Kanal24, Malang – Dalam situasi darurat, keselamatan tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan, tetapi juga kemampuan mengingat dan menerapkan prosedur yang benar dalam hitungan detik. Karena itu, penyegaran materi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi langkah penting agar kemampuan tersebut tidak memudar seiring waktu.
Komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui Pelatihan K3L dan Tanggap Darurat bagi Tenaga Kependidikan Batch 2 di Gedung Samantha Krida, Rabu (1/7/2026). Sebanyak 100 tenaga kependidikan yang terdiri atas petugas keamanan, petugas kebersihan, dan petugas taman mengikuti pembekalan teori hingga praktik sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya zero accident di Universitas Brawijaya.
Baca Juga:
Bukan Dosen atau Dokter, 100 Orang Ini Jadi Garda Terdepan Keselamatan di UB
Pengulangan Jadi Cara Membangun Budaya Keselamatan
Ketua Divisi K3L UB, Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, S.T., M.Kes., mengatakan pelatihan ini memang dirancang sebagai program berkelanjutan yang terbagi dalam tiga batch. Seluruh peserta menerima materi yang sama karena tujuan utamanya bukan sekadar menambah pengetahuan baru, melainkan memastikan kemampuan yang sudah dimiliki tetap terjaga.

“Tujuan utamanya adalah menciptakan kampus yang aman, nyaman, bahagia, serta mewujudkan zero accident. Budaya ini tidak cukup dilakukan sekali atau dua kali, tetapi harus terus diulang hingga menjadi kebiasaan,” ujarnya.
Menurut Qomariyatus, keberhasilan penerapan K3 tidak hanya diukur dari banyaknya pelatihan yang diselenggarakan, tetapi dari perubahan perilaku seluruh warga kampus. Karena itu, pembiasaan melalui pelatihan rutin menjadi salah satu strategi penting untuk membangun budaya keselamatan yang berkelanjutan.
Selain materi dasar K3, peserta juga mengikuti workshop manajemen risiko kesehatan mental sebagai bagian dari upaya membangun lingkungan kerja yang sehat, aman, dan produktif.
Simulasi Darurat untuk Menjaga Kesiapsiagaan
Sebagai bagian dari penyegaran kemampuan, peserta mengikuti berbagai simulasi bersama Damkar Kota Malang. Mereka mempraktikkan penggunaan alat pemadam api ringan (APAR), pemadaman api menggunakan karung goni, simulasi penanganan kebakaran dengan mobil pemadam, hingga teknik dasar evakuasi ular yang berpotensi ditemukan di kawasan ruang terbuka hijau kampus.
Pelatihan juga dilengkapi praktik pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) menggunakan manekin. Melalui simulasi tersebut, peserta dilatih memberikan penanganan awal kepada korban sebelum bantuan tenaga medis datang sehingga mampu meminimalkan risiko saat kondisi darurat terjadi.

Perwakilan Damkar Kota Malang, Pandu Novan A., mengatakan pelatihan semacam ini memiliki peran penting karena kemampuan menghadapi kondisi darurat dapat berkurang jika tidak terus diasah.
“Pelatihan ini penting karena bagi peserta yang sebelumnya sudah pernah mengikuti kegiatan serupa, ini menjadi sarana penyegaran kembali agar pengetahuan yang dimiliki tidak terlupakan. Sedangkan bagi peserta yang baru pertama kali mengikuti pelatihan, kegiatan ini menjadi bekal ilmu baru yang nantinya dapat diterapkan di lingkungan sekitar masing-masing,” katanya.
Pengetahuan Harus Terus Diasah agar Tidak Terlupakan
Hal serupa dirasakan Koordinator Keamanan dan Ketertiban UB, Ahmad Jauludin. Menurutnya, pelatihan K3 menjadi bekal penting bagi petugas keamanan yang kerap menjadi pihak pertama saat menghadapi berbagai situasi darurat di lingkungan kampus.

“Menurut saya, mengikuti kegiatan K3L ini sangat penting karena berhubungan dengan keamanan dan keselamatan kerja. Kami sebagai satpam merupakan ujung tombak, sehingga harus menguasai pengetahuan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja,” ujarnya.
Ia mengakui sebagian materi yang diberikan bukan hal baru. Namun justru pengulangan itulah yang membuat pengetahuan tetap melekat dan siap diterapkan ketika dibutuhkan.
“Sebenarnya materinya hampir sama seperti sebelumnya, tetapi memang harus terus diulang agar tidak lupa. Karena apa pun yang tidak pernah kita ulang, lama-kelamaan akan lupa. Menurut saya kegiatan ini sangat bermanfaat,” katanya.
Sebagai bagian dari evaluasi, seluruh peserta mengikuti pre-test sebelum pelatihan dan post-test setelah seluruh rangkaian materi selesai. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar bagi Divisi K3L UB untuk memetakan efektivitas pelatihan sekaligus menyusun penguatan program pada tahun mendatang, sehingga budaya keselamatan di lingkungan Universitas Brawijaya terus terjaga dan berkembang. (wan)














