Kanal24 – Di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik, sanksi ekonomi kembali menjadi instrumen utama dalam tekanan internasional. Namun pengalaman sejumlah negara menunjukkan bahwa tekanan global tidak selalu berujung pada pelemahan negara sasaran. Dalam beberapa kasus, situasi tersebut justru memicu konsolidasi internal dan lahirnya strategi kemandirian baru.
Fenomena ini terlihat pada Iran, negara yang selama bertahun-tahun menghadapi isolasi internasional namun tetap mempertahankan eksistensinya dalam percaturan global. Dinamika tersebut menjadi perhatian dalam kajian hubungan internasional terkait daya tahan negara menghadapi tekanan eksternal.
Dosen Hubungan Internasional Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int. berpendapat tekanan internasional yang diterima Iran justru mendorong negara tersebut untuk beradaptasi dan membangun kemandirian strategis.
Dalam perspektif hubungan internasional, daya tahan suatu negara di tengah tekanan global dapat dilihat dari kemampuannya membangun jaringan kerja sama alternatif dan memperkuat legitimasi domestik.
“Iran memanfaatkan diplomasi regional dan kerja sama strategis untuk mengurangi dampak isolasi. Ini menjadi contoh bagaimana negara tetap bisa memainkan peran di panggung internasional meskipun berada di bawah sanksi,” jelasnya.
Ia menambahkan ketahanan tersebut tidak hanya bersumber dari kebijakan pemerintah, tetapi juga dari solidaritas sosial dan narasi kolektif tentang kedaulatan nasional.
Lebih lanjut, Abdullah mengaitkan fenomena tersebut dengan posisi Indonesia dalam percaturan global.
Menurutnya, sebagai negara dengan politik luar negeri bebas aktif, Indonesia memiliki peluang besar untuk berperan lebih strategis dalam mendorong perdamaian dunia, termasuk melalui partisipasi dalam Board of Peace (BoP).
“Indonesia memiliki legitimasi moral sebagai negara yang konsisten mendukung penyelesaian konflik secara damai. Keikutsertaan aktif dalam Board of Peace dapat memperkuat posisi Indonesia sebagai jembatan dialog di tengah polarisasi global,” tegas Abdullah.
Ia menilai bahwa di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, sanksi ekonomi, dan konflik berkepanjangan di berbagai kawasan, dunia membutuhkan aktor-aktor yang mampu mendorong pendekatan dialogis dan inklusif.
Indonesia dinilai memiliki modal diplomatik yang kuat, baik dari pengalaman sejarah Konferensi Asia-Afrika maupun kiprah aktif dalam berbagai forum multilateral.
“Peran Indonesia tidak seharusnya hanya reaktif terhadap krisis, tetapi juga proaktif dalam membangun arsitektur perdamaian global yang lebih adil,” ujarnya.
Abdullah menambahkan bahwa keikutsertaan dalam forum-forum seperti Board of Peace bukan hanya simbolik, melainkan harus diikuti dengan gagasan konkret dan komitmen diplomatik yang berkelanjutan.
“Dunia membutuhkan lebih banyak ruang komunikasi dan kerja sama yang setara. Indonesia memiliki peluang untuk mengambil peran itu dan memperkuat kontribusinya dalam diplomasi perdamaian global,” pungkasnya.














