Oleh: Ustadz Akhmad Muwafik Saleh
“Asshiyamu liy wa ana ajziibihi”, puasa adalah milik-Ku dan Akulah yang akan memberikan balasannya. Pertanyaannya, tidakkah semua amal ibadah kita untuk Allah dan Allah yang membalasnya?
Ternyata kalimat hadis qudsi di atas seakan membuka kotak pandora pada kita tentang amal ibadah selama ini. Seakan Allah Sang Dzat Yang Maha Mengetahui ingin mengatakan kepada kita bahwa betapa banyak amal ibadah kita sejatinya tidak diperuntukkan kepada Allah, tetapi bisa jadi hanyalah flexing belaka.
Sebuah ajang pamer yang terlintas sangat halus dan lembut di dalam hati kita yang dibalut oleh kekhusyukan dan ketaatan semu. Coba perhatikan, saat kita melaksanakan shalat, tidak jarang amal kita tidak benar-benar murni diperuntukkan bagi Allah. Bacaan shalat yang kita baca terkadang hanyalah flexing agar dianggap fasih dan memiliki banyak hafalan, sementara gerakan shalat dilakukan agar kita dianggap khusyuk.
Shalat tahajud kita pun terkadang masih diwarnai oleh flexing hati saat kita mengirimkan pesan pada anggota komunitas di grup WhatsApp pada jam dini hari untuk ajakan melaksanakan shalat tahajud. Padahal bisa jadi terlintas bisikan hati agar kita dianggap telah bangun lebih dahulu dan tampak lebih spiritual.
Begitu pula dengan amal sedekah yang kita keluarkan. Tidak jarang bukan murni semata karena Allah, melainkan secara lembut terlintas dalam hati agar kita diakui sebagai seorang dermawan atau karena merasa ātidak enakā pada orang lain yang telah mempersepsi diri kita sebagai orang yang ācukup beradaā.
Demikian pula dengan ibadah haji yang kita lakukan. Boleh jadi tidak sepenuhnya murni untuk Allah, melainkan agar kita mendapatkan gelar āhajiā di depan nama kita. Bahkan saat berdakwah atau berjihad sekalipun, mungkin saja terlintas sebuah flexing dalam hati agar kita dianggap pemberani dan diakui sebagai pahlawan (mujahid).
Betapa banyak amal ibadah kita masih diiringi kebutuhan akan konfirmasi dan pengakuan dari orang lain, sehingga berubah menjadi pencitraan belaka. Hal ini karena hampir semua amal tersebutāselain puasaāadalah ibadah yang tampak oleh mata publik (amal dhahir yang tangible dan dapat diindera).
Karena itulah Allah bahkan mencibir dengan penuh peringatan atas amal ibadah dhahir yang dilakukan oleh hamba-Nya.
