Kanal24, Malang – Konsep agroforestri menjadi sorotan dalam International Guest Lecture Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB), dengan penekanan pada kompleksitas interaksi antara pohon, tanah, dan tanaman dalam sistem pertanian berkelanjutan. Materi yang disampaikan menegaskan pentingnya pendekatan lintas disiplin dalam memahami sistem yang dinamis tersebut.
“Agroforestri itu sangat beragam. Ada banyak kombinasi pohon, tanaman, tanah, dan cara pengelolaan, sehingga sulit dipahami hanya melalui eksperimen langsung,” ujar Prof. Meine van Noordwijk.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan International Guest Lecture FP UB yang dilaksanakan pada Rabu (01/04/2026), di Aula Gedung Central 1.1 Lantai 1 Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, yang diselenggarakan oleh Fakultas Pertanian UB.
Baca juga:
Dari Apel Segar ke Produk Digital, UB Bantu Petani Tutur Naik Nilai Ekonomi
Model Jadi Kunci Eksplorasi Sistem
Dalam pemaparannya, Prof. Meine menekankan pentingnya penggunaan model sebagai alat untuk memahami sistem agroforestri. Menurutnya, model memungkinkan peneliti melakukan eksperimen secara digital dengan berbagai variabel yang sulit diuji secara langsung.
Melalui model, peneliti dapat mengeksplorasi kemungkinan penerapan suatu sistem di berbagai kondisi lingkungan. Hal ini menjadi solusi atas keterbatasan eksperimen konvensional yang membutuhkan waktu dan sumber daya besar.
Tantangan Besar: Kompleksitas Variabel
Ia juga menyoroti tantangan utama dalam agroforestri, yakni banyaknya kemungkinan kombinasi yang dapat terjadi. Setiap disiplin ilmu memiliki kompleksitas tersendiri, mulai dari keanekaragaman spesies pohon hingga variasi jenis tanah.
Kondisi ini membuat peneliti harus mampu menyederhanakan kompleksitas tanpa menghilangkan esensi utama. Pemilihan fokus penelitian menjadi langkah penting dalam menghasilkan pemahaman yang dapat diterapkan secara luas.
Integrasi Pertanian dan Kehutanan
Lebih jauh, Prof. Meine menegaskan bahwa pertanian dan kehutanan tidak dapat dipisahkan. Agroforestri hadir sebagai jembatan yang mengintegrasikan kedua sektor tersebut dalam satu sistem yang berkelanjutan.
Menurutnya, keberlanjutan pertanian sangat bergantung pada keberlanjutan kehutanan. Oleh karena itu, pendekatan terintegrasi menjadi kunci dalam menjawab tantangan global di sektor pangan dan lingkungan.
Mahasiswa Dituntut Jadi Generalis
Dalam pesannya kepada mahasiswa, Prof. Meine mendorong agar mereka tidak hanya menjadi spesialis di satu bidang, tetapi juga mampu memahami berbagai disiplin ilmu secara menyeluruh.
Ia menekankan pentingnya kemampuan untuk melihat gambaran besar serta berkomunikasi lintas bidang. Dengan demikian, mahasiswa dapat berperan aktif dalam mengembangkan solusi pertanian berkelanjutan di masa depan.
Melalui pemahaman yang komprehensif dan terbuka terhadap berbagai perspektif, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam sistem pertanian yang semakin kompleks dan dinamis. (nid/cay)














