilmu kedokteran berbasis inovasi dan teknologi. Di tengah tantangan penyakit infeksi yang terus berkembang, model HOPE-ID menawarkan perspektif baru: bahwa harapan dalam penanganan infeksi tidak hanya terletak pada menemukan patogen, tetapi pada memahami respons tubuh manusia secara lebih komprehensif dan prediktif.(Din/Yor)