ع٠أب٠ŁŲ±ŁŲ±Ų© -Ų±Ų¶Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁ- ŁŲ§Ł: س٠عت Ų±Ų³ŁŁ Ų§ŁŁŁ -ŲµŁŁ Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁ ŁŲ³ŁŁ - ŁŁŁŁ: Ā«Ų„Ł Ų£ŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ų³ ŁŁŁŲ¶Ł ŁŁŁ Ų§ŁŁŁŲ§Ł Ų© Ų¹ŁŁŁ Ų±Ų¬ŁŁ Ų§Ų³ŁŲŖŁŲ“ŁŁŁŲÆŁŲ ŁŲ£ŁŲŖŁ ŲØŁŲ ŁŲ¹Ų±ŁŁŁŁ ŁŁŲ¹Ł ŲŖŁŲ ŁŲ¹Ų±ŁŁŁŁŲ§Ų ŁŲ§Ł: ŁŁ Ų§ Ų¹ŁŁ ŁŁŲŖ ŁŁŁŲ§Ų ŁŲ§Ł: ŁŁŲ§ŲŖŁŁŁŲŖŁ ŁŁŁ ŲŲŖŁ Ų§Ų³ŁŲŖŁŲ“ŁŁŁŲÆŁŲŖŁ. ŁŲ§Ł: ŁŁŲ°ŲØŁŲŖŁŲ ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ§ŲŖŁŁŁŲŖŁ ŁŲ£Ł ŁŁŲ§Ł: Ų¬ŁŲ±ŁŁŲ”! ŁŁŲÆ ŁŁŁŲ Ų«Ł Ų£ŁŁ ŁŲ±Ł ŲØŁ ŁŁŲ³ŁŲŁŲØ Ų¹ŁŁ ŁŲ¬ŁŁ ŲŲŖŁ Ų£ŁŁŁŁ ŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ų±. ŁŲ±Ų¬Ł ŲŖŲ¹ŁŁ Ų§ŁŲ¹ŁŁ ŁŲ¹ŁŁ ŁŲ ŁŁŲ±Ų£ Ų§ŁŁŲ±Ų¢ŁŲ ŁŲ£ŁŲŖŁ ŲØŁ ŁŲ¹Ų±ŁŁŁŁ ŁŁŲ¹ŁŁ Ł ŁŲ¹Ų±ŁŁŁŁŲ§. ŁŲ§Ł: ŁŁ Ų§ ع٠ŁŲŖ ŁŁŁŲ§Ų ŁŲ§Ł: ŲŖŲ¹ŁŁ ŲŖ Ų§ŁŲ¹ŁŁ ŁŲ¹ŁŁ ŲŖŁŲ ŁŁŲ±Ų£ŲŖ ŁŁŁ Ų§ŁŁŲ±Ų¢ŁŲ ŁŲ§Ł: ŁŁŲ°ŁŲØŁŲŖŁŲ ŁŁŁŁŁ ŲŖŲ¹ŁŁ ŲŖ ŁŁŁŲ§Ł: Ų¹Ų§ŁŁ ! ŁŁŲ±Ų£ŲŖ Ų§ŁŁŲ±Ų¢Ł ŁŁŁŲ§Ł: ŁŁ ŁŲ§Ų±Ų¦Ų ŁŁŲÆ ŁŁŁŲ Ų«Ł Ų£ŁŁ ŁŲ± ŲØŁ ŁŁŲ³ŁŲŁŲØ Ų¹ŁŁ ŁŲ¬ŁŁ ŲŲŖŁ Ų£ŁŁŁ ŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ų±. ŁŲ±Ų¬Ł ŁŁŲ³ŁŁŲ¹Ł Ų§ŁŁŁ Ų¹ŁŁŁŲ ŁŲ£Ų¹Ų·Ų§Ł Ł Ł Ų£ŲµŁŲ§Ł Ų§ŁŁ Ų§ŁŲ ŁŲ£ŁŲŖŁ ŲØŁ ŁŲ¹Ų±ŁŁŁŁ ŁŁŲ¹ŁŁ ŁŲ ŁŲ¹Ų±ŁŁŁŁŲ§. ŁŲ§Ł: ŁŁ Ų§ ع٠ŁŲŖ ŁŁŁŲ§Ų ŁŲ§Ł: Ł Ų§ ŲŖŲ±ŁŲŖ Ł Ł Ų³ŲØŁŁ ŲŖŁŲŁŲØŁŁ Ų£Ł ŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŲ§ Ų„ŁŲ§ Ų£ŁŁŁŲŖ ŁŁŁŲ§ ŁŁ. ŁŲ§Ł: ŁŁŲ°ŁŲØŁŲŖŁŲ ŁŁŁŁŁ ŁŲ¹ŁŲŖ ŁŁŁŲ§Ł: Ų¬ŁŲ§ŲÆ! ŁŁŲÆ ŁŁŁŲ Ų«Ł Ų£ŁŁ ŁŲ± ŲØŁ ŁŁŲ³ŁŲŁŲØ Ų¹ŁŁ ŁŲ¬ŁŁ ŲŲŖŁ Ų£ŁŁŁ ŁŁ Ų§ŁŁŲ§Ų± .
Abu Hurairah ra., sebagaimana diriwayatkan Muslim dan Ahmad, berkata bahwa Nabi Saw bersabda: sesungguhnya orang pertama yang akan diputuskan pada hari kiamat adalah seorang yang mati syahid. Maka dihadapkan kepada Allah dan diingatkan kepadanya nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.
Kemudian Allah bertanya, āLalu, apakah amalanmu dalam nikmat itu?ā
Ia menjawab, āAku telah berperang untuk-Mu hingga mati syahid.ā
Allah berfirman, āDusta kamu. Kamu berperang agar dikenal sebagai pahlawan yang gagah berani.ā Lalu ia diseret dan dilemparkan ke dalam neraka.
Yang kedua adalah orang yang belajar ilmu agama dan mengajarkannya serta membaca Al-Qurāan. Ia pun ditanya tentang amalnya. Ia menjawab bahwa semua dilakukan untuk Allah. Namun Allah berfirman bahwa ia melakukannya agar disebut alim dan qari, dan semua itu telah ia dapatkan di dunia.
Kemudian diperintahkan malaikat untuk mencampakkannya ke dalam neraka.
Orang ketiga adalah yang diluaskan rezekinya dan diberi kekayaan. Ia mengaku telah mendermakan hartanya di jalan Allah. Namun Allah berfirman bahwa ia melakukannya agar disebut dermawan, dan ia pun dilemparkan ke dalam neraka. (HR Muslim, Ahmad).
Sementara itu, ibadah puasa adalah āibadah rahasiaā karena tidak dapat diindera oleh mata publik. Puasa adalah ibadah batin yang tidak menampakkan gerakan dhahir apa pun dan tidak membutuhkan materi untuk dipertontonkan.
Puasa tidak memberikan ruang pencitraan pada seseorang. Ia hanya dialami secara personal dan sangat privat melalui laku diam para pengamalnya. Puasa mendiamkan diri seseorang melalui upaya menahan segala sesuatu yang dapat membatalkannya.
