Kanal24, Malang – Banyak mahasiswa arsitektur membayangkan dunia desain sebagai ruang penuh kreativitas dan kebebasan berekspresi. Namun ketika masuk ke dunia profesional, mereka akan berhadapan dengan hal-hal yang jauh lebih rumit: revisi tanpa henti, tuntutan klien, kompromi desain, hingga tekanan untuk tetap kreatif di tengah perkembangan artificial intelligence (AI).
Di dunia kerja, desain yang dianggap menarik belum tentu langsung diterima. Ide besar sering berubah di tengah jalan karena kebutuhan pengguna, biaya pembangunan, hingga keinginan klien yang berbeda dengan idealisme arsitek.
Hal itulah yang dibagikan Design Director Urbane Indonesia, Achmad D. Tardiyana, saat hadir dalam kuliah tamu dan review desain di Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB), Selasa (19/5/2026).
Dalam sesi tersebut, Achmad membahas pentingnya konsep dan pendekatan desain dalam proses arsitektur profesional, sekaligus membagikan pengalaman proyek-proyek yang dikerjakan Urbane Indonesia.
Baca juga : Pameran Ananta Samvada Tegaskan Eksistensi Arsitektur UB
Menurutnya, tantangan terbesar seorang arsitek justru bukan menggambar bangunan, melainkan bagaimana mampu berdialog dengan banyak kepentingan tanpa kehilangan kualitas desain.
“Arsitek itu harus selalu berdialog,” ujarnya.
Ia menjelaskan seorang arsitek harus mampu menjaga idealisme desain sekaligus memahami kebutuhan pihak lain yang terlibat dalam proyek.
“Tidak bisa seorang arsitek memaksakan keinginannya dan mengorbankan pihak klien,” katanya.

Dunia Arsitektur Tidak Selalu Ideal
Kuliah tamu tersebut menjadi bagian dari upaya FT UB mendekatkan mahasiswa dengan realitas dunia profesional.
Dosen Departemen Arsitektur FT UB, Herry Santosa, mengatakan kampus secara rutin menghadirkan praktisi dari biro arsitektur besar agar mahasiswa memahami bagaimana dunia kerja sebenarnya berjalan.
Menurut Herry, mahasiswa membutuhkan jembatan antara teori yang dipelajari di studio kampus dengan praktik profesional di lapangan.
“Ini membantu menjembatani adik-adik mahasiswa dari ilmu-ilmu teoritik yang ada di kampus kemudian dijembatani pada ilmu-ilmu praksis yang ada di lapangan,” ujarnya.
Ia menilai kehadiran Urbane Indonesia penting karena biro tersebut memiliki banyak pengalaman dalam proyek bangunan komersial dan publik yang relevan dengan mata kuliah mahasiswa.
Namun bagi Herry, tujuan terbesar kegiatan seperti ini bukan hanya memperlihatkan proyek besar, melainkan membangun mental mahasiswa menghadapi proses kreatif yang panjang dan melelahkan.
“Harapannya mereka bisa open minded, keep fighting, dan terus struggle mengembangkan desainnya sehingga tidak mudah putus asa,” katanya.
AI Bisa Membantu, Tapi Tidak Bisa Menggantikan Cara Berpikir
Perkembangan AI juga menjadi salah satu isu yang dibahas dalam kuliah tamu tersebut.
Di tengah semakin banyaknya teknologi desain berbasis AI, Achmad menilai kemampuan berpikir kritis tetap menjadi hal yang tidak bisa digantikan mesin.
“AI memerlukan kita sebagai arsitek memberikan input,” ujarnya.
Menurutnya, AI justru akan menjadi alat bantu baru yang membutuhkan dialog aktif antara teknologi dan kreativitas manusia.
Karena itu, mahasiswa arsitektur dinilai perlu memiliki pola pikir terbuka agar mampu beradaptasi dengan perubahan dunia kerja yang terus bergerak cepat.
“Seorang arsitek harus berpikir kreatif sehingga dia harus selalu membuka diri kepada berbagai pandangan dan situasi,” katanya.
Achmad juga mengingatkan bahwa dunia kreatif membutuhkan daya tahan mental yang kuat.
“Dunia kreatif itu harus selalu tahan banting karena menuntut banyak dari proses kreatif itu,” ujarnya.

Saat Mahasiswa Mulai Mencari Identitas Desainnya
Kuliah tamu dan review desain tersebut juga menjadi ruang evaluasi bagi mahasiswa yang sedang mengembangkan proyek studio mereka.
Mahasiswi Desain Arsitektur FT UB, Ni Putu Aussy Agettis Jarmen, mengaku tantangan terbesar dalam proses desain justru muncul saat mencari konsep utama bangunan.
Dalam proyeknya, Aussy merancang youth center dengan konsep “ibu” sebagai simbol ruang aman bagi anak muda untuk bertumbuh.
“Saya menganalogikan ibu sebagai tempat aman untuk pulang dan bertumbuh dengan baik,” ujarnya.
Namun proses menemukan konsep tersebut tidak berjalan mudah. Ia harus melalui banyak revisi dan eksplorasi untuk mencari identitas desain yang berbeda dari mahasiswa lain.
“Untuk membuat karya kita berbeda dengan teman-teman yang lain, kita harus memiliki identitas,” katanya.
Dari sesi review bersama praktisi, Aussy mengaku mulai memahami bahwa desain arsitektur harus berangkat dari kebutuhan pengguna sebelum masuk ke pendekatan filosofis yang lebih jauh.
“Kalau membuat bangunan harus mementingkan user-nya dulu baru pendekatan yang lain,” ujarnya.
Di ruang-ruang studio kampus, proses seperti ini mungkin terlihat sederhana: menggambar, merevisi, lalu mempresentasikan desain. Namun bagi mahasiswa arsitektur, di situlah mereka mulai belajar bahwa dunia desain tidak selalu tentang bangunan indah, tetapi tentang bagaimana sebuah ide mampu bertahan ketika bertemu realitas.(Din/Ger)














