Kanal24, Malang – Film Lee Cronin’s The Mummy menjadi salah satu film horor yang paling banyak dibicarakan sepanjang 2026. Sejak diumumkan pertama kali, film ini sudah menarik perhatian karena membawa nama besar sutradara Lee Cronin, yang sebelumnya sukses lewat Evil Dead Rise. Banyak penonton awalnya mengira film ini akan mengikuti formula klasik The Mummy seperti versi Brendan Fraser yang penuh petualangan dan aksi. Namun, kenyataannya justru jauh berbeda.
Versi terbaru ini tampil lebih gelap, brutal, dan dipenuhi elemen body horror yang intens. Alih-alih menghadirkan petualangan ringan, Lee Cronin membawa kisah mumi ke arah yang lebih menyeramkan dan disturbing. Film ini bahkan disebut lebih dekat dengan nuansa The Exorcist dibanding film The Mummy klasik yang dikenal publik.
Baca juga:
Dilan ITB 1997: Peran Ariel NOAH Sebagai Dilan Tuai Pro dan Kontra
Cerita film berfokus pada sebuah keluarga yang kehilangan anak perempuan mereka saat berada di Mesir. Delapan tahun kemudian, sang anak tiba-tiba ditemukan dalam kondisi misterius di dalam sarkofagus. Bukannya menjadi reuni yang membahagiakan, kehadiran sang anak justru memicu teror mengerikan bagi keluarganya. Sosok Katie perlahan berubah menjadi ancaman supernatural yang penuh misteri dan kekerasan.
Premis inilah yang membuat film terasa berbeda dari kebanyakan reboot monster klasik Hollywood. Lee Cronin mencoba membangun kisah horor keluarga dengan sentuhan supranatural dan gore ekstrem yang membuat penonton merasa tidak nyaman sepanjang film berlangsung.
Horor Body Gore Jadi Kekuatan Utama Film

Salah satu hal yang paling menonjol dari Lee Cronin’s The Mummy adalah penggunaan elemen body horror yang sangat intens. Film ini dipenuhi adegan berdarah, deformasi tubuh, hingga visual menyeramkan yang sengaja dibuat untuk memancing rasa ngilu penonton. Banyak kritikus menyebut film ini lebih menyerupai perpaduan antara Evil Dead dan The Exorcist daripada film mumi tradisional.
Lee Cronin tampaknya memang sengaja meninggalkan formula klasik tentang mumi yang bangkit dari kubur dan mengejar manusia. Sebagai gantinya, ia menciptakan teror psikologis lewat sosok anak kecil yang berubah menjadi ancaman supernatural. Pendekatan ini membuat suasana film terasa lebih personal sekaligus mengganggu secara emosional.
Visual efek praktikal dan makeup menjadi salah satu aspek yang banyak dipuji. Beberapa adegan gore bahkan disebut terlalu ekstrem bagi sebagian penonton. Tidak sedikit penonton yang merasa film ini terlalu brutal, tetapi di sisi lain justru itulah daya tarik utamanya bagi penggemar horor hardcore.
Meski begitu, tidak semua kritik bernada positif. Beberapa ulasan menyebut film ini terlalu fokus pada gore hingga mengorbankan kedalaman cerita dan karakter. Durasi yang cukup panjang juga dianggap membuat ritme film terasa melelahkan.
Namun bagi pecinta horor modern yang menyukai atmosfer brutal dan disturbing, film ini tetap dianggap menawarkan pengalaman menonton yang unik dan berbeda.
Reaksi Penonton Terbelah, Tapi Tetap Viral
Sejak penayangannya, Lee Cronin’s The Mummy langsung memicu perdebatan besar di kalangan penonton dan kritikus film. Sebagian menganggap film ini sebagai penyegaran berani untuk franchise monster klasik, sementara sebagian lain merasa konsepnya terlalu jauh dari identitas The Mummy yang dikenal selama ini.
Di media sosial dan forum diskusi seperti Reddit, banyak penonton mengaku terkejut dengan tingkat kekerasan dan atmosfer mencekam film ini. Ada yang memuji keberanian Lee Cronin dalam mengubah genre The Mummy menjadi horor yang benar-benar menyeramkan. Namun, ada juga yang kecewa karena merasa film terlalu mengandalkan shock value dibanding cerita yang kuat.
Meski mendapat respons campuran, satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah film ini berhasil menjadi bahan pembicaraan besar di komunitas pecinta horor. Banyak penonton penasaran karena film ini dianggap berbeda dari reboot horor mainstream lainnya.
Popularitas Lee Cronin setelah sukses lewat Evil Dead Rise juga ikut membantu menaikkan antusiasme publik. Banyak penggemar horor penasaran bagaimana gaya brutal Cronin diterapkan pada monster klasik seperti mumi. Hasilnya memang tidak memuaskan semua orang, tetapi cukup berhasil menciptakan identitas baru untuk franchise tersebut.
Film Horor yang Berani Keluar dari Formula Lama
Keberanian terbesar Lee Cronin’s The Mummy adalah keputusannya untuk keluar dari formula lama. Film ini tidak mencoba menjadi petualangan aksi seperti versi 1999, melainkan memilih jalur horor murni yang gelap dan penuh rasa tidak nyaman.
Pendekatan tersebut mungkin terasa berisiko karena bisa mengecewakan penonton lama yang mengharapkan nuansa nostalgia. Namun di sisi lain, langkah ini membuat film terasa lebih segar dibanding reboot yang hanya mengulang formula lama.
Lee Cronin berhasil menghadirkan interpretasi baru tentang sosok mumi modern: bukan sekadar mayat hidup berbalut perban, tetapi simbol trauma, kehilangan, dan teror keluarga yang lebih emosional.
Pada akhirnya, Lee Cronin’s The Mummy mungkin bukan film horor yang sempurna. Namun, keberaniannya bereksperimen membuat film ini tetap menarik untuk dibicarakan dan menjadi salah satu rilisan horor paling mencolok tahun ini. (cay)