Sehingga amal ibadah puasa murni hanya dialami oleh dirinya sendiri tanpa melibatkan perhatian orang lain. Amal ibadah puasa murni hanyalah berhubungan dengan Allah semata. Karena itu pantaslah Allah sendiri yang akan membalasnya: Asshiyamu liy wa ana ajziibihi.
Memang, ibadah puasa adalah amal yang tiada bandingannya karena ākediriannyaā, sebuah gerakan senyap yang mengetuk pintu langit agar terbuka dan menjadikan doa para pengamalnya tidak tertolak (istijabah).
Pantas Rasulullah bersabda:
ŁŲ¹Ł Ų£ŁŲØŁŁ Ų£ŁŁ ŁŲ§Ł ŁŲ©ŁŲ ŁŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲ§ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŲ±ŁŁŁŁ ŲØŁŲ¹ŁŁ ŁŁŁ ā.ā ŁŁŲ§ŁŁ ā”ā Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŲ§ŁŲµŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ„ŁŁŁŁŁŁ ŁŲ§Ł Ų¹ŁŲÆŁŁŁ ŁŁŁŁ ā”ā ā.ā ŁŁŁŁŲŖŁ ŁŁŲ§ Ų±ŁŲ³ŁŁŁŁ Ų§ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŲ±ŁŁŁŁ ŲØŁŲ¹ŁŁ ŁŁŁ ā.ā ŁŁŲ§ŁŁ ā”ā Ų¹ŁŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŲ§ŁŲµŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŲ„ŁŁŁŁŁŁ ŁŲ§Ł Ų¹ŁŲÆŁŁŁ ŁŁŁŁ ā”ā ā.
Dari Abu Umamah ra., ia berkata: āWahai Rasulullah, perintahkan kepadaku suatu amal.ā Beliau bersabda, āRajinlah berpuasa, karena sesungguhnya ia tidak ada bandingnya.ā (HR Nasaāi dan Ibnu Khuzaimah).
Allah memberikan apresiasi tertinggi kepada hamba-Nya yang beribadah hanya untuk-Nya, jauh dari flexing, pamer, dan riya. Bahkan dalam pandangan kaum sufi, sikap tersebut termasuk kategori syirik khafi (menyekutukan Allah secara samar).
Hari ini, ketika era teknologi dan media sosial menjadi ajang flexing setiap aktivitas, manusia perlahan kehilangan kediriannya. Amal ibadah yang seharusnya dijaga dari pandangan manusia justru berubah menjadi tontonan spiritualitas di ruang publik.
Akibatnya, amal yang seharusnya mengikat makna dalam tindakan justru terlepas dalam kehidupan nyata. Manusia tampak spiritual dari luar, tetapi hatinya penuh topeng. Inilah fenomena spiritualitas manusia abad digital saat iniāilmu dan amal terbuka luas, namun dapat menguap seketika karena flexing amal.
Allah Swt juga menisbatkan puasa kepada diri-Nya: āAsshiyamu liy wa ana ajziibihi.ā Maksudnya, tidak ada makhluk yang memiliki sifat berpuasa sebagaimana Allah, karena Dia tidak membutuhkan makan dan minum selamanya.
Semua makhluk membutuhkan makan dan minum. Bahkan malaikat pun demikianāmakanan mereka adalah tasbih, minumannya kecintaan yang murni, maārifat, dan ilmu yang jernih.
Puasa menjadi istimewa karena dinisbatkan langsung kepada Allah sebagai tanda besarnya pahala: penghancur kesenangan, pembersih jiwa, penguat kemauan, dan pelindung anggota badan dari dosa.
Jika demikian, akankah puasaāyang menjadi benteng terakhir dari menguapnya amalāakan bernasib serupa?
Karena itu, jagalah puasa kita dari flexing, pamer, dan riya atas segala amaliyah di bulan suci Ramadan agar tidak menguap begitu saja.
Semoga kita termasuk dalam sabda Nabi:
Ų±ŲØŁŁ ŲµŲ§Ų¦Ł Ł ŁŁŲ³Ł ŁŁŁ Ł Ł ŲµŁŲ§Ł ŁŁ Ų„ŁŁŁŲ§ Ų§ŁŲ¬ŁŲ¹Ł ŁŲ±ŲØŁŁ ŁŲ§Ų¦Ł Ł ŁŁŲ³Ł ŁŁŁ Ł Ł ŁŁŲ§Ł ŁŁ Ų„ŁŁŁŲ§ Ų§ŁŲ³ŁŁŁŲ±Ł
āBetapa banyak orang berpuasa yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga dari puasanya, dan betapa banyak orang salat malam yang hanya mendapatkan begadang.ā (HR Ahmad).
Allahumma sallimna li Ramadhan wa sallim Ramadhana lana wa tasallamhu minna mutaqabbalan.
*)Dr. Akhmad Muwafik Saleh, S.Sos., M.Si.
Ketua Pusat Pengembangan Kepribadian Universitas Brawijaya














