Kanal24, Malang – Data kesehatan dunia sebenarnya sudah terbuka luas lewat platform seperti Global Burden of Disease (GBD). Tapi di lapangan, belum banyak peneliti dan mahasiswa yang tahu cara masuk dan terlibat di dalamnya. Aksesnya ada, peluangnya besar, tapi jembatannya belum banyak dipahami.
Padahal, lewat GBD, peneliti bisa ikut dalam riset global, bahkan terlibat dalam publikasi internasional. Tantangannya bukan pada sistem, melainkan pada kesiapan individu—mulai dari informasi, jejaring, hingga kemampuan dasar seperti bahasa. Kondisi ini yang mendorong Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) menghadirkan ruang diskusi untuk membuka akses dan memperkenalkan peluang kolaborasi riset global bersama BRIN.
Inisiasi ini dilakukan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) dengan menggelar Kuliah Umum bertajuk From Global Burden of Disease (GBD) to Impact: Kolaborasi Akademik UB – BRIN di Auditorium Lt.10 GPB FK UB, Rabu (29/4/2026). Kegiatan ini membuka wawasan civitas akademika terkait peluang riset global yang bisa diakses secara terbuka oleh peneliti Indonesia.
Baca Juga :
UB Dorong Sekolah Tangguh Lewat Simulasi Gempa
Narasumber Dr. Wahyu Pudji Nugraheni, SKM., M.Kes. dari BRIN yang juga Kepala Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi menjelaskan bahwa mekanisme untuk menjadi kolaborator GBD tidak melalui lembaga nasional.
“GBD itu tidak melalui BRIN, Mas. Jadi Global Burden of Disease itu jalurnya kalau ingin terlibat di dalam atau menjadi kolaborator tinggal kita masuk ke website-nya IHME ya, Institute of Health Metrics and Evaluation,” ujarnya.
Ia memaparkan bahwa pendaftaran dilakukan langsung melalui laman IHME dengan mengisi sejumlah formulir. “Di sana sudah ada website-nya, masuk ke sana. Kita kolaborator daftar saja di sana, nanti ada beberapa form yang harus dijawab sehingga nanti setelah menjadi kolaborator, sudah daftar, biasanya selisih sekitar 2 minggu kita akan mendapat notifikasi dari sekretariat GBD internasional bahwa kita diterima sebagai anggota kolaborator GBD,” jelasnya.
Setelah resmi terdaftar, kolaborator akan mendapatkan akses ke berbagai peluang publikasi internasional. “Setelah itu kita akan menerima newsletter secara rutin dari GBD sekretariat. Kalau sudah menerima newsletter itu kita biasanya ditawarkan, misalnya riset atau manuskrip atau jurnal tentang topik tertentu, misalnya merokok. Kalau minat kita di sana, kita diberikan kesempatan untuk menjadi co-author dari paper itu dan sebagainya. Banyak sekali benefit yang bisa kita peroleh ketika kita menjadi kolaborator GBD,” tambahnya.
Terkait tantangan, ia menegaskan tidak ada hambatan besar selain kemampuan bahasa Inggris. “GBD ini sebenarnya tidak ada hambatan berarti, cuma harus skill bahasa Inggris. Karena semua info yang kita terima itu dalam bahasa Inggris,” ungkapnya. Menurutnya, kemampuan bahasa Inggris menjadi kunci agar peneliti dapat mengikuti perkembangan dan peluang riset global dengan baik.
Ia juga menegaskan bahwa program ini terbuka untuk semua kalangan tanpa syarat khusus. “Untuk jadi GBD kolaborator itu tidak ada syarat khusus, semua periset bebas kok. Mahasiswa juga boleh, tidak harus bekerja dulu. Semua pegawai, mahasiswa boleh asalkan dia minat dengan GBD itu, tidak ada syarat-syarat khusus,” tegasnya. Ia berharap melalui kuliah umum ini, mahasiswa dan peneliti di FK UB semakin terbuka terhadap peluang riset internasional serta memanfaatkan berbagai skema pendanaan dan karir riset yang tersedia secara kompetitif dan terbuka. (ger/din)













