Oleh: Ustadz Akhmad Muwafik Saleh*
Manusia dicipta sebagai makhluk sosial. Kita tidak bisa hidup sendiri tanpa orang lain dan tanpa interaksi dengan sosial. Ini adalah fitrah kemanusiaan kita. Allah swt menjadikan kita sebagai makhluk sosial agar kita bisa saling kenal “li ta’arafu”, saling memahami antar sesama “tafahum”, saling bantu dan tolong-menolong “ta’awun”, saling menjaga demi kebaikan bersama “takaful”, dan saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran “tawashau”. Hal ini menjadi bagian dari peran sosial yang kita jalankan dalam kehidupan.
Pertemanan menjadi jalan pembentukan jati diri kita (the self) menjadi sosok pribadi yang utuh (persona) melalui proses saling melengkapi dan mempengaruhi. Sehingga dalam setiap diri kita akan selalu ada “orang lain” (The Others) yang mewarnai kedirian kita. Dengan siapa kita banyak berinteraksi maka seperti itu pulalah kecenderungan diri kita yang tercitrakan dalam realitas. Sebuah kaidah agung dari Rasulullah saw menyatakan,
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” (Hadis dari Abu Hurairah diriwayatkan oleh HR. Abu Daud, Tirmidzi)
Teman itu ibarat cermin yang memantulkan objek yang sama antara apa yang tampak dalam realitas dengan yang ada dalam cermin itu. Secara tidak sadar, frekuensi berpikir, gaya bicara, hingga standar moral kita akan ter-update mengikuti siapa yang paling sering berinteraksi bersama diri kita. Sehingga untuk mengetahui diri seseorang maka cukup dicermati siapa saja teman-teman dekatnya yang setiap saat berinteraksi.
Sehingga jika setiap harinya banyak berinteraksi dan berteman dengan orang yang baik, tentu akan juga menjadi baik, demikian pula sebaliknya. Rasulullah saw menegaskan,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang shalih dan orang yang jelek bagaikan berteman dengan pemilik minyak wangi dan pandai besi. Pemilik minyak wangi tidak akan merugikanmu; engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari dari Abu Musa r.a)
Namun, dalam setiap pertemanan akan pula menghadapi berbagai problematikanya masing-masing untuk menguji siapa yang tulus dan terbaik dalam menjalin pertemanan itu. Dalam menghadapi persoalan hidup, Allah swt telah membersamai kita melalui surat cinta-Nya. Bagaimana disaat kita menghadapi berbagai dinamika dalam proses pertemanan, apa jawaban Allah swt. Mari kita bedah bersama:
Pertama, disaat ada seorang teman hanya muncul ketika mereka memerlukan bantuan, namun menghilang saat kita yang sedang sulit atau saat mereka sudah merasa sukses. Ini model para opportunis. Lalu bagaimana jawaban Allah swt, “Jalinlah hubungan karena Allah”.
ٱلۡأَخِلَّاۤءُ یَوۡمَىِٕذِۭ بَعۡضُهُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ إِلَّا ٱلۡمُتَّقِینَ
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67).
Allah mengingatkan kita bahwa keterikatan yang murni hanya karena urusan dunia akan fana. Namun Allah menjanjikan bahwa hubungan yang didasari ketakwaan akan abadi.
Kedua, disaat ada teman yang mengajak pada keburukan, suka memperbincangkan keburukan orang, berbagi kebencian terhadap orang lain, atau bahkan mengajak pada kebiasaan negatif dan membuat kita jauh dari prinsip hidup. Maka ini tipe teman toxic. Lalu bagaimana jawaban Allah swt atas persoalan ini, “Jauhi dia, daripada menyesal kelak di akhirat”.
وَیَوۡمَ یَعَضُّ ٱلظَّالِمُ عَلَىٰ یَدَیۡهِ یَقُولُ یَـٰلَیۡتَنِی ٱتَّخَذۡتُ مَعَ ٱلرَّسُولِ سَبِیلࣰا . یَـٰوَیۡلَتَىٰ لَیۡتَنِی لَمۡ أَتَّخِذۡ فُلَانًا خَلِیلࣰا
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Wahai, sekiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).’” (QS. Al-Furqan: 27-28).
Ketiga, ada pula teman yang suka menghilang tiba-tiba. Tidak ada pertengkaran, tetapi komunikasi memudar karena perbedaan fase hidup (menikah, pindah kerja, atau beda hobi). Lalu apa jawaban Allah swt? “Segala sesuatu ada masanya, berharap hanya pada Allah”.
وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرۡغَب
“Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (QS. Al-Insyirah: 8).
Manusia datang dan pergi sebagai perantara ujian atau hikmah. Saat teman menjauh, itu adalah undangan dari Allah agar kita kembali lebih dekat kepada-Nya.
Keempat, disaat kita dihadapkan pada model teman yang di depan tampak manis, namun di belakang membicarakan keburukan kita. Mereka suka bisik-bisik rahasia di belakang, Tanaajun Syndrome (The Secret Plotter). Disaat kita ada di satu grup, tetapi ada “grup di dalam grup” yang isinya khusus untuk membicarakan kita atau anggota lain. Maka apa jawaban Allah swt? “Berhentilah. Sukakah kalian makan daging saudara sendiri?”
… وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا یَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًاۚ أَیُحِبُّ أَحَدُكُمۡ أَن یَأۡكُلَ لَحۡمَ أَخِیهِ مَیۡتࣰا فَكَرِهۡتُمُوهُۚ …
“…Dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik…” (QS. Al-Hujurat: 12).
Jika dikhianati, ingatlah bahwa Allah sedang menunjukkan wajah asli seseorang kepadamu sebagai bentuk perlindungan-Nya untukmu di masa depan.
Kelima, hal yang paling sering muncul dalam pertemanan yaitu munculnya iri hati secara diam-diam. Ini terjadi ketika seorang teman sulit melihat orang lain bahagia atau sukses. Mereka mungkin tidak menjatuhkan secara langsung, tetapi menunjukkan ketidaksukaan melalui sindiran atau perilaku pasif-agresif. Lalu apa jawaban Allah? “Hindari energi negatif ini”.
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
“…dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” (QS. Al-Falaq: 5).
Demikian pula jika ada teman yang suka mencari-cari kesalahan dan suka kepo meneliti aib orang lain (tajassus). Bertemanan tidak harus terbuka 100% sampai melanggar ruang pribadi. Maka Allah memberikan jawaban, “Jangan kepo”.
.. وَلَا تَجَسَّسُوا۟ …
“…Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain…” (QS. Al-Hujurat: 12).
Demikian pula disaat kita dihadapkan pada prasangka dalam pertemanan. Terkadang hubungan yang sangat baik bisa hancur hanya karena satu ucapan yang salah ditangkap atau prasangka (suuzan) yang tidak diklarifikasi. Apa jawaban Allah? “Lakukan tabayyun (klarifikasi) sebelum mengambil kesimpulan”.
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِن جَاۤءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإࣲ فَتَبَیَّنُوۤا۟ أَن تُصِیبُوا۟ قَوۡمَۢا بِجَهَـٰلَةࣲ ..
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan)…” (QS. Al-Hujurat: 6).
Ketahuilah, Islam memperkenalkan konsep suhbah (sahabat, persahabatan) dalam interaksi sosial interpersonal. Yaitu seseorang yang memiliki ikatan batin yang kuat dengan orang lain yang menjadikannya sebagai teman yang selalu hadir membersamai (kognitif, fisik, psikologis). Mereka yang selalu mendukung, saling melindungi, dan mengingatkan atas ketakwaan dan kesabaran.
Itulah yang diperlihatkan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya sehingga Islam berkembang dengan sangat baik hanya dalam waktu yang sangat singkat, yaitu 23 tahun pada masa Nabi hingga hari ini.
Persahabatan yang dibangun di atas landasan dunia akan hancur saat dunia itu musnah. Namun persahabatan yang dibangun karena Allah tidak akan pernah mengenal kata perpisahan, karena doa adalah jembatan yang menyatukan dua ruh, meski raga tak lagi berada di bumi yang sama.
Karena pada akhirnya, sahabat sejati bukanlah dia yang hanya menemani kita tertawa di dunia, melainkan dia yang sibuk mencari sahabatnya di surga dan bertanya kepada Allah, “Yaa Rabb, di manakah sahabatku yang dulu beribadah bersamaku?”
Maka carilah sahabat yang mampu menggandeng tanganmu menyeberangi jembatan yang sama menuju ridha-Nya.
*) Dr. Akhmad Muwafik Saleh, S.Sos., M.Si
Penulis adalah Ketua Pusat Pengembangan Kepribadian Universitas Brawijaya, Pengasuh Asrama Karakter Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Malang














