Kanal24, Malang – Tradisi buka bersama (bukber) menjadi salah satu momen yang paling dinantikan selama Ramadan. Ajang silaturahmi ini mempertemukan kembali sahabat lama, rekan kerja, hingga keluarga besar dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Namun di balik semaraknya undangan bukber, banyak masyarakat yang mengeluhkan kondisi keuangan menipis sebelum akhir bulan tiba. Fenomena ini mendorong perlunya strategi pengelolaan anggaran agar kegiatan sosial tetap berjalan tanpa mengganggu stabilitas finansial.
Sejumlah pakar keuangan mengingatkan bahwa pengeluaran selama Ramadan cenderung meningkat dibanding bulan biasa. Selain kebutuhan pokok, masyarakat juga harus mengalokasikan dana untuk zakat, sedekah, persiapan Lebaran, hingga kegiatan sosial seperti bukber. Media gaya hidup dan finansial seperti IDN Times menyoroti pentingnya perencanaan sejak awal agar tradisi tahunan ini tidak berubah menjadi beban ekonomi.
Baca juga:
Sambut Ramadan, Ah Pek Malang Hadirkan Nasi Kebuli Claypot
Inventarisasi Undangan dan Estimasi Biaya
Langkah pertama yang disarankan adalah menginventarisasi seluruh undangan bukber sejak awal Ramadan. Dengan mengetahui jumlah agenda yang akan dihadiri, seseorang dapat membuat estimasi kasar total pengeluaran. Misalnya, jika rata-rata biaya makan per acara berkisar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu dan terdapat delapan undangan, maka dana yang perlu disiapkan bisa mencapai lebih dari Rp1 juta.
Perhitungan sederhana ini membantu individu menentukan batas kemampuan finansial. Tanpa perencanaan, pengeluaran kecil yang terjadi berulang kali berpotensi menumpuk dan mengganggu kebutuhan utama lainnya.
Membuat Pos Khusus atau Sinking Fund
Strategi berikutnya adalah membuat pos anggaran khusus untuk bukber atau dikenal dengan istilah sinking fund. Konsep ini banyak dianjurkan oleh lembaga keuangan dan praktisi perbankan, termasuk sejumlah bank nasional seperti OCBC NISP yang dalam berbagai publikasi literasi keuangannya mendorong masyarakat memisahkan dana berdasarkan tujuan.
Dengan metode ini, dana bukber tidak tercampur dengan kebutuhan rutin seperti tagihan bulanan atau belanja harian. Jika total kebutuhan bukber diperkirakan Rp1 juta, maka dana tersebut dapat dicicil sejak awal bulan atau bahkan sebelum Ramadan tiba. Pemisahan rekening atau dompet digital khusus dinilai efektif untuk mengontrol pengeluaran.
Selektif Menghadiri Acara
Di tengah padatnya agenda sosial, bersikap selektif bukanlah tindakan yang keliru. Prinsip prioritas perlu diterapkan agar pengeluaran tetap terkendali. Undangan yang bersifat penting, seperti reuni keluarga besar atau pertemuan rekan kerja utama, dapat diutamakan. Sementara undangan yang kurang mendesak dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan.
Prinsip ini juga sejalan dengan berbagai panduan pengelolaan keuangan Ramadan yang dipublikasikan media internasional seperti The National, yang menekankan pentingnya menyeimbangkan kebutuhan sosial dan stabilitas finansial.
Menentukan Batas Pengeluaran Per Acara
Selain jumlah undangan, pola konsumsi saat bukber juga berpengaruh besar terhadap total pengeluaran. Tanpa kontrol, seseorang cenderung memesan makanan atau minuman di luar rencana awal. Oleh karena itu, menetapkan batas maksimal pengeluaran per acara menjadi langkah preventif yang efektif.
Mengecek daftar menu dan harga sebelum datang ke lokasi juga membantu menghindari pemborosan. Beberapa restoran bahkan menawarkan paket khusus Ramadan dengan harga lebih hemat. Media ekonomi kawasan seperti Business Today pernah menyoroti tren promosi musiman yang dapat dimanfaatkan konsumen untuk mengurangi beban biaya.
Mengimbangi dengan Penghematan di Pos Lain
Apabila jadwal bukber terbilang padat dan sulit dikurangi, strategi alternatif yang bisa dilakukan adalah menekan pengeluaran di pos lain. Mengurangi frekuensi jajan kopi, memasak sendiri untuk sahur dan berbuka di rumah, serta menahan belanja impulsif dapat menjadi solusi realistis.
Langkah ini memungkinkan alokasi dana tetap seimbang tanpa harus mengorbankan kebutuhan pokok. Dengan pendekatan tersebut, tradisi bukber tetap dapat dinikmati tanpa mengganggu perencanaan keuangan jangka pendek maupun jangka panjang.
Pentingnya Pencatatan dan Evaluasi
Terakhir, pencatatan pengeluaran menjadi aspek krusial dalam pengelolaan anggaran. Baik melalui aplikasi keuangan maupun catatan sederhana, dokumentasi setiap transaksi membantu memantau apakah realisasi pengeluaran masih sesuai rencana. Evaluasi berkala juga memudahkan penyesuaian apabila terjadi pembengkakan biaya.
Pada akhirnya, bukber merupakan bagian dari tradisi sosial yang mempererat relasi dan memperkuat nilai kebersamaan selama Ramadan. Namun tanpa pengelolaan yang cermat, kegiatan tersebut dapat berdampak pada kesehatan finansial. Melalui perencanaan matang, pemisahan anggaran, selektivitas, serta disiplin dalam pencatatan, masyarakat dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan spiritual, sosial, dan ekonomi.














