Kanal24, Malang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut Malang Raya tengah memasuki puncak fenomena bediding yang diperkirakan berlangsung sepanjang Juli. Kondisi ini menyebabkan suhu udara pada malam hingga pagi hari terasa lebih dingin dibanding biasanya, sehingga masyarakat diimbau menjaga kesehatan dan mewaspadai perubahan suhu selama musim kemarau.
Dalam beberapa pekan terakhir, udara dingin mulai menjadi bagian dari keseharian warga Malang Raya. Banyak masyarakat mengenakan jaket lebih tebal atau memilih menikmati minuman hangat sebelum memulai aktivitas akibat suhu yang terus menurun pada malam hingga pagi hari.
Baca Juga:
Matcha Bukan Sekadar Tren, Ini Manfaatnya untuk Tubuh dan Berat Badan
BMKG: Musim Kemarau Picu Fenomena Bediding
Fenomena bediding terjadi akibat kombinasi beberapa faktor meteorologis. Saat musim kemarau, langit cenderung cerah sehingga panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih cepat dilepaskan ke atmosfer ketika malam tiba. Akibatnya, suhu udara turun lebih signifikan dibandingkan saat musim hujan.

Kondisi tersebut diperkuat oleh angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan dingin ke wilayah Indonesia, termasuk Jawa Timur. Sementara itu, letak geografis Malang yang berada di dataran tinggi membuat udara dingin terasa lebih kuat dibandingkan sejumlah daerah lain.
BMKG memperkirakan fenomena bediding masih berpotensi berlangsung hingga Agustus bahkan September seiring berlanjutnya musim kemarau.
Bediding Tingkatkan Risiko Flu dan ISPA
Perbedaan suhu yang cukup jauh antara siang dan malam berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Pada siang hari, suhu udara di Kota Malang masih dapat mencapai kisaran 28–30 derajat Celsius, sedangkan pada malam hingga dini hari dapat turun hingga belasan derajat Celsius.
Perubahan suhu tersebut meningkatkan risiko gangguan kesehatan, seperti flu, batuk, hingga infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan daya tahan tubuh yang rendah.
Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat mengenakan pakaian hangat saat beraktivitas pada malam maupun pagi hari. Selain itu, pola hidup sehat juga perlu diterapkan dengan mengonsumsi makanan bergizi, mencukupi kebutuhan cairan, beristirahat yang cukup, serta rutin berolahraga agar daya tahan tubuh tetap terjaga.
Bagi masyarakat yang beraktivitas sejak dini hari, seperti pedagang, petugas kebersihan, pengemudi, maupun pekerja lapangan lainnya, penggunaan jaket atau pelindung tubuh menjadi langkah sederhana untuk mengurangi dampak paparan udara dingin.
Masyarakat Diminta Rutin Pantau Informasi Cuaca
Di tengah puncak fenomena bediding, BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap memantau perkembangan informasi cuaca secara berkala. Meski cuaca cerah mendominasi selama musim kemarau, perubahan kondisi atmosfer lokal masih dapat terjadi sewaktu-waktu sehingga kewaspadaan tetap diperlukan.
Masyarakat juga diimbau tidak mengabaikan perubahan suhu yang terjadi selama musim kemarau. Dengan menjaga pola hidup sehat, mengenakan pakaian hangat saat beraktivitas pada pagi dan malam hari, serta memperhatikan kondisi tubuh, risiko gangguan kesehatan akibat cuaca dingin dapat diminimalkan.
BMKG memperkirakan fenomena bediding masih akan berlangsung selama musim kemarau. Karena itu, masyarakat diharapkan terus mengikuti informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG sebagai langkah antisipasi sekaligus menjaga kesehatan selama suhu udara dingin masih mendominasi di Malang Raya. (gal)














